Melanjutkan Jejak Ibrahim, Ayah Segala Peradaban
Machnun Uzni, S.I.Kom, Wakil Sekertaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kaltim, Sekertaris Majelis Ulama Indonesia Prov. Kaltim, Sekertaris Kelompok Bimbingan Haji & Umroh (KBIHU) Kaltim
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِهِ الْمُصْطَفَى، مُحَمَّدٍ الَّذِي لَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَا. أَمَّا بَعْدُ؛
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴾
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahi-l-hamd.
Hadirin sidang jama’ah sholat Idul ‘Adha rahimakumullah,
Pada kesempatan yang mulia ini marilah bersama-sama kita bersyukur kepada Allah SWT, menaunaikan salah satu diantara syariat yang telah ditetapkan bersama dengan kaum muslimin di seluruh belahan dunia, melaksanakan Sholat Idul ‘Adha dan dilanjutkan dengan menyembelih qurban bagi yang mampu
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah (QS Al Kautsar [108]:1-2).
Pertemuan kita pada pagi ini adalah demikian istimewa, didesain oleh Allah SWT untuk bersama mengangungkan asma-Nya melalui takbir yang kita kumandangkan, tahmid yang kita lantunkan dan tahlil yang kita gelorakan.
Takbir, tahlil dan tahmid kembali menggema di seluruh muka bumi ini sekaligus menyertai saudara-saudara kita yang datang menunaikan panggilan agung ke tanah suci guna menunaikan ibadah haji.
Pada hari raya idul adha ini berjuta-juta kaum muslimin berkumpul di Mina untuk melempar jumrah, setelah sehari sebelumnya menjalani wukuf di Padang Arofah. Saudara-saudara kita sedunia dan seiman itu berkumpul ditanah suci, mereka datang dari segala penjuru dunia, dari berbagai benua dan negara, dari berbagai suku dan bangsa, dengan menempuh perjalanan yang tidak ringan, meninggalkan keluarga dan kesenangan dunia, hanyalah semata-mata untuk memenuhi panggilan Allah SWT.
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan dengan mengendarai kendaraan yang datang dari segenap penjuru yang jauh (QS. Al Hajj;27)
Bergemalah saat ini kalimat talbiyah ditanah suci,
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ
Hamba-Mu kini datang menghadap-Mu Ya Allooh, memenuhi perintah-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Kami datang menyambut seruan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat adalah bagi-Mu. Engkaulah mahadiraja yang menguasai segala sesuatu. Tiada sekutu bagi-Mu”
Dalam ibadah haji kita dapat mengambil hikmah bahwa jangan ragu-ragu kita mengeluarkan segala sesuatu untuk menuju perintah Allah, terkandung hikmah bahwa segenap manusia berada dalam garis persamaan walaupun berbeda tampilan luarnya. Ibadah haji mempertemukan nilai keimanan yang sama, mereka berkeliling ka’bah yang sama, membaca kalimat yang sama dan mengikuti sunnah Rasul yang sama. Makna inilah yang seharusnya kita hadirkan dalam kehidupan kita.
Ibadah haji yang dilakukan sebagian umat Islam di tanah Suci maupun syariat ibadah qurban yang dilakukan oleh umat Islam di wilayahnya masing-masing, tidak mungkin bisa dipisahkan dari perjalanan panjang dakwah dan dinamika kehidupan keluarga nabi Ibrahim a.s. bahkan beberapa sumber bacaan menyebutkan bahwasanya rangkaian ibadah yang dilakukan umat Islam di bulan Dzulhijjah ini adalah program lanjutan dan napak tilas perjalanan millata ibrāhīma hanīfan.
Kesempurnaan ajaran islam yang dibawa oleh nabi Muhammad s.a.w. tidak bisa dipisahkan dari fondasi awal ajaran tauhid yang dibangun oleh nabi Ibrahim a.s. Kedua nabi tersebut memiliki hubungan yang sangat kuat. Bukan hanya terkait dengan garis keturunan yang tersambung, tetapi lebih dari itu keduanya diikat oleh kesatuan ideologis, yakni ajaran tauhid yang murni sebagaimana yang dinyatakan dengan tegas di dalam Q.S. al-An’am [6] ayat 161:
قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: “sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik”.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahi-l-hamd.
Hari ini kita berdiri di hari yang agung—Idul Adha, hari pengorbanan. Hari tentang cinta, ketaatan, dan penyerahan. Dan tidak ada satu pun kisah yang lebih dalam maknanya di hari ini selain kisah seorang ayah—Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
Ibrahim: Bukan Hanya Nabi, Tapi Ayah Segala Peradaban
Di dalam Al-Qur’an, Nabi Ibrahim tidak hanya disebut sebagai rasul, tapi juga sebagai: “Ummatan qanita lillah” — Seorang umat tunggal yang tunduk total kepada Allah, Dituliskan dalam QS. An Nahl; 120 :
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),
Dan disebutkan pula sebagai: “Abikum Ibrahim” — Ayah kalian Ibrahim sebagaimana tersebut didalam QS. Al-Hajj: 78.
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.
Ia bukan hanya bapak dari Nabi Ismail dan Ishaq. Ia adalah bapak dari prinsip hidup yang menjadi fondasi peradaban: tauhid, keberanian, kepemimpinan, dan pengasuhan yang hidup.
Apa yang Kita Pelajari dari Ibrahim sebagai Ayah?
1. Ayah yang Menanamkan Akar Iman
Ibrahim tak hanya menyuruh anaknya beriman, ia mengajak bicara, berdiskusi, bahkan bermusyawarah:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
(QS. As-Saffat: 102)
Inilah ayah yang tidak memaksa, tapi membangun kesadaran dan keberanian dari dalam. Anak tidak dilatih menjadi robot ibadah, tapi manusia merdeka yang mencintai Tuhannya.
2. Ayah yang Menguatkan Bukan Melemahkan
Ibrahim tidak mengasuh dalam kenyamanan. Ia membawa Ismail ke padang tandus. Tapi justru di tempat itu, lahirlah ketangguhan. Peradaban besar dimulai bukan dari kelimpahan, tapi dari pengasuhan yang menguatkan jiwa.
Kita mengingat doa Ibrahim ketika meninggalkan Istri dan anaknya, tertulis dalam QS. Ibrahim; 37
رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْن
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.
3. Ayah yang Menyerahkan, Bukan Mengendalikan
Puncak pengasuhan Ibrahim adalah saat ia tidak mempertahankan Ismail untuk dirinya, tapi menyerahkannya kepada Allah.Ini bukan ayah yang melepas karena tidak peduli, tapi karena percaya sepenuhnya pada takdir dan cinta Allah atas anaknya.
Kemudian, setelah membaringkan Ismail untuk disembelih, Allah memanggil Nabi Ibrahim dan menghentikannya. Allah SWT pun memberikan mukjizatnya dengan mengganti Ismail dengan sembelihan hewan yang besar seperti yang tertulis dalam surat As Saffat ayat 107
وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahi-l-hamd.
Kita, Ayah Zaman Ini: Mau Menjadi Apa?
Hari ini, kita bisa punya gelar tinggi, jabatan besar, rezeki yang lapang, dan pengaruh luas. Tapi apakah kita sudah menjadi ayah dalam makna Ibrahim?
Apakah anak kita mengenal Tuhannya lewat kita?
Apakah mereka belajar keberanian, ketundukan, dan cinta lewat sikap kita?
Apakah kita mendidik dengan kesabaran atau kemarahan?
Apakah kita mencetak generasi penakut—atau generasi perintis peradaban?
---
Idul Adha Adalah Momentum Ayah
Hari ini bukan sekadar tentang daging, kambing, atau takbir yang menggema.Ini adalah panggilan bagi semua ayah untuk kembali pada makna pengorbanan. Bukan hanya menyembelih hewan, tapi menyembelih ego, gengsi, dan ketakutan kita sebagai ayah—agar kita bisa benar-benar hadir bagi anak-anak kita.
Jamaah sholat Idul Adha, Peradaban Dimulai dari Lutut Ayah
Dunia sedang rindu pada ayah seperti Ibrahim. Ayah yang tidak hanya mempersiapkan anak untuk ujian sekolah, tapi juga ujian kehidupan. Ayah yang tidak hanya mengantar anak ke gerbang sukses, tapi juga ke gerbang surga. Ayah yang tidak selalu sempurna, tapi senantiasa taat dan belajar.
Maka hari ini, marilah kita bawa kembali semangat Ibrahim ke dalam rumah kita. Karena peradaban yang agung, selalu dimulai dari pelukan dan teladan seorang ayah.
Puncak kehadiran sebagai seoraang ayah akhirnya adalah memastikan anak-anak dan keluarganya terjaga dalam keimanan kepada Allah SWT.
وَوَصَّىٰ بِهَآ إِبْرَٰهِۦمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَٰبَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahi-l-hamd.

