Memayu Hayuning Bawana di Tengah Pusaran Era Modern

Publish

19 October 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
1042
Dok Istimewa

Dok Istimewa

Memayu Hayuning Bawana di Tengah Pusaran Era Modern

Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasehat PRM Troketon

Allah SwT menciptakan alam semesta raya ini, termasuk manusia sebagai penentu keberlangsungan alam dengan keindahan. Akan tetapi, itu semuanya dikembalikan pada umat itu sendiri.

Dalam sebuah kesempatan, penulis (Gus Zul) diajak diskusi ringan bersama beberapa tokoh dengan latar belakang berbeda, mulai dari ketua sebuah komunitas yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan, ketua DKM di tempat tinggal penulis, serta seorang pemangku wilayah (Ketua RW) di kampung sebelah. Dari obrolan tersebut, penulis menyimpulkan sebuah intisari, yaitu pentingnya tekad yang dilandasi kejujuran dan kebersamaan dalam rangka memajukan lingkungan dengan menanggalkan egoisme pribadi. Dan tidak kalah pentingnya adalah harus mau berkorban, seperti ungkapan “Jer Basuki Mawa Beya”. Untuk menuju kemajuan, harus dengan pengorbanan baik tenaga, pikiran, harta, bahkan nyawa.

Beberapa waktu lalu, penulis mengajak anggota komunitas Ngopi Bareng (Ngobat) yang menjadi binaan Gus Zul untuk menikmati indahnya ciptaan Tuhan berupa gunung berapi. Selain sebagai rikhlah, kegiatan ini juga memberikan edukasi akan pentingnya bersahabat dengan alam, yaitu gunung.

Itu adalah potret yang terjadi dalam kehidupan saat ini, yang kita jumpai dan alami. Akan tetapi sebenarnya, Tuhan menciptakan alam semesta raya ini untuk kemakmuran, kesejahteraan, dan kebahagiaan makhluk di dunia. Seiring perjalanan waktu, peradaban umat manusia yang dinamis mau tidak mau harus diikuti—mulai dari kultur hingga dampak peradaban itu sendiri.

Di satu sisi, peradaban umat manusia sangatlah penting untuk menunjukkan eksistensinya. Akan tetapi, tidak sedikit dari peradaban itu juga berdampak negatif terhadap keberlangsungan tata kelola kehidupan ini. Ambil contoh: Tuhan menciptakan bumi, laut, gunung, udara, api, dan lain sebagainya yang semuanya memiliki fungsi vital dalam kehidupan.

Gunung berapi, misalnya, berfungsi sebagai paku atau pasak bumi untuk menjaga keseimbangan rotasi bumi. Gunung juga menjaga keseimbangan alam serta memberikan kemakmuran bagi umat manusia. Abunya menyuburkan tanah, pasirnya menjadi bahan bangunan, dan lain-lain. Tetapi sering kali manusia tidak menyadari bahwa Tuhan menciptakan gunung untuk menjaga keseimbangan alam.

Seiring waktu, manusia lebih menuruti hawa nafsu. Setan lebih mendominasinya, sehingga manusia memperlakukan alam dengan tidak baik, mengabaikan norma-norma agama, sosial, dan norma alam. Mereka mengeruk sumber daya di sekitar gunung, dan apabila terjadi erupsi, barulah manusia sadar akan kelalaiannya.

Sebenarnya Tuhan sudah memberikan informasi begitu jelas dalam surat An-Naml ayat 88:

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَّهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِۗ صُنْعَ اللّٰهِ الَّذِيْٓ اَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍۗ اِنَّهٗ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَفْعَلُوْنَ ۝٨٨
Wa taral-jibāla taḥsabuhā jāmidataw wa hiya tamurru marras-saḥāb, ṣun‘allāhilladzī atqana kulla syai’in, innahū khabīrun bimā taf‘alūn.
“Engkau akan melihat gunung-gunung yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan. (Demikianlah) penciptaan Allah yang menjadikan segala sesuatu dengan sempurna. Sesungguhnya Dia Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Menilik dari ayat An-Naml ayat 88 di atas, marilah kita renungi sinyal pesan dari beberapa aktivitas gunung yang menunjukkan peningkatan dari normal menjadi siaga—baik itu Merapi, Semeru, dan lainnya. Oleh karena itu, kita harus menyadari dan mau memperbaiki diri untuk menjaga keseimbangan hidup dengan membangun kesadaran spiritual dan sosial, serta pentingnya menjaga, merawat, dan melestarikan alam.

Kita juga perlu membangun harmoni tata kelola kehidupan lainnya. Jika para leluhur kita dahulu memberikan petuah agar kita berinteraksi baik dengan Tuhan, sesama makhluk, dan alam, maka semua itu harus dijalankan dengan harmoni dan keselarasan demi keberlangsungan yang berkelanjutan. Alam harus dijaga dengan baik.

Maka, judul di atas memberikan petuah dan wejangan yang sangat mendalam. Jika kita menelisik lebih spesifik, ada tiga kalimat penting, yaitu:

Memayu Hayuning Bawana

Ungkapan di atas adalah peringatan keras akan keberlangsungan kehidupan alam semesta raya ini.

Memayu, dari bahasa Jawa, bermakna memperbaiki atau memperindah tata kelola kehidupan yang tidak baik menjadi baik, baik akibat bencana alam maupun bencana sosial, sehingga bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dapat membentuk tatanan yang dinamis dan berkeadaban.

Hayu, berasal dari bahasa Sunda, bermakna seruan atau ajakan untuk perubahan dari sesuatu yang tidak baik menuju yang baik.

Bawana, dalam bahasa Jawa, bermakna jagad atau bumi—bagian dari ciptaan Tuhan seperti udara, angin, gunung, laut, api, dan air yang masing-masing punya fungsi vital. Jika diperlakukan dengan baik, ia menjadi sumber kehidupan; jika tidak, ia bisa menjadi sumber bencana.

Melihat kondisi saat ini, manusia banyak bertindak tidak sewajarnya. Maka sangat pantas bila alam “protes” dan “marah”.

Selama Tuhan masih memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbaiki dan menjaga keberlangsungan alam semesta ini, maka sebagai orang beriman kita harus melakukan gerakan Memayu Hayuning Bawana. Dengan begitu, anak cucu kita dapat meneruskan tugas rahmatan lil-‘alamin.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Tanggalnya Jilbab dan Tumbangnya Pohon Beringin Oleh: Immawan Wahyudi, Dosen Fakultas Hukum UAD, ma....

Suara Muhammadiyah

15 August 2024

Wawasan

Dari Invasi Asyur hingga Raja Herodes: Kisah Kebangkitan dan Kehancuran Bani Israel dalam Al-Qur'an ....

Suara Muhammadiyah

20 August 2025

Wawasan

Darah Muda, Denyut Kedaulatan Dzulfikar Ahmad Tawalla, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiya....

Suara Muhammadiyah

17 August 2025

Wawasan

Meluruskan Niat dalam Ber-Muhammadiyah Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hid....

Suara Muhammadiyah

11 February 2026

Wawasan

Oleh: Said Romadlan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta   ....

Suara Muhammadiyah

12 January 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah