Media Sosial dan Perkembangan AI sebagai Mazra’atu ad-Da’wah Era Baru
Oleh: Kens Geo Danuarta, Sekretaris Bidang PIP PD IPM Lampung Timur dan Ketua Pustakaloka Cendekia Cabang Kota Metro
Media sosial dengan segala macam bentuk, model dan karakternya hari ini adalah sebuah ruang yang paling banyak mendapat kunjungan. Jika divisualkan dengan bentuk gedung mungkin sudah menjadi gedung dengan seratus lantai atau bahkan lebih dari itu, karena saking banyaknya pengunjung setiap hari.
Hingga para pengunjung itu rela membayar untuk masuk dan menikmati tiap detiknya di media sosial, dengan membeli kuota internet atau membayar langganan wi-fi tiap bulan. Bahkan, mereka berada pada titik tidak nyaman hingga stres saat tak dapat mengakses media sosial.
Alasan awalnya sederhana, mereka mengakses media sosial untuk hiburan, mengisi waktu luang. Namun, pada kenyataannya mereka bukan lagi menggunakan media sosial pada waktu luang tetapi meluangkan waktu untuk terus berselancar di media sosial. Pada intinya, media sosial telah menyediakan dunia baru bagi manusia seluruhnya.
Isi dari media sosial sangat beragam, semuanya dapat ditampung oleh media sosial. Tidak ada batas sama sekali, tergantung siapa yang berada di balik layar gawai itu. Tidak ada batasan usia, batasan usia yang ada di media sosial semuanya bisa dimanipulasi oleh penggunanya.
Kebaikan maupun keburukan juga silih berganti. Hadir tiap menit, tiap detik bahkan tiap jari-jemari penggunanya bergerak ia akan disuguhkan dengan kebaikan atau keburukan.
Keburukan yang disediakan di media sosial lebih membahayakan dibandingkan keburukan yang ada pada dunia nyata. Karena media sosial adalah ruang publik yang privat, mengapa begitu? Karena, pengguna bisa mengakses apa saja yang ia mau namun bisa menyembunyikan dirinya.
Dunia nyata memang tak kalah dalam menyuguhkan keburukan. Namun, manusia pada umunya masih ragu dan mempertimbangkan dengan sejuta pertimbangan untuk turut serta dalam keburukannya. Itu disebabkan karena, ia tidak mampu menyembunyikan dirinya dari pandangan manusia saat harus turut serta dalam keburukan di dunia nyata.
Berbanding terbalik saat media sosial yang menyuguhkan keburukan. Manusia tanpa pertimbangan bisa langsung turut serta ke dalamnya. Karena, dia bisa menyembunyikan dirinya di mata manusia namun tetap menikmati keburukan itu dengan leluasa.
Media sosial dengan keburukan dan kebaikannya itu telah merambah ke seluruh penjuru dunia. Menjamur di kalangan pemuda, mulai juga diminati para orang tua, ditambah sekarang sudah menjadi mainan baru bagi anak-anak sebelum menemui masa dewasa.
Tak bisa dibatasi perkembangannya, media sosial akhirnya hampir menjadi penentu bagi generasi setelah kita, dari pemikirannya hingga kebiasaannya Pada seluruh umat manusia dan tidak menutup juga bagi generasi umat muslim pada hari yang akan datang.
Hari ini, tak ada lagi manusia, instansi bahkan organisasi yang bisa membunuh virus keburukan yang terus berkembang di media sosial. Bahkan, saat negara sudah memblokir banyak situs yang mengandung keburukan, gawai masih menyediakan tools untuk mengatasinya. Hingga, pengguna tetap bebas mengaksesnya meski berada pada negara yang telah memblokir situs itu. Tak bisa terbantah, keburukan yang lahir di media sosial mustahil dibunuh dan dimusnahkan.
Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, di antara makna rahmatan lil ‘alamin adalah kebaikannya dapat dirasakan oleh semua manusia. Bahkan, semua makhluk yang ada di dunia. Begitu juga saat keburukan, kejelekan dan kerusakan mulai tumbuh, Islam harus berada pada garda terdepan dalam mengatasinya.
Lantas, bagaimana umat Islam yang bertanggungjawab untuk terus berperan sebagai rahmatan lil ‘alamin menghadapi masalah ini? Mari tetap ingat yang Allah firmankan dalam kitabnya yang mulia:
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُول .....
“.....Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya....”( QS. An Nisa: 59)
Kembali kepada bagaimana Allah dan rasul-Nya, dari teori hingga praktiknya.
Nabi ‘alaihisalam dalam sebuah riwayat pernah berwasiat untuk umatnya, beliau bersabada:
اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها
Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya... (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih’)
Hadits ini adalah perintah agar kita senantiasa bertakwa kepada Allah dengan berbuat apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang. Namun, Allah dan rasulnya pun telah memberi ma’lum kepada manusia sehingga Nabi memberikan perintah apa yang dilakukan saat manusia dengan sengaja atau tidak sengaja harus berbuat keburukan.
Sebab, manusia sejak awal dicipta adalah makhluk dengan nafsu yang sangat berpotensi untuk berbuat keburukan. Maka, Nabi memberitakan jalan saat manusia berbuat keburukan. Yaitu, dengan melakukan kebaikan setelahnya, sebab kebaikan itu yang akan menghapusnya.
Sebenarnya, keburukan itu di mana saja ia berada selalu senada yakni tidak ada yang bisa membunuhnya, menghapusnya atau membinasakannya. Maka, penanggulangannya akan tetap sama di mana saja.
Nabi memberikan penanggulangan terhadap keburukan itu, yang sangat cocok untuk kita gunakan dalam menanggulangi keburukan di media sosial. Yakni, menutup keburukan dengan kebaikan. Tanggung jawab seorang muslim saat berada di media sosial adalah memberikan perlawanan yang sepadan dengan keburukan yang terus bertebaran.
Kemustahilan dalam menghapus keburukan adalah realitas yang harus kita hadapi dalam media sosial. Sama dengan realitas yang harus dihadapi manusia akan kemustahilannya dalam menghilangkan potensi untuk berbuat dosa. Maka, konsep yang sama seperti yang Nabi ajarkan harus kita gunakan. Bukan meniadakan keburukan, akan tetapi menutup sejuta keburukan itu dengan sejuta satu kebaikan.
Dengan spirit sederhana, saat umat lain menyortir keburukan ke media sosial maka umat muslim tak boleh kalah dalam menyortir kebaikannya. Saat umat lain meluncurkan satu keburukan, muslim harus meluncurkan dua hingga tiga kebaikan.
Tangan seorang muslim tak boleh hanya menjadi tangan konsumtif di media sosial. Ia harus menjadi tangan-tangan produsen yang berusaha menutup segala keburukan yang terus berkembang di media sosial. Mengingat bahwa media sosial tak pernah memberi batasan, maka tangan seorang muslim pun tak boleh juga punya batasan untuk menjadi salah satu produsen kebaikan di media sosial.
Perlu sekali menjadi sebuah catatan, antara kebaikan dan keburukan memiliki kesamaan. Keduanya memiliki batasan yang luas sekali. Keburukan memiliki batasan yang luas hingga sejengkal saja kita bergerak di media sosial kita dapat menjumpainya. Namun, kebaikan juga sama memiliki batasan yang luas di media sosial dan juga di dunia nyata. Sejengkal saja kita bergerak sebenarnya kita sudah bisa bertemu dengan kebaikan. Dan kebaikan yang mudah kita temukan itu harus kita kabarkan, kita produksi, kita sebarkan di media sosial sebagai upaya dalam mengalahkan keburukan yang terus diproduksi di dalamnya.
Bagi seorang da’i jangan lupakan media sosial adalah mimbar yang menyediakan berjuta mad’u, media sosial adalah ladang basah yang harus segera di tanami tumbuhan bermanfaat. Sejenak saja kita meninggalkan ladang itu, rumput liar tak segan untuk tumbuh menjalar memenuhinya.
Tools yang tersedia juga sudah sangat beragam, membuatmu tidak perlu takut akan kekurangan ilmu. Pada abad ini hadir satu penemuan yang luar biasa berupa Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). Masukan sedikit pengetahuan yang kamu punya, berikan perintah ia untuk mengumpulkan data yang dapat mengembangkan pengetahuanmu dan kamu akan dapati banyak pengetahuan untuk bisa kamu sebarkan. Sebagai bagian dalam mengalahkan keburukan.
Kemudian, jangan batasi kebaikan itu hanya menyebarkan ilmu agama saja di media sosial. Umat muslim harus menunjukkan juga pada dunia, pada media sosial bahwa muslim tidak hanya menguasai ilmu agamanya, akan tetapi pelbagai pengetahuan tentang urusan dunia juga dipahami dan dikuasainya.
Saat dirimu adalah seorang muslim yang paham dengan IT, tentang ilmu komputer. Bagianmu dalam menyebarkan kebaikan dalam rangka mengalahkan keburukan adalah dengan menyebarkan ilmu tentang komputer itu. Saat dirimu adalah seorang koki, bagianmu dalam menyebarkan kebaikan dalam rangka mengalahkan keburukan adalah dengan menyebarkan ilmu tentang memasak itu.
Hanya saja tetap balut semuanya dalam koridor syari’at. Ilmu komputer yang tidak menyalahi aturan Islam atau bahkan ilmu komputer yang mensyi’arkan Islam. Ilmu tentang memasak yang tetap mematuhi ajaran Islam atau bahkan ilmu dapur yang mensyi’arkan Islam.
Pada bidang apa keahlianmu, pada bidang apa hobimu itu adalah bagianmu dalam membanjiri media sosial dengan kebaikan sebagai bentuk mengikuti konsep Nabi dalam mengalahkan keburukan di media sosial. Wahai muslim, lahan basah ini harus segera kita tanami, rumput liar tak segan untuk tumbuh saat kita melalaikan.

