MBG dan Kaidah Usul Fikih: Dar'ul Mafasid Muqaddamun 'Ala Jalbil Mashalih

Suara Muhammadiyah

2 May 2026

1592
Deni Asy’ari, MA., Dt Marajo. Foto: Cris

Deni Asy’ari, MA., Dt Marajo. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Deni Asy'ari, Direktur Utama PT SCM/Suara Muhammadiyah menyoroti kondisi ekonomi global yang dinilainya sedang tidak baik-baik saja. Hal itu ia sampaikan dalam rapat rutin awal bulan Suara Muhammadiyah pada Sabtu (2/5).

Menurutnya, salah satu pemicu kondisi tersebut adalah konflik geopolitik, termasuk perang antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran. Dampaknya, harga berbagai komoditas mengalami kenaikan secara signifikan di banyak negara.

“Ekonomi dunia sedang tidak baik-baik saja. Konflik global berdampak langsung pada kenaikan harga bahan, dan itu kita rasakan bersama,” ujar Deni.

Ia menjelaskan, Indonesia tidak luput dari dampak tersebut. Kenaikan harga bahan baku seperti plastik dan kertas turut memengaruhi sektor industri dan menekan daya beli masyarakat. Kondisi ini pada akhirnya berimbas pada penurunan omzet di berbagai perusahaan, termasuk Suara Muhammadiyah.

Deni menambahkan, dalam situasi seperti ini, langkah efisiensi menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Ia mendorong adanya penghematan anggaran serta pengelolaan fasilitas kantor secara lebih bijak, seperti mengurangi penggunaan listrik dan air serta membiasakan gaya hidup hemat energi.

“Efisiensi itu bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Kita harus mulai dari hal-hal sederhana,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Deni juga mengkritisi kebijakan pemerintah terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, meskipun program tersebut memiliki tujuan baik, pelaksanaannya perlu mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional saat ini.

Ia menilai, pengurangan pelaksanaan MBG menjadi empat hari dalam sepekan menunjukkan bahwa pemerintah mulai menyadari pentingnya efisiensi. Namun, ia mempertanyakan apakah manfaat program tersebut sudah sebanding dengan beban yang ditanggung negara.

“MBG itu baik, tapi kita harus jujur bertanya: apakah manfaatnya saat ini benar-benar sebanding dengan prioritas bangsa?” ujarnya.

Deni menegaskan, dalam situasi yang serba terbatas, pengambilan kebijakan seharusnya berlandaskan prinsip kehati-hatian. Ia merujuk pada kaidah Dar'ul Mafasid Muqaddamun 'Ala Jalbil Mashalih yang berarti menolak kerusakan atau kemudaratan lebih diutamakan daripada mengambil manfaat.

Kaidah tersebut, lanjutnya, pernah menjadi rujukan penting bagi Muhammadiyah pada masa pandemi COVID-19. Saat itu, berbagai aktivitas ibadah berjamaah dibatasi demi mencegah penyebaran virus.

"Jika memang tidak mengganggu aspek prioritas bangsa, mungkin tidak jadi soal, tapi kalau ini mengangggu di tengah langkah efesiensi dan krisis bangsa, mungkin kaidah ushul ini bisa menjadi pertimbangan,” terang Deni

“Dulu kita berani mengambil keputusan besar demi mencegah mudarat. Prinsip itu mestinya juga relevan dalam melihat kebijakan hari ini,” pungkasnya. (gsh).


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Muhammadiyah Jakarta (....

Suara Muhammadiyah

13 December 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikd....

Suara Muhammadiyah

16 September 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pada 19 Mei 2026, 'Aisyiyah akan memperingati Milad ke-109 de....

Suara Muhammadiyah

25 April 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) mendukun....

Suara Muhammadiyah

1 August 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) kembali mencatatkan prestas....

Suara Muhammadiyah

28 July 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah