Media Sosial Ciptakan Realitas Semu dan Memfragmentasi Kebenaran

Suara Muhammadiyah

17 April 2026

406
Dr Apt Hj Salmah Orbayinah, MKes. Foto: Cris

Dr Apt Hj Salmah Orbayinah, MKes. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sebagai organisasi pergerakan perempuan Muhammadiyah, ‘Aisyiyah sudah berdiri sampai 109 tahun. Bagi Salmah Orbayinah, ‘Aisyiyah menghadapi tantangan tidak sederhana, tetapi sangat kompleks.

“Saya kira membutuhkan energi dan kolaborasi kita semuanya untuk terus menghadapi tantangan itu sehingga program-program kita itu bisa terlaksana dengan baik,” beber Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah itu.

Tantangan itu mengerucut pada aspek media sosial. Jelas tidak dinafikan, media sosial saat ini benar-benar kian mendominasi ruang interaksi, membentuk cara pandang, bahkan memengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat secara luas.

“Media sosial sekarang bersifat relativisme dan fragmentasi kebenaran. Maksudnya saat ini setiap orang itu bisa menjadi sumber kebenaran,” ujarnya, Jumat (17/4) saat Silaturahmi Idul Fitri 1447 H di Kantor PP ‘Aisyiyah Yogyakarta.

Di sinilah kembimbangan terjadi. Sebab, tidak ada otoritas tunggal yang bisa menentukan benar atau salah di media sosial itu. Apa akibatnya? Jelas kebenaran itu menjadi terfragmentasi.

“Banyak tafsir dan sering kali juga bersaing antara kebenaran yang satu dengan yang kedua. Ini menjadikan kita menjadi terdistraksi, artinya ini benar atau tidak,” sebutnya.

Dari sudut pandang Jean Baudrillard, media sosial di era post-modernism bersifat simulacra. Tampilan yang ditampilkan seolah nyata tetapi sejatinya sarat dengan rekayasa.

“Media sosial itu menciptakan realitas semu. Jadi kita sering mungkin berinteraksi bukan dengan realitas yang sebenarnya,” tegas Salmah.

Bahkan, dengan gamblang, Salmah menyebut enomena ini disebut sebagai hiperrealitas. Yaitu ketika batas antara yang nyata dan palsu itu menjadi kabur. Dalam era postmodern, konsep identitas manusia kini cenderung bersifat cair dan tidak tetap.

Fenomena ini tercermin jelas pada pola perilaku pengguna media sosial, di mana individu secara sadar membangun persona yang berbeda sesuai platformnya.

“Artinya apa? Dalam dunia postmodern, identitas tidak tetap,” bongkarnya. Dengan maksud, seseorang bisa menampilkan diri berbeda-beda di setiap platform.

“Ini kan agak ngeri juga ya. Nah, kemudian identitas ini akan menjadi produk estetika dan performa, bukan lagi refleksi diri yang sebenarnya,” imbuh Salmah.

Di era postmodern, media sosial bukan sekadar alat komunikasi, melainkan mesin dekonstruksi yang sangat kuat. Jika dahulu otoritas seperti agama, akademisi, dan lembaga politik memegang kendali penuh atas narasi "apa yang benar" dan "apa yang penting", kini tembok-tembok tersebut mulai runtuh.

“Saya kira tantangan-tantangan ini menjadi pemikiran kita semua para pimpinan ‘Aisyiyah. Jadi ini sangat menyedihkan. Artinya tantangan ini tentunya berpengaruh banyak terhadap anak muda, informasi-informasi yang kemudian tidak sangat tidak bisa dipastikan kebenarannya,” tegasnya sekali lagi. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati Hari Difabilitas Internasional 2025, RS P....

Suara Muhammadiyah

12 December 2025

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) memberikan penghargaan ke....

Suara Muhammadiyah

24 January 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Persoalan stunting menjadi kepelikan yang masih menjadi hal b....

Suara Muhammadiyah

21 October 2023

Berita

SUMEDANG, Suara Muhammadiyah - Berangkat dari Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang penceg....

Suara Muhammadiyah

5 June 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)....

Suara Muhammadiyah

22 October 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah