Menatap Muhammadiyah 25 Tahun ke Depan

Suara Muhammadiyah

26 June 2026

60
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Menatap Muhammadiyah 25 Tahun ke Depan

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur

Pada tahun 2040-an hingga 2050-an, dunia yang akan dihadapi umat manusia kemungkinan besar akan sangat berbeda dibandingkan dengan hari ini. Kemajuan kecerdasan buatan, revolusi bioteknologi, perubahan iklim, transformasi dunia kerja, disrupsi ekonomi digital, hingga pergeseran geopolitik global akan membentuk wajah peradaban baru. Di tengah perubahan besar tersebut, muncul pertanyaan penting bagi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia, yaitu bagaimana Muhammadiyah akan menatap 25 tahun ke depan?

Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan organisasi. Muhammadiyah selama lebih dari satu abad telah menjadi kekuatan sosial yang berpengaruh dalam membentuk wajah Islam di Indonesia. Sejak didirikan oleh Ahmad Dahlan pada tahun 1912, Muhammadiyah tidak hanya bergerak dalam dakwah keagamaan, tetapi juga dalam pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, hingga pengembangan pemikiran Islam berkemajuan.

Dalam perjalanan panjang tersebut, Muhammadiyah telah membuktikan dirinya sebagai organisasi yang adaptif terhadap perubahan. Ketika bangsa ini masih berada dalam cengkeraman kolonialisme, Muhammadiyah hadir dengan semangat pembaruan. Ketika Indonesia memasuki era kemerdekaan, Muhammadiyah menjadi mitra strategis dalam pembangunan bangsa. Ketika dunia memasuki era globalisasi, Muhammadiyah mampu memperluas perannya melalui pendidikan tinggi, rumah sakit, lembaga zakat, serta berbagai amal usaha lainnya.

Namun, tantangan yang akan dihadapi dalam 25 tahun mendatang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan tantangan yang pernah dihadapi sebelumnya. Oleh karena itu, menatap Muhammadiyah 25 tahun ke depan berarti membicarakan bagaimana organisasi ini mampu menjaga relevansinya, memperkuat kontribusinya, sekaligus mempertahankan identitas Islam berkemajuan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

Dari Organisasi Besar Menjadi Organisasi Berpengaruh Global

Selama ini, ukuran keberhasilan Muhammadiyah sering kali dilihat dari besarnya jumlah amal usaha yang dimiliki. Ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, serta berbagai lembaga sosial menjadi bukti nyata kontribusi Muhammadiyah bagi bangsa.

Namun, 25 tahun ke depan, ukuran keberhasilan organisasi tidak lagi semata-mata ditentukan oleh jumlah aset yang dimiliki. Hal yang jauh lebih penting adalah sejauh mana organisasi mampu memengaruhi perkembangan masyarakat.

Dunia saat ini memasuki era ekonomi pengetahuan. Dalam era ini, pengaruh intelektual sering kali lebih menentukan dibandingkan kepemilikan aset fisik. Universitas terbaik dunia bukan hanya dikenal karena gedung-gedungnya, tetapi karena gagasan yang dihasilkannya. Lembaga sosial yang berpengaruh bukan hanya karena jumlah cabangnya, tetapi karena kemampuannya memengaruhi kebijakan publik dan arah peradaban.

Muhammadiyah perlu bergerak dari sekadar organisasi besar menjadi organisasi yang memiliki pengaruh global. Pengaruh tersebut dapat diwujudkan melalui penguatan riset, publikasi ilmiah internasional, pengembangan pusat-pusat kajian strategis, serta keterlibatan aktif dalam isu-isu global seperti perubahan iklim, kemiskinan, perdamaian dunia, dan keadilan ekonomi.

Muhammadiyah memiliki modal besar untuk itu. Jaringan perguruan tinggi yang luas dapat menjadi basis pengembangan ilmu pengetahuan. Rumah Sakit Muhammadiyah dapat menjadi pusat inovasi kesehatan. Lembaga zakat dan filantropi dapat menjadi laboratorium untuk mengembangkan model ekonomi keadilan sosial berbasis nilai-nilai Islam.

Tantangan Perubahan Karakter Generasi

Salah satu tantangan terbesar Muhammadiyah dalam 25 tahun ke depan adalah perubahan karakter generasi. Generasi muda yang akan mendominasi Indonesia pada tahun 2050 adalah generasi yang lahir dan tumbuh dalam dunia digital. 

Mereka memperoleh informasi bukan dari mimbar, melainkan dari media sosial. Mereka belajar bukan hanya di sekolah, tetapi juga melalui platform digital. Mereka membangun identitas bukan hanya melalui keluarga dan komunitas, tetapi juga melalui jejaring virtual.

Perubahan ini membawa konsekuensi besar bagi model dakwah Muhammadiyah. Pendekatan dakwah yang selama ini mengandalkan ceramah konvensional perlu dilengkapi dengan strategi dakwah digital yang lebih kreatif, interaktif, dan berbasis data. Muhammadiyah perlu membangun ekosistem dakwah digital yang mampu menjangkau generasi muda dengan bahasa yang mereka pahami.

Tantangan lainnya adalah munculnya fenomena individualisme digital. Banyak anak muda merasa terhubung dengan dunia, tetapi justru semakin jauh dari komunitas nyata. Mereka memiliki ribuan teman di media sosial, tetapi tetap merasa kesepian dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks ini, Muhammadiyah perlu hadir bukan hanya sebagai organisasi dakwah, tetapi juga sebagai komunitas yang menyediakan ruang bagi generasi muda untuk tumbuh, belajar, dan menemukan makna hidup.

Jika Muhammadiyah gagal menjawab kebutuhan generasi muda, organisasi ini berisiko kehilangan relevansinya. Sebaliknya, jika berhasil memahami aspirasi mereka, Muhammadiyah dapat menjadi rumah besar bagi generasi masa depan.

Tantangan Kecerdasan Buatan

Salah satu perubahan terbesar yang akan membentuk masa depan adalah perkembangan kecerdasan buatan. Dalam dua dekade mendatang, AI diperkirakan akan mengubah hampir semua aspek kehidupan manusia. Banyak pekerjaan akan tergantikan oleh mesin. Cara belajar akan berubah. Cara bekerja akan berubah. Bahkan cara manusia mengambil keputusan pun akan mengalami transformasi.

Pertanyaannya, bagaimana Muhammadiyah merespons fenomena ini? Selama ini, diskusi tentang AI sering kali berfokus pada aspek teknologi dan ekonomi. Padahal, AI juga menimbulkan persoalan etika, moral, dan spiritual yang sangat mendalam.

Apakah manusia akan kehilangan makna ketika sebagian besar pekerjaannya digantikan oleh mesin? Bagaimana menjaga nilai kemanusiaan di tengah dominasi algoritma? Bagaimana Islam memberikan panduan etis terhadap penggunaan teknologi yang semakin canggih?

Muhammadiyah perlu mengambil peran strategis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Perguruan Tinggi Muhammadiyah harus menjadi pusat pengembangan kajian AI yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki perspektif etika Islam. Muhammadiyah perlu menjadi salah satu pelopor pengembangan "AI Beretika" yang berlandaskan prinsip keadilan, kemaslahatan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Penguatan Gerak Pendidikan di Muhammadiyah

Selama lebih dari satu abad, pendidikan menjadi jantung gerakan Muhammadiyah. Namun, tantangan pendidikan di masa depan akan sangat berbeda. Di era kecerdasan buatan, informasi tersedia secara melimpah. Murid dapat memperoleh pengetahuan melalui berbagai platform digital. Dalam kondisi seperti ini, fungsi sekolah dan universitas tidak lagi sekadar mentransfer pengetahuan.

Lembaga pendidikan harus menjadi tempat pembentukan karakter, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan inovasi. Muhammadiyah perlu melakukan transformasi besar dalam sistem pendidikannya. Kurikulum harus lebih adaptif terhadap perubahan. Metode pembelajaran harus mendorong kreativitas dan kolaborasi. Budaya riset harus diperkuat sejak dini.

Perguruan Tinggi Muhammadiyah perlu bertransformasi menjadi universitas riset yang mampu menghasilkan inovasi kelas dunia. Bukan hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga produsen pengetahuan. Ke depan, keberhasilan pendidikan Muhammadiyah tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa, tetapi juga dari jumlah penemuan, publikasi ilmiah, paten, serta kontribusi nyata dalam penyelesaian masalah masyarakat.

Kemandirian Ekonomi sebagai Pilar Kemajuan

Salah satu agenda strategis Muhammadiyah dalam 25 tahun ke depan adalah memperluas medan dakwah ke sektor ekonomi riil dan industri. Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah telah menunjukkan keberhasilan luar biasa dalam membangun pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Namun, tantangan masa depan menuntut Muhammadiyah untuk melangkah lebih jauh, yakni menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan kemandirian umat.

Selama ini, kontribusi Muhammadiyah dalam bidang ekonomi sering kali masih lebih dominan pada aspek filantropi, pemberdayaan UMKM, koperasi, dan penguatan ekonomi masyarakat. Semua itu penting dan harus terus diperkuat. Akan tetapi, jika Muhammadiyah ingin menjadi salah satu aktor penting dalam membangun peradaban Islam berkemajuan, maka keterlibatan dalam sektor produksi dan industri tidak dapat lagi dihindari.

Realitas ekonomi global menunjukkan bahwa negara-negara maju tidak dibangun hanya melalui aktivitas perdagangan atau jasa semata. Mereka bertumpu pada kekuatan industri, penguasaan teknologi, serta kemampuan menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Negara yang hanya bergantung pada komoditas mentah cenderung rentan terhadap gejolak harga global dan sulit keluar dari jebakan pendapatan menengah.

Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan besar dalam memperkuat basis industrinya. Meskipun proses hilirisasi mulai berjalan di beberapa sektor, kontribusi industri manufaktur terhadap perekonomian belum kembali mencapai tingkat yang ideal seperti pada era industrialisasi sebelumnya. Dalam konteks inilah Muhammadiyah memiliki peluang untuk mengambil peran yang lebih strategis.

Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proses transformasi ekonomi nasional. Dengan jaringan perguruan tinggi, sekolah vokasi, rumah sakit, lembaga zakat, serta jutaan anggota yang tersebar di seluruh Indonesia, Muhammadiyah memiliki modal sosial yang sangat besar untuk membangun ekosistem ekonomi yang produktif.

Dakwah ekonomi masa depan tidak cukup hanya mengajarkan etika bisnis Islam atau mendorong umat untuk menjadi pedagang. Dakwah ekonomi harus bergerak menuju penciptaan pusat-pusat produksi, kawasan industri berbasis komunitas, pengembangan teknologi tepat guna, industri halal, agroindustri modern, industri kesehatan, serta industri kreatif berbasis digital.

Selama ini industrialisasi sering dipahami sebagai agenda ekonomi semata. Padahal dalam perspektif yang lebih luas, industrialisasi sesungguhnya merupakan bagian dari pembangunan peradaban. Maka ketika Muhammadiyah ikut membangun industri, sesungguhnya Muhammadiyah sedang menciptakan fondasi kesejahteraan ekonomi umat.

Industrialisasi yang dimaksud tentu bukan sekadar membangun pabrik. Industrialisasi adalah proses peningkatan nilai tambah melalui inovasi, teknologi, efisiensi, dan penguasaan rantai pasok. Dalam konteks ini, Muhammadiyah dapat berperan melalui berbagai sektor strategis.

Pertama, industri halal. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar menjadi pusat industri halal global. Muhammadiyah dapat terlibat dalam pengembangan makanan halal, farmasi halal, kosmetik halal, hingga wisata halal.

Kedua, industri kesehatan. Jaringan rumah sakit Muhammadiyah dan 'Aisyiyah yang sangat luas dapat menjadi basis pengembangan industri alat kesehatan, bahan baku farmasi, maupun inovasi layanan kesehatan berbasis teknologi.

Ketiga, agroindustri. Muhammadiyah memiliki basis massa yang kuat di daerah pedesaan. Potensi tersebut dapat dihubungkan dengan pengembangan industri pangan, pengolahan hasil pertanian, serta penguatan ketahanan pangan nasional.

Keempat, industri berbasis teknologi dan ekonomi digital. Perguruan Tinggi Muhammadiyah harus menjadi inkubator lahirnya perusahaan rintisan (startup), pusat inovasi teknologi, serta perusahaan berbasis riset yang mampu bersaing di tingkat global.

Salah satu keunggulan Muhammadiyah yang mungkin belum dimiliki oleh banyak organisasi lain adalah besarnya aset wakaf yang dikelola. Selama ini sebagian besar aset wakaf digunakan untuk sekolah, masjid, kampus, dan rumah sakit. Model tersebut telah memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat. Namun, ke depan diperlukan inovasi dalam pengelolaan wakaf agar lebih produktif. Wakaf tidak hanya diposisikan sebagai instrumen sosial, tetapi juga sebagai instrumen pembangunan ekonomi.

Bayangkan apabila sebagian aset wakaf dikelola untuk membangun kawasan industri halal, pusat logistik pangan, kawasan agroindustri, pusat riset teknologi, atau perusahaan strategis, dengan keuntungannya digunakan untuk membiayai pendidikan dan pelayanan sosial Muhammadiyah. Dengan demikian, filantropi Islam tidak hanya berfungsi sebagai jaring pengaman sosial, tetapi juga menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi.

Penyiapan Kader Penggerak

Agenda industrialisasi Muhammadiyah tentu tidak akan berhasil tanpa dukungan sumber daya manusia yang memadai. Karena itu, dalam 25 tahun ke depan, Muhammadiyah perlu melahirkan lebih banyak kader yang menjadi ekonom, teknokrat, ilmuwan, inovator, insinyur, pengusaha industri, dan pemimpin korporasi.

Selama ini banyak kader Muhammadiyah yang berhasil menjadi akademisi, guru, dokter, ulama, dan birokrat. Ke depan, diperlukan perhatian yang sama seriusnya untuk melahirkan kader-kader yang mampu memimpin perusahaan nasional maupun global.

Perguruan Tinggi Muhammadiyah harus menjadi pusat pencetak technopreneur dan industrial entrepreneur yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memiliki komitmen terhadap kemaslahatan umat dan bangsa.

Di sinilah konsep Islam Berkemajuan menemukan relevansinya. Islam berkemajuan tidak berhenti pada pembangunan moral individu, tetapi juga mendorong lahirnya kemajuan ekonomi, teknologi, dan peradaban.

Islam Berkemajuan di Tengah Polarisasi Dunia

Dunia di masa depan kemungkinan akan menghadapi berbagai bentuk polarisasi baru. Polarisasi politik, ekonomi, budaya, bahkan agama dapat semakin menguat akibat perkembangan teknologi informasi. Di tengah kondisi tersebut, Muhammadiyah memiliki peluang besar untuk menawarkan model Islam yang moderat, inklusif, dan berkemajuan.

Islam Berkemajuan bukan sekadar slogan. Ia merupakan cara pandang yang memadukan kemurnian ajaran Islam dengan keterbukaan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam 25 tahun mendatang, dunia membutuhkan model keberagamaan yang mampu menjawab tantangan modernitas tanpa kehilangan akar spiritualitasnya. 

Muhammadiyah memiliki modal historis dan intelektual untuk memainkan peran tersebut. Tantangannya adalah bagaimana gagasan Islam Berkemajuan dapat terus dikembangkan menjadi wacana global yang diperhitungkan dalam percaturan pemikiran Islam dunia.

Muhammadiyah saat ini mulai dikenal di berbagai negara. Namun, pengaruh internasional tersebut masih dapat diperluas. Ke depan, Muhammadiyah perlu memperkuat diplomasi global melalui pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan pemikiran Islam.

Kehadiran cabang istimewa Muhammadiyah di berbagai negara merupakan modal penting untuk membangun jaringan global. Universitas Muhammadiyah dapat memperluas kerja sama internasional. Rumah Sakit Muhammadiyah dapat menjadi model pelayanan kesehatan berbasis nilai-nilai Islam.

Melalui langkah-langkah tersebut, Muhammadiyah dapat berkembang menjadi aktor masyarakat sipil global yang berkontribusi dalam penyelesaian berbagai persoalan dunia.

Menjaga Spirit Keikhlasan di Tengah Profesionalisme

Di balik seluruh agenda transformasi tersebut, terdapat satu tantangan mendasar yang tidak boleh dilupakan, yaitu menjaga semangat keikhlasan. Semakin besar organisasi, semakin kompleks pula tata kelolanya. Profesionalisme menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Namun, profesionalisme tanpa keikhlasan dapat mengubah gerakan dakwah menjadi sekadar institusi administratif.

Sebaliknya, keikhlasan tanpa profesionalisme dapat membuat organisasi tertinggal dalam persaingan di era modern. Karena itu, Muhammadiyah 25 tahun ke depan harus mampu memadukan dua hal tersebut, yaitu profesionalisme modern dan spiritualitas yang mendalam.

Nilai-nilai yang diwariskan oleh Ahmad Dahlan harus tetap menjadi ruh gerakan. Semangat beramal, berkorban, melayani, dan memajukan umat harus terus dijaga meskipun organisasi semakin besar dan kompleks.

Menatap Muhammadiyah 25 tahun ke depan sejatinya bukan sekadar membayangkan masa depan sebuah organisasi. Hal yang sedang dibicarakan adalah masa depan salah satu kekuatan sosial-keagamaan terbesar yang dimiliki bangsa Indonesia.

Muhammadiyah memiliki modal sejarah, jaringan kelembagaan, sumber daya manusia, dan legitimasi sosial yang sangat kuat. Namun, modal besar tersebut tidak secara otomatis menjamin keberhasilan di masa depan. Perubahan zaman yang semakin cepat menuntut kemampuan beradaptasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya.

Dua puluh lima tahun mendatang, Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi organisasi yang bertahan. Muhammadiyah harus menjadi organisasi yang memimpin perubahan. Tidak cukup hanya menjadi pengikut perkembangan zaman, tetapi juga menjadi penentu arah peradaban. Tidak cukup hanya mengelola amal usaha, tetapi juga menghasilkan gagasan besar yang mampu menjawab tantangan kemanusiaan global.

Jika mampu menjaga kemurnian nilai, memperkuat tradisi ilmu pengetahuan, membangun kemandirian ekonomi, memanfaatkan teknologi secara bijaksana, serta terus menghadirkan Islam yang mencerahkan, maka Muhammadiyah bukan hanya akan tetap relevan pada tahun 2050. Muhammadiyah akan menjadi salah satu kekuatan peradaban yang berkontribusi dalam membentuk masa depan Indonesia dan dunia. Tantangan 25 tahun ke depan adalah memastikan cahaya itu tidak hanya tetap menyala, tetapi juga semakin terang dalam menerangi jalan kemajuan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Muhammadiyah di Era Digital: Jembatan Dakwah atau Jurang Pemisah Hari Eko Purwanto, Dosen Ilmu Kom....

Suara Muhammadiyah

21 September 2024

Wawasan

Refleksi Puasa untuk Kualitas Diri yang Mencerahkan Oleh: Rumini Zulfikar, Penasehat PRM Troketon ....

Suara Muhammadiyah

28 February 2025

Wawasan

Ketika Rupiah Menguji Demokrasi Oleh: Suko Wahyudi, Pegiat Literasi Tinggal di Yogyakarta  Fl....

Suara Muhammadiyah

15 March 2026

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (28) Oleh: Mohammad Fakhrudin (warga Muhammadiyah tinggal di M....

Suara Muhammadiyah

14 March 2024

Wawasan

Oleh: Suko Wahyudi, Pegiat Literasi di Yogyakarta Melihat Indonesia hari ini, barangkali kita sedan....

Suara Muhammadiyah

11 April 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah