Memuliakan Murid, Mengubah Wajah Pendidikan
Oleh: Agus Subeno, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Duren Sawit II Jakarta Timur, pemerhati Kebijakan Publik
Ada yang lebih penting daripada mengganti kurikulum: mengubah cara kita memandang murid.
Sebab pendidikan boleh berganti kebijakan, metode pembelajaran dapat terus diperbarui, dan teknologi boleh semakin canggih. Namun jika cara kita memperlakukan murid tidak berubah, transformasi pendidikan berisiko hanya berhenti sebagai dokumen.
Pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti tentang Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) menarik direnungkan dari titik ini. Menurutnya, transformasi pendidikan perlu dimulai dari “hulu”, yakni pendekatan pembelajaran di kelas. Pendidikan bukan hanya tentang apa yang diajarkan, tetapi bagaimana proses belajar dialami oleh murid.
Ada satu kata kunci yang sangat penting dari pernyataan tersebut: memuliakan—memuliakan murid, memuliakan guru, dan memuliakan ilmu.
Gagasan ini sesungguhnya memiliki resonansi kuat dengan pandangan Islam tentang manusia. Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia telah dimuliakan Allah. Maka pendidikan semestinya tidak mereduksi anak menjadi angka dalam rapor, peringkat kelas, atau sekadar hasil ujian. Pendidikan harus membantu manusia menemukan dan mengembangkan potensi terbaik dirinya.
Selama ini pendidikan sering terjebak pada pertanyaan: berapa banyak materi yang telah disampaikan guru dan berapa nilai yang diperoleh murid?
Padahal ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apa yang sesungguhnya terjadi dalam diri murid ketika proses belajar berlangsung?
Anak mungkin mampu menghafal rumus matematika, tetapi belum tentu mampu menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan kehidupan. Anak dapat menjawab soal tentang lingkungan, tetapi belum tentu peduli ketika melihat sampah berserakan. Anak memperoleh nilai tinggi dalam Bahasa Indonesia, tetapi belum tentu mampu menyampaikan gagasan secara runtut dan meyakinkan.
Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa banyak pengetahuan yang berhasil dipindahkan dari kepala guru ke kepala murid.
Yang lebih penting adalah apakah pengetahuan itu dipahami, dihayati, digunakan, dan membentuk cara berpikir serta perilaku.
Di sinilah prinsip Mindful, Meaningful, dan Joyful dalam Pembelajaran Mendalam menjadi relevan. Murid perlu belajar dengan kesadaran, menemukan makna dari apa yang dipelajari, dan mengalami kegembiraan dalam proses menemukan pengetahuan.
Belajar bukan sekadar menyelesaikan halaman buku. Belajar adalah perjalanan menemukan makna.
Memuliakan Bukan Memanjakan
Gagasan memuliakan murid tentu tidak berarti memanjakan.
Memuliakan bukan berarti semua keinginan anak harus dipenuhi. Bukan pula berarti guru kehilangan otoritas.
Memuliakan berarti melihat murid sebagai manusia yang sedang tumbuh dan memiliki potensi yang berbeda-beda.
Anak yang memperoleh nilai rendah bukan berarti tidak memiliki masa depan. Anak yang lambat memahami matematika bukan berarti tidak cerdas. Anak yang tidak menonjol dalam ujian tertulis mungkin memiliki keunggulan dalam seni, olahraga, kepemimpinan, komunikasi, kreativitas, atau keterampilan sosial.
Karena itu, pendidikan yang memuliakan harus mampu melihat anak secara utuh.
Di sinilah guru memiliki posisi yang sangat strategis. Guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi pendamping pertumbuhan intelektual, emosional, sosial, moral, dan spiritual murid.
Anak yang merasa dihargai akan lebih berani bertanya. Anak yang merasa aman akan lebih berani mencoba. Anak yang tidak takut salah akan lebih berani berpikir.
Sebaliknya, jika ruang kelas menjadi tempat anak takut salah, takut ditertawakan, atau terus-menerus dibandingkan, proses belajar dapat kehilangan ruhnya.
Jangan Sampai Deep Learning Menjadi Jargon
Di sinilah kita perlu bersikap kritis.
Gagasan yang baik dapat kehilangan makna jika berhenti sebagai jargon administratif.
Jangan sampai sekolah mengganti istilah dalam modul ajar dengan “Pembelajaran Mendalam”, tetapi praktik di kelas tetap sama: guru menjelaskan, murid mencatat, menghafal, lalu menghadapi ujian.
Mindful, Meaningful, dan Joyful harus terlihat dalam pengalaman belajar murid.
Ketika belajar lingkungan, misalnya, murid tidak hanya membaca definisi pencemaran. Mereka dapat mengamati lingkungan sekolah, mengumpulkan data sampah, mencari penyebab, berdiskusi, menyusun solusi, membuat karya, lalu melakukan refleksi.
Ketika belajar matematika, murid dapat menghitung kebutuhan keramik kelas atau menyusun anggaran kegiatan. Ketika belajar Bahasa Indonesia, murid dapat belajar menyampaikan gagasan yang mampu memengaruhi orang lain.
Pengetahuan akhirnya tidak berhenti di buku. Ia masuk ke pikiran, berhubungan dengan kehidupan, lalu diwujudkan dalam tindakan.
Kebutuhan terhadap perubahan cara belajar bukan tanpa alasan.
Hasil PISA 2022 menunjukkan tantangan besar pendidikan Indonesia. Skor Indonesia berada di bawah rata-rata OECD dalam matematika, membaca, dan sains. Dalam matematika, hanya 18 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih, sementara rata-rata OECD mencapai 69 persen. Dalam membaca angkanya sekitar 25 persen dan dalam sains 34 persen.
PISA memang bukan satu-satunya ukuran kualitas pendidikan. Namun data tersebut memberi pesan penting: anak-anak Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menghafal.
Mereka membutuhkan kemampuan memahami, menalar, menerapkan pengetahuan, memecahkan masalah, berkomunikasi, dan mengambil keputusan.
Karena itu, perubahan pendekatan pembelajaran merupakan kebutuhan yang patut didukung.
Pemerintah pun telah memberikan arah kebijakan melalui penguatan Pembelajaran Mendalam. Tantangannya sekarang bukan sekadar apakah kebijakannya sudah tersedia, tetapi apakah kebijakan itu benar-benar hidup di ruang kelas.
Transformasi pendidikan tidak akan berhasil jika guru justru semakin terbebani administrasi.
Guru membutuhkan waktu untuk mengenali murid, mempersiapkan pembelajaran, melakukan refleksi, berdiskusi dengan sesama guru, dan memperbaiki praktik mengajar.
Karena itu, pelatihan Pembelajaran Mendalam seharusnya tidak berhenti pada seminar dan sertifikat. Guru perlu mengalami sendiri prosesnya: belajar, mencoba, mengamati hasil, merefleksikan, memperbaiki, lalu mencoba kembali.
Guru pun harus mengalami pembelajaran mendalam.
Sekolah dapat menjadi laboratorium pembelajaran. Tidak harus selalu dimulai dengan program besar. Satu guru mencoba pada satu kelas, hasilnya diamati, murid memberikan umpan balik, guru melakukan refleksi, kemudian praktik baik dibagikan kepada guru lain.
Perubahan kecil yang konsisten sering kali lebih berarti daripada perubahan besar yang hanya berlangsung sesaat.
Dari Kebijakan Menjadi Gerakan
Pada akhirnya, keberhasilan Pembelajaran Mendalam tidak boleh diukur dari banyaknya spanduk bertuliskan Deep Learning, jumlah guru yang mengikuti pelatihan, atau banyaknya dokumen yang mencantumkan Mindful, Meaningful, dan Joyful.
Ukuran sesungguhnya ada pada perubahan murid.
Apakah mereka semakin berani bertanya?
Apakah mampu menjelaskan dengan bahasanya sendiri?
Apakah mampu menghubungkan ilmu dengan persoalan kehidupan?
Apakah mampu bekerja sama, menemukan solusi, dan mengambil keputusan?
Dan yang paling penting: apakah mereka tumbuh menjadi manusia yang berilmu sekaligus berkarakter?
Dalam perspektif pendidikan Muhammadiyah, pertanyaan terakhir ini sangat penting. Pendidikan tidak cukup melahirkan manusia yang cerdas secara intelektual. Ia harus melahirkan manusia yang beriman, berakhlak, mandiri, peduli, dan mampu memberi manfaat.
Ilmu harus melahirkan amal. Kecerdasan harus melahirkan kemaslahatan.
Karena itu, Pembelajaran Mendalam jangan berhenti sebagai program pemerintah. Ia harus menjadi gerakan budaya belajar.
Pemerintah memberikan kebijakan dan ekosistem. Kepala sekolah membangun budaya. Guru menghidupkannya di kelas. Orang tua mendukungnya di rumah. Masyarakat menciptakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak.
Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar membuat anak tahu lebih banyak.
Pendidikan adalah membantu anak memahami lebih dalam, berpikir lebih jernih, berbuat lebih baik, dan hidup lebih bermakna.
Memuliakan murid berarti membantu setiap anak menemukan potensi terbaik dirinya, menumbuhkan ilmunya, membentuk karakternya, dan mempersiapkannya menjadi manusia yang mampu memberi manfaat.
Di situlah pendidikan menemukan kembali hakikatnya: bukan sekadar mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi memanusiakan manusia.

