Mendorong Mi’raj Intelektual di PTMA

Suara Muhammadiyah

14 October 2026

173
Prof Dr H Haedar Nashir, M.Si

Prof Dr H Haedar Nashir, M.Si

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Secara obyektif, setiap manusia harus belajar untuk menghargai setiap jejak, langkah dari siapapun yang berkiprah di Persyarikatan. Tak terkecuali mereka yang berjuang pelosok tanah air. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam Sidang Senat Terbuka dalam rangka Milad ke-35 Tahun Universitas Aisyiyah Yogyakarta (14/10) mengingatkan untuk tidak menutup mata terhadap mereka yang berjuang di ranting-ranting serta cabang terjauh. Yang dalam keterbatasannya tetap memberikan yang terbaik untuk kemajuan Muhammadiyah.

Dalam upaya merancang masa depan UNISA Yogyakarta yang gemilang, Haedar berpesan agar UNISA tidak hanya berada di zona aman dan nyaman. “Karena yang paling bahaya adalah perasaan aman, perasaan nyaman, dan perasaan sudah sukses. Lalu kita tidak melipatgandakan langkah-langkah terbaik untuk meningkatkan kemajuan menjadi keunggulan,” ujarnya.

Keunggulan yang dimaksud tidak lain adalah bahwa UNISA Yogyakarta harus menjadi front stage (etalase) dari Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Islam berkemajuan. Yaitu etalase yang menyajikan keunggulan, keteladanan, pengayoman, dan segala hal positif lainnya. “Dengan menjadi front stage, mengharuskan UNISA segera memposisikan diri sebagai role model bagi Perguruan Tinggi Aisyiyah,” ungkap Haedar.

Menurut Haedar, menjadi role model berarti bersedia menjadi sosok yang mengayomi. Dan sikap mengayomi selalu identik dengan karakter ibu. Sehingga ia berharap UNISA Yogyakarta dapat menjadi sosok seorang ibu bagi perguruan tinggi Aisyiyah yang lain. “Ibu itu cintanya melampaui samudera. Selalu memberi, tak pernah meminta,” ucapnya.

Bagi Haedar, bukan sesuatu yang mustahil bagi UNISA Yogyakarta untuk menjadi pusat keunggulan. Tapi juga bukan sesuatu yang mudah dan instan. Untuk mencapainya, ada syarat yang harus dipenuhi dan ditunaikan. Yang mana seluruh pimpinan dan civitas akademika UNISA harus memiliki spektrum, lanskap, daya jelajah, serta relasi yang luas. Banyak melihat ke luar untuk belajar serta menjelajahi batas-batas yang inklusif. Lewat pertaruhan ini, Haedar percaya UNISA Yogyakarta akan menjadi perguruan tinggi yang unggul dalam banyak bidang. 

“Maka perluaslah spektrum, cara berpikir, alam pikiran, orientasi sikap, sampai pada langkah-langkah UNISA menembus batas-batas,” paparnya.

Sehingga mi’raj intelektual di Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) bagi Haedar menjadi sebuah keniscayaan yang sangat relevan di abad modern seperti sekarang. Dimana dosen-dosen yang bergelar profesor maupun doktor tidak hanya memaknai gelar tersebut sebagai sesuatu yang formalistik, tapi lebih dari itu, mampu mentransformasikan ilmunya menjadi sesuatu yang bernilai dan bermakna.

Di hadapan seluruh dosen dan mahasiswa UNISA Yogyakarta, Haedar berpesan, untuk bisa sampai ke pada posisi ulil albab, Haedar memberikan tips, dosen dan mahasiswa harus akrab dengan dunia-dunia intelektual, mulai dari gemar membaca, berdiskusi, serta menyampaikan ilmu kepada khalayak ramai.  

Menyoal kepemimpinan di PTMA, Haedar menambahkan, kemajuan atau kemunduran sebuah institusi atau organisasi tidak dapat dilepaskan dari sosok pemimpin. Kepemimpinan menjadi kunci dari sebuah perjalanan agar sampai kepada tujuan yang telah digariskan. Kepemimpinan transformatif seolah datang menjadi alternatif di tengah gaya kepemimpinan birokratik yang kaku dan karismatik yang hanya bertumpu kepada satu sosok. 

Kepemimpinan model ini terletak pada kemampuan seseorang memobilisasi segala potensi yang dimiliki untuk maju. “Ngantor itu jangan hanya datang dan pergi, analisa potensi kita apa. Bila perlu kelemahan kita juga,” ujarnya.

Kedua, mengagendakan perubahan. Ketiga, memproyeksikan masa depan. Di banyak universitas di Eropa dan Amerika, mereka fokus mengkaji soal orientasi studi masa depan. Dari sini, Haedar menegaskan, jika Muhammadiyah dan Aisyiyah ingin maju, ia harus mampu memanfaatkan, memobilisasi, mengakselerasi pranata-pranata, institusi-institusi yang ada di dalamnya. Mulai dari ranting, cabang, jamaah, masjid, dan seluruh amal usaha lainnya.

“Ini harus diperkuat. Jika kita ingin maju, manfaatkan potensi-potensi yang kita miliki,” tutupnya. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) memperkuat jejaring ....

Suara Muhammadiyah

30 January 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta menyelenggarakan pentas seni sebagai ....

Suara Muhammadiyah

20 February 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka menyiapkan sekolah/madrasah Muhammadiyah yang unggul, Maj....

Suara Muhammadiyah

20 September 2024

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Seminar Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa-Tingkat Dasar (L....

Suara Muhammadiyah

11 June 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Penutupan Bimbingan Teknis Sistem Informasi Manajemen (SIM) Keu....

Suara Muhammadiyah

1 October 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah