Mukmin Tangguh Lulusan Madrasah Ramadhan
Oleh: Moh. As Syakir Hasbullah, Imam Masjid Ahmad Dahlan Sumodikaran, Bojonegoro, Jawa Timur
Imam Syafi’i pernah merumuskan tiga indikator berat sebagai tolok ukur kualitas iman seseorang: “Bermurah hati di saat kekurangan, bersikap wara’ ketika sendirian, dan berbicara benar di hadapan orang yang diharapkan sekaligus ditakuti.”
Bagi jiwa yang imannya rapuh, ketiga hal ini terasa nyaris mustahil dijalani. Namun Islam tidak membiarkan hamba-Nya tetap lemah. Ramadhan hadir sebagai “kawah candradimuka”—madrasah intensif yang menempa mentalitas mukmin agar bertransformasi menjadi pribadi tangguh melalui keseimbangan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial.
Melawan Kikir di Masa Sulit
Ketangguhan pertama diuji melalui harta. Menjadi dermawan saat kelapangan adalah hal biasa, tetapi tetap berbagi di tengah keterbatasan adalah puncak kesalehan sosial. Ramadhan melatihnya melalui rasa lapar yang menumbuhkan empati secara organik, bukan sekadar wacana.
Allah Swt. menegaskan bahwa ciri orang bertakwa ialah mereka yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit (QS. Ali Imran: 134). Rasulullah Saw. pun mencontohkan ketangguhan ini: beliau adalah manusia paling dermawan, dan kedermawanannya memuncak pada bulan Ramadhan, bahkan digambarkan lebih cepat daripada angin yang berhembus (HR. Bukhari).
Di sinilah Ramadhan menempa kita untuk memutus ketergantungan pada materi, lalu beralih pada semangat ta’awun (tolong-menolong). Kesalehan tidak berhenti pada ibadah personal, tetapi menjelma menjadi kekuatan sosial yang menguatkan ekonomi umat.
Integritas dalam Kesunyian
Ketangguhan kedua adalah integritas pribadi. Mukmin tangguh tidak memiliki “wajah ganda”: tetap saleh di tengah keramaian dan tetap terjaga dalam kesunyian. Inilah hakikat wara’. Puasa adalah ibadah rahasia yang melatih kejujuran personal di hadapan Sang Khaliq.
Rasulullah Saw. bersabda, “Sebaik-baik agama kalian adalah sifat wara’.” (HR. Ath-Thabrani). Saat seseorang mampu menahan diri dari yang halal di ruang tertutup karena merasa diawasi Allah (muraqabah), saat itu ia sedang membangun benteng kesalehan pribadi yang kokoh.
Ramadhan melatih kita agar tidak mudah goyah oleh godaan maksiat. Integritas tetap tegak, bahkan ketika tidak ada pengawasan manusia. Inilah fondasi ketangguhan spiritual seorang mukmin.
Sintesis Ketangguhan: Keberanian Moral
Ketangguhan ketiga merupakan sintesis antara kedalaman kesalehan pribadi dan keluasan kepedulian sosial: keberanian moral. Banyak orang terjepit antara harapan dunia dan ketakutan pada manusia, sehingga memilih bungkam di hadapan kezaliman.
Teladan ketangguhan ini tampak pada Nabi Musa a.s. saat menghadapi Fir’aun. Beliau berdoa, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku.” (QS. Thaha: 25–27).
Mukmin yang “lulus” dari madrasah Ramadhan akan memiliki nyali menyampaikan kalimat al-haq, sebab ia sadar bahwa jihad paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zalim (HR. Abu Dawud). Inilah manifestasi mukmin tangguh yang menjalankan fungsi kontrol sosial demi kemaslahatan bersama.
Ramadhan bukan sekadar perubahan jadwal makan, melainkan momentum sinkronisasi antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Mukmin tangguh tidak lahir dari kemudahan, tetapi dari tempaan amalan-amalan berat yang dijalani secara konsisten selama sebulan penuh.
Jika Ramadhan kita lalui dengan melatih kedermawanan, menjaga integritas, dan mengasah keberanian moral, insyaAllah kita akan lahir kembali sebagai pribadi kokoh—bukan hanya saleh secara ritual di dalam masjid, tetapi juga tangguh dan bermanfaat di tengah masyarakat.
Wallahu a‘lam bi al-shawab.

