KUDUS, Suara Muhammadiyah – Kondisi global saat ini dihadapkan pada kondisi yang amat pelik. Perang sengit antara Iran melawan Amerika-Israel di akhir bulan Februari 2026 yang lalu memunculkan masalah global yang baru.
“Sekitar 20 persen konsumsi minyak mentah dunia melewati Selat Hormuz. Jika terganggu, maka dampaknya akan sangat luas, mulai dari kenaikan harga energi hingga terganggunya industri,” beber Salmah Orbayinah, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah.
Ditambah lagi, pertumbuhan PDB diperkirakan menurun sekitar 4,88%, inflasi CPI (Consumer Price Index) / kenaikan harga yang dibayar konsumen meningkat 3.16% dan Rupiah diperkirakan dikisaran angka 16,830 Rupiah Rp/USD (per United States Dollar).
“Jika terus berlanjut maka yang kita khawatirkan saat ini adalah semakin susahnya lapangan pekerjaan, nilai tukar mata uang naik, kebutuhan bahan baku impor mahal, harga-harga semakin naik,” terangnya, saat Silaturahim Syawalan ‘Aisyiyah Group (RS ‘Aisyiyah Kudus dan RS Sarkies ‘Aisyiyah Kudus), pada Sabtu (4/4).
Salmah juga menyoroti fenomena sosial yang muncul di tengah ketidakpastian, seperti panic buying hatta menyeruaknya isu kenaikan harga BBM pada akhir Maret 2026. Hal tersebut dipicu oleh kecemasan masyarakat yang bersifat antisipatif serta fenomena herd mentality, di mana perilaku individu dipengaruhi oleh reaksi orang lain.
Kondisi ini berimplikasi pada munculnya tren VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous), sebuah situasi kacau yang ditandai dengan dinamika yang bergejolak, tidak pasti, rumit, dan ambigu."
“Namun sekarang, berkembang lagi istilah yang dinamakan oleh seorang futuris dan peneliti scenario global, Jamais Carcio sebagai BANI; Brittle (rapuh), Anxious (cemas), Nonlinear (tidak linear), Incomprehensible (sulit dipahami),” jelas Salmah.
Mengutip buku Deliberate Calm: How to Learn and Lead in a Volatile World, Salmah menjelaskan tiga kemampuan utama yang perlu dimiliki, yakni dual awareness (kesadaran ganda antara kondisi eksternal dan internal), intentional choice (kemampuan memilih respon secara sadar), serta learning mindset (mentalitas belajar dalam menghadapi ketidakpastian).
Dalam perspektif keimanan, Salmah mengingatkan bahwa setiap ujian kehidupan merupakan bagian dari ketentuan Allah SwT, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 155 tentang ujian berupa ketakutan, kelaparan, dan kekurangan.
“Dan dengan sebuah musibah atau bencana kita diminta untuk mempersiapkan kemungkinan apapun yang terjadi dengan perbekalan dan mitigasi resiko untuk mempertahankan kehidupan kita yang baik,” urainya.
Lebih jauh, Salmah mengajak seluruh kader untuk tetap bersatu, menjaga ukhuwah, dan menghindari perpecahan sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an. Ia juga mengingatkan pentingnya kesabaran dan ketaatan dalam menghadapi berbagai tantangan.
"Bagi kita kader Persyarikatan, usaha, dan kerja kita ini diharapkan mampu memberikan kemaslahatan dan kemakmuran bagi warga di wilayah Kudus dan sekitarnya, misalnya membuat program berderma dengan menggratiskan layanan setiap hari jum’at,” tandasnya. (Cris)
