Memaknai Ulang Resolusi Tahun Baru bagi Umat Islam

Publish

31 December 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
133
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Memaknai Ulang Resolusi Tahun Baru bagi Umat Islam

Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Saat kalender mendekati lembar terakhir, hiruk-pikuk resolusi Tahun Baru mulai terdengar—sebuah janji kolektif untuk menjadi pribadi yang lebih sehat, disiplin, dan berkualitas. Namun, pernahkah kita bertanya bagaimana Islam memandang konsep pengembangan diri ini?

Faktanya, semangat untuk terus bertumbuh sangatlah sejalan dengan ajaran Islam. Dalam kerangka iman, kita tidak hanya diajak berevaluasi setahun sekali, melainkan setiap hari. Bayangkan setiap waktu salat sebagai momen "reset" di mana dosa-dosa kecil yang tak sengaja kita perbuat di antara dua waktu tersebut luluh bersama sujud. Memang mustahil bagi manusia untuk menjadi sosok yang sempurna tanpa noda, namun salat menjadi ruang intim di mana kita mengakui kekhilafan dan memperbarui janji kepada Tuhan untuk tidak terjatuh di lubang yang sama.

Selain harian, kita punya Ramadan sebagai "audit tahunan" untuk membersihkan diri dari noda yang lebih dalam, hingga ibadah Haji yang menjadi puncak rekonsiliasi total atas perjalanan hidup. Maka bagi seorang Muslim, resolusi bukanlah tren musiman, melainkan ritme hidup untuk terus kembali kepada-Nya dengan versi diri yang lebih baik.

Konsep perbaikan diri dalam Islam sejatinya memiliki cakupan yang jauh lebih luas dari sekadar rutinitas ibadah. Al-Qur'an meletakkan landasan filosofis yang sangat kuat mengenai perubahan sosial yang dimulai dari transformasi individu. Hal ini ditegaskan dalam sebuah prinsip fundamental: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." Menariknya, pesan ini bukanlah sekadar imbauan sekali lewat; Allah mengulanginya di dua tempat berbeda, yakni dalam Surah Al-Anfal (Surah ke-8) dan Surah Ar-Ra’d (Surah ke-13). Ini adalah sinyal bagi setiap Muslim bahwa "sikap mawas diri" dan "semangat pembaruan" harus menjadi kompas utama dalam menjalani kehidupan.

Dalam dimensi spiritual, Al-Qur'an menjanjikan kesuksesan sejati bagi mereka yang mampu menjaga kejernihan batinnya: "Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya." Namun, kesucian jiwa ini bukanlah konsep abstrak yang hanya dilakukan di atas sajadah. Jika kita menilik Surah Al-Balad, Al-Qur'an memperkenalkan konsep "Al-Aqabah" atau "Jalan Mendaki yang Sukar." Apa maknanya? Al-Qur'an menjelaskan bahwa pendakian menuju kualitas diri yang lebih tinggi diwujudkan melalui aksi nyata yang berdampak sosial, seperti memutus rantai perbudakan, menyantuni yatim piatu di masa sulit, hingga memberi makan mereka yang kelaparan. Dengan kata lain, pengembangan diri adalah sebuah "pendakian" moral yang terus-menerus.

Oleh karena itu, ketika masyarakat luas sibuk membicarakan resolusi tahun baru di tanggal tertentu, kita sebagai bagian dari struktur sosial tidak perlu merasa asing. Kita tidak seharusnya berkata, "Karena ini tradisi orang lain, kita tidak boleh ikut melakukan kebaikan yang sama." Justru, Islam mendorong kita untuk mengambil setiap momentum positif sebagai batu loncatan untuk memperbaiki kualitas hidup.

Lantas, apakah perbaikan ini hanya terbatas pada aspek ibadah formal semata? Sama sekali tidak. Islam tidak mengenal pemisahan kaku (dikotomi) antara urusan duniawi dan ukhrawi. Perbaikan yang dimaksud mencakup spektrum yang luas: mulai dari stabilitas politik, keharmonisan keluarga, kesehatan finansial, hingga peningkatan skill atau keterampilan teknis yang membantu kita mandiri secara ekonomi. Dalam Islam, belajar keterampilan baru agar bisa bekerja lebih profesional adalah bagian dari ibadah, asalkan diniatkan dengan benar.

Para ulama kita memang telah mengklasifikasikan tindakan manusia ke dalam kategori yang jelas—seperti fardu (wajib) yang mendatangkan pahala atau haram yang mendatangkan dosa. Namun, di antara dua kutub tersebut, terbentang "zona luas" tindakan netral yang sangat dinamis. Di sinilah letak keindahan kerangka kerja Islam: tindakan yang terlihat biasa saja (duniawi) bisa berubah menjadi investasi akhirat jika dibarengi dengan niat yang mulia. Menjadi lebih disiplin dalam bekerja, lebih sehat dalam menjaga pola makan, atau lebih ahli dalam bidang teknologi, semuanya masuk ke dalam radar "amal baik" jika tujuannya adalah untuk menjadi hamba Allah yang lebih kuat dan bermanfaat bagi sesama. Jadi, pengembangan diri dalam Islam adalah proyek totalitas yang menyatukan kecerdasan spiritual dengan keunggulan di dunia nyata.

Menurut sistem pemikiran kita, jika Anda melakukan hal netral dengan niat baik, Anda mungkin mendapatkan pahala. Jika Anda melakukan hal yang sama dengan niat buruk, Anda mung Dalam kacamata Islam, setiap tindakan kita tidak pernah berdiri di ruang hampa. Bahkan hal-hal yang sifatnya paling netral sekalipun bisa berubah warnanya menjadi dosa jika kita menyalahgunakannya untuk tujuan yang buruk. Namun, di balik peringatan itu, terdapat sebuah peluang emas yang luar biasa: pengembangan diri yang dilakukan demi meraih rida Allah akan bertransformasi menjadi ibadah yang berpahala. Dengan cara pandang ini, pengembangan diri bukan lagi sekadar proyek ambisi pribadi, melainkan sebuah perjalanan spiritual menuju kehidupan akhirat yang lebih baik.

Mari kita lihat secara lebih nyata. Ketika seseorang memutuskan untuk mengambil kursus malam tambahan guna meningkatkan kompetensi profesionalnya, itu bukan sekadar aktivitas akademis biasa. Selama tujuannya adalah untuk memberikan nafkah yang lebih baik bagi keluarga atau berkontribusi lebih besar bagi masyarakat, maka setiap detik yang ia habiskan di ruang kelas dicatat sebagai kebaikan dalam timbangan agamanya.

Hal yang sama berlaku pada resolusi-resolusi "duniawi" yang sering kita dengar:

·         Kesehatan Fisik: "Saya ingin menurunkan berat badan, menjaga pola makan, dan rutin berolahraga." Jika niatnya adalah agar memiliki tubuh yang kuat untuk beribadah dan menjalankan amanah hidup, maka setiap tetes keringatnya adalah pahala.

·         Pengembangan Intelektual: "Saya ingin meningkatkan kecepatan membaca atau menguasai keahlian baru." Jika tujuannya agar bisa menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi umat, maka proses belajarnya menjadi tugas agama yang mulia.

·         Kualitas Hubungan: "Saya ingin belajar menjadi suami yang lebih lembut, anak yang lebih berbakti, atau tetangga yang lebih peduli." Upaya memperbaiki karakter ini adalah inti dari ajaran Islam yang mengedepankan akhlak mulia.

Singkatnya, apa pun keterampilan atau perbaikan yang kita kejar—selama itu berdampak positif dan diniatkan untuk Allah—maka hal tersebut secara otomatis masuk ke dalam ranah tugas agama.

Namun, kita harus jujur pada realitas. Setiap kali musim resolusi Tahun Baru tiba, semangat biasanya meluap di awal, namun sering kali layu di tengah jalan. Banyak orang merasa gagal saat rencana mereka tidak berjalan mulus, yang kemudian berujung pada rasa putus asa hingga akhirnya berhenti mencoba sama sekali. Kegagalan ini sering kali bukan karena kurangnya kemauan, melainkan karena kurangnya strategi.

Oleh karena itu, jika Anda mengizinkan, saya ingin mengajak Anda untuk mengubah cara kita berpikir tentang perubahan. Mari kita pelajari bagaimana cara menyusun rencana yang bukan hanya ambisius di atas kertas, tetapi juga realistis untuk dijalankan dan memiliki daya tahan yang kuat dalam jangka panjang.

Salah satu metode yang sangat efektif untuk mewujudkan perubahan nyata adalah dengan menggunakan kerangka kerja SMART, sebuah akronim yang mulanya populer di dunia profesional untuk memotivasi karyawan namun sangat relevan bagi siapa pun yang ingin bertumbuh. Langkah pertama dimulai dengan aspek S atau Specific (Spesifik); di sini kita diajak untuk meninggalkan niat yang terlalu umum dan samar. Alih-alih sekadar berkata "saya ingin rajin berolahraga"—yang sering kali berakhir tanpa tindakan—cobalah untuk menetapkan target yang jelas, seperti berkomitmen untuk berolahraga selama 30 menit setiap hari, tiga kali dalam seminggu.

Kepastian target ini kemudian harus didukung oleh aspek M atau Measurable (Terukur), yang berfungsi sebagai alat kendali diri. Kita perlu memiliki indikator yang nyata untuk memantau perkembangan kita, sehingga di akhir hari kita bisa menjawab dengan yakin apakah durasi 30 menit yang direncanakan tadi benar-benar telah kita tunaikan atau justru terlewatkan. Selain terukur, rencana tersebut wajib memenuhi kriteria A atau Achievable (Dapat Dicapai). Kita harus bersikap jujur dan realistis terhadap kapasitas diri kita saat ini. Alih-alih bermimpi mendapatkan keuntungan jutaan dolar dalam waktu singkat yang bagi banyak orang di luar jangkauan, langkah seperti mengambil kursus tambahan demi peningkatan karier jauh lebih logis dan memungkinkan untuk direalisasikan.

Perjalanan ini juga harus berlandaskan pada prinsip R atau Relevant (Relevan), yang artinya resolusi tersebut harus memiliki makna mendalam dan selaras dengan nilai-nilai hidup kita sendiri, bukan sekadar mengikuti tuntutan atau tren orang lain. Bagi seorang Muslim, misalnya, mempelajari dasar-dasar bahasa Arab melalui buku panduan sederhana merupakan langkah yang sangat relevan dengan tujuan spiritual jangka panjangnya. Terakhir, seluruh rencana ini harus bersifat T atau Time-bound (Terikat Waktu). Tanpa tenggat waktu yang jelas, niat kita hanya akan menjadi angan-angan "suatu hari nanti" yang tak kunjung tiba.

Dengan menetapkan batas waktu, kita memiliki titik evaluasi yang konkret untuk melihat sejauh mana keberhasilan yang telah diraih. Menariknya, metode ini tidak bersifat kaku; kita bisa melakukan penyesuaian berkala di sepanjang jalan. Jika suatu saat jadwal Anda terasa sangat padat, Anda bisa menyesuaikan waktu yang ada tanpa harus membatalkan rencana besar Anda—misalnya dengan membagi waktu 30 menit menjadi dua sesi yang lebih singkat. Melalui pendekatan yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan terikat waktu ini, resolusi Anda tidak lagi hanya menjadi catatan di atas kertas, melainkan sebuah peta jalan yang nyata menuju versi diri yang lebih baik.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

 Muharam Mari Berbenah  Oleh: Ika Sofia Rizqiani, S.Pd.I., M.S.I Bulan telah berganti, k....

Suara Muhammadiyah

8 July 2024

Wawasan

Menjadikan Nabi Muhammad sebagai ‘Role Model’ Oleh: Donny Syofyan Kita bersyukur bahwa....

Suara Muhammadiyah

28 September 2023

Wawasan

Iman dan Tantangan Perubahan Zaman  Oleh: Ibnu Ngateman, S.Sos., Jamaah PCM Umbul Harjo Yogyak....

Suara Muhammadiyah

18 December 2024

Wawasan

Pentingnya Kolaborasi Mempersiapkan Generasi Emas yang Beradab Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Pen....

Suara Muhammadiyah

11 August 2025

Wawasan

Ketulusan: Pondasi Kokoh Menuju Kedamaian Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta  Ketulus....

Suara Muhammadiyah

28 January 2025