Meneladani Pak AR: Seni Memimpin dengan Humor dan Sarung yang Melintasi Zaman

Suara Muhammadiyah

11 July 2026

517
Foto Ilustrasi SM

Foto Ilustrasi SM

Meneladani Pak AR: Seni Memimpin dengan Humor dan Sarung yang Melintasi Zaman

Oleh: Arif Rahman Hakim, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pondok Gede

Hidup di zaman Orde Baru (1966–1998) di bawah kendali Presiden Soeharto jelas bukan perkara mudah. Saat itu, pemerintahannya sangat kuat, militeristik, dan semua harus serba seragam. Melalui berbagai aturan ketat, ruang gerak politik masyarakat dibatasi hingga ke tingkat desa. Bahkan, semua organisasi wajib memakai Pancasila sebagai Asas Tunggal. Salah bicara sedikit saja, urusannya bisa panjang. Suasana kaku dan penuh tekanan ini tak jarang membuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat di akar rumput menjadi tegang.

Namun, di tengah sensor media yang ketat dan budaya kekuasaan yang feodal itu, muncul sosok pemimpin yang membawa angin segar. Beliau adalah KH. Abdur Rozak Fachruddin—atau yang akrab disapa Pak AR—Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1968–1990.

Ketika banyak tokoh memilih jalur konfrontasi yang berisiko memicu konflik, Pak AR justru memilih jalan yang sangat unik: diplomasi kultural yang sejuk. Kritik-kritik tajamnya kepada pemerintah tidak disampaikan dengan urat tegang atau pidato berapi-api, melainkan lewat guyonan bernas (guyon waton) dan sindiran halus khas Yogyakarta.

Saat aturan Asas Tunggal dipaksakan pada tahun 1985, Pak AR menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Beliau memilih kompromi di ranah formal demi menyelamatkan roda dakwah Muhammadiyah dari pembubaran, tanpa sedikit pun menggadaikan akidah tauhid dan keimanan warganya.

Kesederhanaan Pak AR adalah magnet moral yang luar biasa. Gaya hidupnya yang sangat bersahaja melahirkan wibawa alami. Beliau tidak punya utang budi materi kepada penguasa, sehingga bebas bicara apa saja. Diplomasi "sarung" yang ia lakoni mencerminkan kedekatan tanpa batas dengan rakyat jelata. Selama 22 tahun memimpin Muhammadiyah, Pak AR sukses membuktikan bahwa kelenturan berkomunikasi bisa melunakkan hati penguasa yang paling keras sekalipun.

Berikut adalah tiga cerita unik yang melegenda tentang bagaimana humor Pak AR berhasil "menaklukkan" ketegasan Pak Harto:

1. Diplomasi Tarawih: "Cara Muhammadiyah" vs "Cara NU"

Kisah ini terjadi saat Pak AR dan beberapa tokoh agama diundang ke kediaman pribadi Soeharto di Jalan Cendana untuk shalat Tarawih berjamaah. Tanpa persiapan, Pak AR tiba-tiba ditunjuk menjadi imam. Di Indonesia, jumlah rakaat Tarawih sejak dulu adalah isu yang sensitif (Muhammadiyah biasa 11 rakaat, sedangkan NU 23 rakaat). Pak Harto sendiri secara kultural dikenal dekat dengan tradisi Islam tradisionalis.

Sebelum memulai shalat, Pak AR berbalik menghadapi jemaah, menatap Pak Harto, lalu bertanya dengan santun: "Bapak Presiden, ini mau rakaatnya cara Muhammadiyah yang ringkas dan cepat, atau cara NU yang panjang dan lama?" Mendengar pertanyaan spontan yang menggelitik itu, ketegangan di ruangan langsung mencair. Pak Harto tertawa terkekeh-kekeh. Sambil tersenyum, sang Jenderal menjawab, "Cara Muhammadiyah saja, Pak AR." Lewat humor sederhana, polarisasi yang biasanya memicu debat kusir berubah menjadi kebersamaan yang hangat.

2. Kritik Asas Tunggal: Ibarat Helm dan Menunggang Motor

Ketika rezim Orde Baru mewajibkan Pancasila sebagai Asas Tunggal, tensi politik berada di titik didih. Banyak tokoh Islam merasa aturan ini sengaja dibuat untuk meminggirkan peran agama. Salah melangkah, taruhannya adalah penjara atau organisasi dibubarkan.

Dalam sebuah pertemuan langsung dengan Soeharto, Pak AR menyampaikan sikap Muhammadiyah lewat analogi berkendara yang sangat gampang dipahami. "Pak Harto, Pancasila itu ibaratnya seperti helm. Kalau kita naik motor di jalan raya, pemerintah mewajibkan kita pakai helm demi keselamatan. Muhammadiyah tidak keberatan memakai helm itu, dan kami patuh," kata Pak AR. Beliau tersenyum manis, lalu melanjutkan, "Tapi mohon jangan sampai helm itu dimasukkan ke dalam kepala, sampai-sampai merusak otak kami. Kepala kami isinya tetap Islam dan tauhid. Helmnya cukup di luar saja sebagai aturan main." Analogi yang cerdas ini membuat Soeharto manggut-manggut setuju tanpa merasa tersinggung.

3. "Menodong" Presiden di Atas Podium

Pada Muktamar Muhammadiyah ke-41 tahun 1985 di Surakarta, Presiden Soeharto hadir untuk membuka acara. Saat mendapat giliran berpidato, Pak AR memanfaatkan momen resmi tersebut untuk menyuarakan isi hati rakyat kecil secara blak-blakan, tetapi dikemas dengan jenaka.

Kala itu, pemerintah daerah sedang gencar-gencarnya menarik berbagai jenis iuran dan pajak yang memberatkan kantong warga. Di depan mikrofon dan disaksikan ribuan orang, Pak AR berkata, "Pak Harto, warga Muhammadiyah itu semuanya setia pada negara. Disuruh bayar pajak apa saja, insya Allah bayar. Tapi mohon, Pak... kalau bisa iuran-iuran yang di bawah itu jangan terlalu banyak macamnya. Kasihan rakyat kecil, kantongnya sudah tipis." Kritik tajam yang disampaikan dengan wajah adem itu sukses membuat para pejabat yang hadir tersipu malu, dan pesannya langsung sampai ke telinga presiden tanpa memicu kemarahan.

Dari tiga kisah di atas, kita bisa belajar bahwa cara berpolitik Pak AR memakai prinsip Menang tanpa Ngasorake (menang tanpa merendahkan lawan). Beliau paham betul bahwa Soeharto adalah tipikal pemimpin Jawa yang jika ditekan secara keras akan membalas dengan lebih kejam. Namun, jika dihadapi dengan kelembutan dan humor yang cerdas, egonya akan melunak.

Keteladanan Pak AR ini rasanya menampar kita yang hidup di era media sosial sekarang. Ruang digital kita hari ini penuh sesak oleh fenomena flexing atau pamer kemewahan, serta pencitraan buatan yang sengaja diproduksi demi mengejar algoritma dan jumlah pengikut. Banyak orang berebut panggung kepemimpinan dengan modal kemasan luar yang mahal, namun miskin teladan nyata.

Lewat kisah hidup Pak AR, kita diingatkan kembali bahwa wibawa sejati seorang pemimpin tidak lahir dari barang bermerek, mobil mewah, atau popularitas semu di dunia maya. Karisma sejati tumbuh dari kesederhanaan yang jujur serta keselarasan antara apa yang diucapkan di podium dengan apa yang dijalani sehari-hari di tengah masyarakat. Di tengah dunia yang makin bising oleh pencitraan, kesahajaan Pak AR adalah kompas moral yang akan selalu relevan melintasi zaman.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (26) Oleh: Mohammad Fakhrudin (warga Muhammadiyah tinggal di M....

Suara Muhammadiyah

29 February 2024

Wawasan

Strategi Cerdas Merdeka Finansial Dalam Perspektif Islam Oleh: Faozan Amar, Associate Professor Fak....

Suara Muhammadiyah

22 August 2026

Wawasan

Merdeka untuk Tetap Menjadi Diri Sendiri Oleh: Yulianti, Dosen dan Peneliti Komunikasi, Universitas....

Suara Muhammadiyah

14 August 2026

Wawasan

Membebaskan Nalar dari Paradoks: Memahami Ulang Surah Al-A'raf 172 dan Perjanjian Primordial Kita O....

Suara Muhammadiyah

9 July 2025

Wawasan

Refleksi Milad Ke-93 Pemuda Muhammadiyah dan Spirit Diaspora Kader Oleh: Ilham Kurniawan, S.IP, Mah....

Suara Muhammadiyah

2 May 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah