Membaca Kembali Kepribadian Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

13 July 2026

222
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Membaca Kembali Kepribadian Muhammadiyah

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur

Di tengah derasnya arus perubahan zaman, organisasi sebesar Muhammadiyah tidak hanya dituntut untuk mampu bergerak cepat, tetapi juga untuk tetap teguh berpijak pada jati dirinya. Perubahan sosial, perkembangan teknologi digital, dinamika politik, hingga menguatnya budaya pragmatisme merupakan tantangan yang tidak hanya menguji kemampuan organisasi dalam beradaptasi, tetapi juga menguji konsistensinya dalam menjaga identitas ideologis.

Di sinilah urgensi untuk membaca kembali Kepribadian Muhammadiyah. Bukan karena Kepribadian Muhammadiyah telah kehilangan relevansinya, melainkan justru karena tantangan zaman semakin kompleks sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu terus dihidupkan sebagai pedoman berpikir, bersikap, dan bertindak bagi seluruh warga Persyarikatan.

Kepribadian Muhammadiyah bukan sekadar dokumen organisasi yang dibacakan dalam forum-forum resmi atau materi wajib dalam perkaderan. Ia merupakan kristalisasi pengalaman panjang Muhammadiyah dalam menjalankan dakwah Islam yang berkemajuan. Rumusan tersebut lahir dari pergulatan sejarah agar Muhammadiyah tetap menjadi gerakan Islam yang mampu menghadirkan solusi tanpa kehilangan kemurnian akidah dan semangat tajdid.

Saat pertama kali dirumuskan pada tahun 1962, Indonesia sedang menghadapi dinamika politik yang sangat kuat. Berbagai ideologi saling berebut pengaruh. Dalam situasi demikian, Muhammadiyah merasa perlu menegaskan kembali identitasnya agar tidak larut dalam pertarungan kepentingan politik praktis maupun tarikan ideologi yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Namun, lebih dari enam dekade kemudian, tantangan yang dihadapi telah berubah bentuk. Jika dahulu ancamannya berupa benturan ideologi politik, kini tantangannya hadir dalam wajah yang lebih halus. Individualisme, materialisme, budaya instan, polarisasi akibat media sosial, fanatisme kelompok, hingga komersialisasi agama menjadi tantangan nyata yang sering kali tidak disadari.

Kepribadian Muhammadiyah merupakan hasil perumusan yang lahir dari pergulatan panjang dalam sejarah dakwah Persyarikatan. Rumusan ini bukan sekadar identitas organisasi, melainkan cerminan karakter gerakan Islam yang ingin menghadirkan kemurnian akidah sekaligus kemajuan peradaban. Karena itu, kepribadian Muhammadiyah tidak cukup dipahami sebagai dokumen ideologis, tetapi harus menjadi etos yang membentuk perilaku setiap kader dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dalam konteks itulah, sepuluh sifat kepribadian Muhammadiyah menjadi sangat relevan untuk dibaca kembali.

Pertama, beramal dan berjuang demi perdamaian serta kesejahteraan. Muhammadiyah sejak kelahirannya tidak dibangun untuk menciptakan konflik, melainkan untuk menghadirkan solusi. Amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, ekonomi, hingga pemberdayaan masyarakat merupakan bukti bahwa dakwah tidak berhenti pada ceramah, tetapi juga diwujudkan dalam kerja nyata yang membawa kemaslahatan. Di tengah meningkatnya polarisasi sosial, semangat membangun perdamaian menjadi semakin penting untuk terus dijaga.

Kedua, memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah. Kepribadian Muhammadiyah mengajarkan bahwa dakwah tidak dibangun di atas semangat permusuhan. Perbedaan pandangan tidak boleh menjadi alasan untuk memutus silaturahmi. Muhammadiyah justru dituntut untuk menjadi perekat umat, menjalin kerja sama dengan berbagai komponen bangsa, serta menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Ketiga, lapang dada, luas pandangan, dengan memegang teguh ajaran Islam. Sikap ini menunjukkan bahwa keterbukaan tidak berarti kehilangan prinsip. Muhammadiyah menerima kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi, tetapi tetap menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai landasan utama. Keterbukaan yang berpijak pada prinsip inilah yang menjadikan Muhammadiyah mampu bertahan selama lebih dari satu abad.

Keempat, bersifat keagamaan dan kemasyarakatan. Muhammadiyah tidak memahami agama hanya sebagai hubungan vertikal dengan Allah Swt., tetapi juga sebagai tanggung jawab sosial. Oleh sebab itu, dakwah Muhammadiyah selalu diwujudkan melalui pelayanan pendidikan, kesehatan, penanggulangan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi, hingga aksi kemanusiaan ketika terjadi bencana.

Kelima, mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar negara yang sah. Sikap ini menunjukkan komitmen Muhammadiyah terhadap kehidupan berbangsa. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, Muhammadiyah berkontribusi dalam memperkuat negara melalui jalur pendidikan, pelayanan publik, dan penguatan masyarakat sipil. Sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah tetap dijalankan secara konstruktif dalam koridor konstitusional.

Keenam, amar makruf nahi mungkar dalam segala lapangan serta menjadi teladan yang baik. Dakwah Muhammadiyah tidak cukup berhenti pada penyampaian nasihat. Keteladanan merupakan inti dakwah. Seorang kader Muhammadiyah dituntut untuk menjadi teladan dalam hal kejujuran, disiplin, profesionalisme, integritas, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ketujuh, aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud ishlah dan pembangunan sesuai dengan ajaran Islam. Muhammadiyah bukan organisasi yang hanya menjadi penonton perubahan. Persyarikatan harus berada di garis depan dalam memberikan solusi atas persoalan pendidikan, ekonomi, lingkungan, kesehatan, teknologi, hingga ketahanan pangan. Semangat tajdid menuntut Muhammadiyah untuk terus melahirkan inovasi yang membawa kemajuan.

Kedelapan, bekerja sama dengan golongan Islam mana pun dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam serta membela kepentingan mereka. Muhammadiyah memahami bahwa tantangan umat Islam semakin kompleks sehingga membutuhkan sinergi, bukan kompetisi. Perbedaan fikih atau manhaj dakwah tidak boleh menghalangi kerja sama dalam memperjuangkan kemaslahatan umat.

Kesembilan, membantu pemerintah serta bekerja sama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun negara untuk mencapai masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah Swt. Sikap ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah sejak awal memilih jalan dakwah kebangsaan. Muhammadiyah menjadi mitra kritis pemerintah; mendukung kebijakan yang berpihak kepada rakyat, sekaligus memberikan masukan apabila terdapat kebijakan yang belum mencerminkan keadilan sosial.

Kesepuluh, bersifat adil serta korektif, baik ke dalam maupun ke luar, dengan bijaksana. Inilah salah satu karakter yang sering terlupakan. Muhammadiyah tidak hanya mengoreksi persoalan di luar organisasi, tetapi juga melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri. Kritik dilakukan bukan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai bentuk kasih sayang terhadap Persyarikatan agar terus berkembang menjadi organisasi yang semakin profesional, amanah, dan berkemajuan.

Apabila dicermati secara mendalam, kesepuluh sifat tersebut sesungguhnya saling berkaitan. Semuanya membentuk karakter kader Muhammadiyah yang beriman, berilmu, beramal, dan berakhlak mulia. Kepribadian Muhammadiyah bukan sekadar mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur hubungan dengan sesama manusia, negara, lingkungan, bahkan peradaban.

Di era digital, seseorang dapat dengan mudah memperoleh pengetahuan agama hanya melalui potongan video berdurasi singkat. Otoritas keilmuan sering kali dikalahkan oleh popularitas. Ukuran keberhasilan dakwah bergeser menjadi jumlah pengikut, jumlah tayangan, atau viralitas, bukan lagi kedalaman ilmu dan kemanfaatannya bagi umat. Dalam kondisi demikian, kepribadian Muhammadiyah menjadi semakin penting sebagai kompas agar dakwah tetap berpijak pada ilmu, hikmah, dan kemaslahatan.

Kepribadian Muhammadiyah mengajarkan keseimbangan yang sangat indah. Di satu sisi, Muhammadiyah memiliki komitmen yang kuat terhadap pemurnian akidah dan ibadah sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Di sisi lain, Muhammadiyah juga dikenal sebagai gerakan yang sangat terbuka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan berbagai bentuk inovasi sosial. Karena itu, menjadi warga Muhammadiyah bukan berarti menutup diri terhadap perubahan, tetapi justru menjadi pelopor perubahan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Semangat inilah yang diwariskan oleh KH Ahmad Dahlan. Beliau tidak sekadar mengajarkan pentingnya memahami agama, tetapi juga pentingnya menerjemahkan ajaran Islam menjadi tindakan nyata yang menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat. Dakwah tidak berhenti pada mimbar, melainkan menjelma menjadi sekolah, rumah sakit, panti asuhan, universitas, pelayanan sosial, hingga pemberdayaan ekonomi umat.

Karena itu, membaca kembali Kepribadian Muhammadiyah berarti membaca kembali semangat beramal, bukan sekadar semangat berwacana. Persyarikatan dibangun bukan untuk memperbanyak perdebatan, melainkan untuk memperluas kebermanfaatan. Ukuran keberhasilan kader Muhammadiyah bukan hanya kemampuannya berbicara tentang Islam Berkemajuan, tetapi juga sejauh mana ia mampu menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Sayangnya, di tengah perkembangan organisasi yang semakin besar, terdapat kecenderungan sebagian warga Persyarikatan lebih mengenal simbol daripada substansi. Tidak sedikit yang aktif dalam struktur organisasi, tetapi kurang memahami ruh gerakan Muhammadiyah. Ada pula yang sibuk membangun citra pribadi, tetapi lupa membangun kekuatan kolektif Persyarikatan. Fenomena ini perlu menjadi bahan muhasabah bersama.

Kepribadian Muhammadiyah sesungguhnya menanamkan nilai keikhlasan dalam beramal. Amal usaha Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan hingga mancanegara, tidak dibangun dengan orientasi keuntungan pribadi, melainkan sebagai bentuk ibadah dan pelayanan kepada masyarakat. Spirit inilah yang harus terus diwariskan kepada generasi muda Muhammadiyah.

Di sisi lain, kepribadian Muhammadiyah juga mengajarkan pentingnya ukhuwah. Dalam konteks kehidupan berbangsa, Muhammadiyah selalu mengambil posisi sebagai perekat persatuan. Muhammadiyah tidak dibangun untuk menjadi kelompok yang eksklusif, melainkan menjadi gerakan yang mampu bekerja sama dengan berbagai pihak demi mewujudkan kemaslahatan umat dan bangsa. Sikap moderat, inklusif, dan berkemajuan tersebut menjadi modal sosial yang sangat penting di tengah meningkatnya polarisasi masyarakat.

Membaca kembali Kepribadian Muhammadiyah juga berarti memperkuat tradisi keilmuan. Muhammadiyah sejak awal berdiri meyakini bahwa kemunduran umat tidak dapat diatasi hanya dengan semangat keagamaan, melainkan harus ditopang oleh penguasaan ilmu pengetahuan. Karena itu, investasi terbesar Muhammadiyah adalah pendidikan. Ribuan sekolah, madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi Muhammadiyah merupakan bukti bahwa dakwah harus berjalan beriringan dengan pencerdasan umat.

Tantangan ke depan tentu semakin berat. Revolusi kecerdasan buatan, disrupsi ekonomi, perubahan iklim, ketimpangan sosial, hingga krisis moral membutuhkan respons yang tidak biasa. Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi organisasi yang besar secara jumlah, tetapi harus menjadi organisasi yang besar dalam kualitas kader, kedalaman pemikiran, dan luasnya kontribusi.

Di sinilah Kepribadian Muhammadiyah menemukan relevansinya. Ia bukan sekadar warisan sejarah, tetapi sumber inspirasi untuk menjawab persoalan kontemporer. Nilai-nilai seperti keikhlasan, tajdid, amar makruf nahi mungkar, ukhuwah, profesionalisme, amanah, dan pengabdian kepada umat merupakan fondasi yang akan menjaga Muhammadiyah tetap kokoh menghadapi perubahan zaman.

Akhirnya, membaca kembali Kepribadian Muhammadiyah bukanlah kegiatan bernostalgia terhadap masa lalu. Ia adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa setiap langkah Persyarikatan tetap berada pada jalur yang telah dirintis oleh para pendahulu. Organisasi boleh berkembang, amal usaha boleh bertambah, teknologi boleh berubah, dan tantangan boleh berganti. Namun, selama kepribadian Muhammadiyah terus menjadi ruh yang menghidupkan gerakan, Muhammadiyah akan tetap menjadi pelopor Islam Berkemajuan yang menghadirkan rahmat, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan memberikan solusi bagi persoalan kemanusiaan.

Kepribadian Muhammadiyah pada akhirnya bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi juga untuk dihidupkan. Bukan hanya menjadi teks dalam buku perkaderan, melainkan menjadi karakter dalam diri setiap kader. Sebab, kekuatan Muhammadiyah sesungguhnya tidak hanya terletak pada besarnya organisasi, tetapi pada kokohnya kepribadian orang-orang yang menggerakkannya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan. Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Hari ini saya akan mengulas seb....

Suara Muhammadiyah

6 December 2024

Wawasan

Melejitkan SMK Pusat Keunggulan Oleh: Rizki Putra Dewantoro, Alumni SMK Teknik Muhammadiyah Cianjur....

Suara Muhammadiyah

6 July 2024

Wawasan

Oleh: Suko Wahyudi Dalam beberapa dekade terakhir, budaya konsumtif telah menjadi fenomena global y....

Suara Muhammadiyah

7 December 2024

Wawasan

Emosi dan Identitas di Era Post-Truth Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta Era yang disebut ....

Suara Muhammadiyah

14 August 2025

Wawasan

Guru Pahlawan Sebenarnya Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., Wakil Dekan I FKIP Universitas Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

10 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah