Memahami Tanggung Jawab Manusia dan Takdir

Suara Muhammadiyah

31 July 2026

207
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Memahami Tanggung Jawab Manusia dan Takdir 

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Dalam perjalanan hidup di dunia, kita sering kali menyaksikan sebuah pemandangan yang sangat kontras di antara sesama manusia. Ada sebagian individu yang tampak melangkah menyusuri lorong-lorong kehidupan dengan begitu mulus, seolah-olah setiap pintu kemudahan senantiasa terbuka lebar bagi mereka. Sebaliknya, tidak sedikit pula manusia yang harus tertatih-tatih, berhadapan dengan tembok tebal hambatan dan kesulitan di setiap persimpangan jalan yang mereka lalui.

Fenomena ini secara alami memicu pertanyaan mendasar dalam benak kita: faktor apakah yang sebenarnya menjadi penentu utama dari perbedaan nasib tersebut? Apakah ikhtiar dan pilihan bebas manusia yang mengukir takdirnya sendiri, ataukah seluruh jalan hidup ini telah digariskan secara kaku dan mutlak oleh Sang Pencipta sejak awal?

Untuk membedah persoalan teologis dan eksistensial yang krusial ini, kita perlu merujuk pada petunjuk wahyu, khususnya teks Al-Qur'an Surah Al-Lail (Surah ke-92) ayat 5 hingga 10. Firman Allah SWT dalam ayat-ayat tersebut berbunyi:

"Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwalah kepada-Nya, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kemudahan. Dan adapun orang yang kikir serta merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kesukaran."

Jika ditinjau secara eksplisit dan tekstual, deretan ayat tersebut memberikan indikasi yang sangat tegas mengenai keberadaan hukum kausalitas moral. Secara mendasar, prinsip ini menyatakan bahwa kebaikan yang ditanam oleh seseorang akan membuahkan hasil yang baik pula, sedangkan keburukan yang disemai akan memanen penderitaan atau kesukaran.

Dalam konteks pengabdian spiritual, tindakan berbagi atau memberikan kedermawanan pada dasarnya merupakan manifestasi konkrit dari rasa syukur seorang hamba. Saat seseorang menginfakkan hartanya, tindakan tersebut seolah-olah menjadi pengakuan tulus: "Ya Allah, Engkau telah melimpahkan keberkahan dan rezeki kepadaku, maka sudah sepatutnya aku mengembalikan sebagian dari nikmat ini di jalan-Mu."

Ketika sikap dermawan ini dibarengi dengan ketakwaan—yakni kesadaran konstan akan kehadiran Allah—maka Allah berjanji akan membimbing dan melapangkan jalan hidupnya menuju keselamatan dan kemudahan yang sejati. Di sini terdapat sebuah penekanan makna yang sangat indah, di mana ketundukan moral manusia secara langsung direspons oleh kemudahan dari Sang Pencipta.

Sebaliknya, Al-Qur'an menggambarkan profil manusia yang mengambil jalan berlawanan. Karakter ini ditandai oleh sifat kikir, yaitu enggan berbagi, serta memiliki prasangka bahwa dirinya telah serba cukup (istaghna). Sikap merasa tidak memerlukan bantuan siapapun—termasuk tidak memerlukan Allah—mencerminkan kesombongan spiritual yang mengaburkan hati nurani. Orang seperti ini hidup seolah-olah Tuhan tidak pernah ada dalam lingkaran kehidupannya.

Ia menolak untuk mengakui bahwa kekayaan atau sarana hidup yang ada dalam genggamannya merupakan amanah dan karunia dari Allah. Saat ada orang lain yang membutuhkan, ia berpura-pura tidak memiliki kemampuan untuk menolong, padahal fasilitas hidupnya sangat memadai.

Sebagai konsekuesi logis dari pilihan jalannya sendiri, Allah akan meratakan jalan baginya menuju kesukaran. Artinya, kebiasaan buruk dan penolakannya terhadap kebenaran secara bertahap akan membimbingnya semakin dalam menuju kebinasaan dan kesulitan hakiki.

Poin inti yang dipancarkan oleh Surah Al-Lail ayat 5–10 adalah bahwa nasib akhir seseorang sangat bergantung pada aksi dan keputusan moralnya sendiri. Kita berbuat baik, maka kita akan memperoleh kebaikan; kita memilih kejahatan, maka akibat buruklah yang akan menimpa kita.

Kendati demikian, kenyataan ini tidak berarti menafikan keberadaan faktor-faktor luar yang berada di luar kendali dan jangkauan manusia. Realitas kehidupan adalah sebuah interaksi yang kompleks antara pilihan bebas manusia (freewill) dan ranah takdir atau ketetapan Ilahi (predeterminasi).

Selain tindakan zalim dari sesama manusia, ada pula takdir Ilahi yang beroperasi dalam rangka menjaga keseimbangan alam semesta dan menguji hamba-hamba-Nya. Tentu muncul pertanyaan reflektif: Mengapa Allah yang Maha Kuasa tidak menghentikan seluruh kejahatan di muka bumi ini?

Dalam hikmah Ilahi yang Mahaluas, sebagian penderitaan atau ujian diizinkan terjadi untuk tujuan-tujuan agung yang kerap tidak terjangkau oleh akal pendek manusia—seperti proses pembentukan karakter, peninggian derajat spiritual, pengujian iman, ataupun hikmah-hikmah mendalam lainnya.

Meskipun ranah takdir itu ada dalam skema besar kehidupan, ayat-ayat dalam Surah Al-Lail secara khusus hanya berfokus pada tanggung jawab moral manusia. Teks surah ini sama sekali tidak berbicara mengenai takdir kaku yang menentukan sejak awal apakah seseorang harus menjadi baik atau jahat.

Sebuah fenomena yang cukup memprihatinkan dalam tradisi penafsiran adalah munculnya kesalahpahaman yang dipicu oleh kecenderungan sebagian mufasir (ahli tafsir) klasik. Pada masa-masa tertentu, perdebatan teologis mengenai takdir (qadar) begitu mendominasi diskursus pemikiran Islam. Akibatnya, sebagian mufasir mendatangi teks Al-Qur'an dengan kerangka berpikir yang sudah bias untuk membela doktrin predestinasi (takdir mutlak).

Ketika mendapati Surah Al-Lail ayat 5–10—yang sebenarnya sangat berfokus pada tanggung jawab ikhtiar manusia—para komentator ini justru merasa terancam. Mereka memandang kebebasan berkehendak manusia dalam ayat ini sebagai tantangan terhadap paham takdir yang mereka pegang teguh. Untuk mengatasi hal ini, mereka mengimpor narasi-narasi luar dan memaksakannya masuk ke dalam ayat ini. Hasilnya, fokus utama ayat mengenai kebebasan bertindak dan tanggung jawab pribadi justru terpinggirkan dan dikesampingkan.

Salah satu cara yang kerap digunakan adalah memasukkan riwayat hadis tertentu. Diceritakan bahwa seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: "Apakah hasil akhir kita ditentukan oleh apa yang kita amalkan, ataukah semuanya telah ditakdirkan secara mutlak?" Lalu dirawayatkan jawaban yang berbunyi: "Beramallah kalian, sebab setiap orang akan dimudahkan untuk mencapai tujuan penciptaannya."

Penerapan riwayat seperti ini secara kaku kerap melahirkan pemahaman fatalisme, seolah-olah ada kelompok manusia yang memang sengaja diciptakan khusus untuk menghuni surga sehingga dimudahkan beramal baik, dan ada kelompok yang diciptakan khusus untuk neraka sehingga dimudahkan berbuat jahat. Narasi fatalistik semacam ini jelas mengaburkan makna eksplisit dari Surah Al-Lail.

Penting bagi kita untuk bersikap kritis dan proporsional. Teks Al-Qur'an yang sudah sangat jernih dan tegas (muhkam) mengenai tanggung jawab manusia tidak boleh dikalahkan atau diputarbalikkan maknanya oleh penafsiran sekunder, sekalipun penafsiran tersebut mengatasnamakan riwayat tertentu. Terdapat prinsip metodologis mendasar yang harus selalu kita pegang dalam berinteraksi dengan kitab suci:

Al-Qur'an adalah fondasi utama yang mendikte dan membentuk penafsiran. Tafsir harus tunduk dan mengabdi pada teks Al-Qur'an, bukan sebaliknya. Menggunakan tafsir teologis untuk memutarbalikkan ayat Al-Qur'an ibarat membiarkan ekor yang menggerakkan tubuh anjing—sebuah kebalikpikiran dalam berlogika.

Surah Al-Lail ayat 5 hingga 10 mengajarkan pesan moral yang sangat terang: manusia memiliki agensi, kehendak bebas, dan tanggung jawab penuh atas jalan yang dipilihnya. Barangsiapa memilih jalan kedermawanan dan ketakwaan, Allah akan membimbingnya menuju kemudahan. Barangsiapa memilih jalan kikir dan kesombongan, ia sedang menuntun dirinya sendiri menuju kesukaran. Kita tidak boleh membiarkan bias-bias teologis masa lalu mengikis pesan utama Al-Qur'an tentang pentingnya ikhtiar, keadilan moral, dan tanggung jawab pribadi di hadapan Allah SWT.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh Bahrus Surur-IyunkKetua Pimda 225 Tapak Suci Sumenep Madura  Hari itu, datang surat berbe....

Suara Muhammadiyah

21 August 2024

Wawasan

Berdamai dengan Diri Sendiri Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta  Banyak orang menjala....

Suara Muhammadiyah

8 February 2025

Wawasan

Anak Saleh (24) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

2 January 2025

Wawasan

Membangun Kebiasaan Generasi Hebat dan Berkemajuan Oleh: Rizki Dewantoro, Kader Muhammadiyah Pendi....

Suara Muhammadiyah

13 February 2025

Wawasan

Refleksi 111 Tahun Milad Muhammadiyah Oleh : Rifai Aprian Milad Muhammadiyah ke-111 tahun yang jat....

Suara Muhammadiyah

19 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah