Merdeka untuk Tetap Menjadi Diri Sendiri

Suara Muhammadiyah

14 August 2026

85
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Merdeka untuk Tetap Menjadi Diri Sendiri

Oleh: Yulianti, Dosen dan Peneliti Komunikasi, Universitas Islam Bandung

Apakah setiap bantuan selalu membuat seseorang lebih berdaya?

Pertanyaan itu menjadi penting ketika kehidupan sehari-hari semakin berpindah ke ruang digital. Membayar tagihan, mentransfer uang, berbelanja, mengecek saldo, bahkan menerima berbagai layanan kini dapat dilakukan melalui layar. Bagi generasi yang tumbuh bersama teknologi, perubahan itu mungkin terasa alamiah. Bagi sebagian lansia, setiap perubahan berarti harus mempelajari kembali cara melakukan sesuatu yang selama puluhan tahun telah mereka kuasai.

Di sinilah kemerdekaan memperoleh arti yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kita terbiasa membicarakan kemerdekaan sebagai kebebasan sebuah bangsa menentukan nasibnya sendiri. Namun bukankah pada tingkat paling personal, kemerdekaan juga menyangkut kesempatan seseorang untuk tetap menentukan pilihan, menyampaikan kehendak, dan melakukan sesuatu dengan caranya sendiri?

Usia seharusnya tidak menghapus hak itu.

Seorang lansia mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami langkah sebuah transaksi. Ia mungkin meminta penjelasan diulang. Bisa pula ia memilih menelepon anaknya sebelum menekan tombol “bayar”, sekadar memastikan tidak ada yang keliru. Semua itu mudah dibaca sebagai ketidakmampuan. Padahal, boleh jadi yang berbeda hanyalah tempo dan cara ia membangun rasa aman.

Persoalannya muncul ketika perbedaan itu segera dijawab dengan pengambilalihan.

Kita mengambil ponselnya karena lebih cepat. Menentukan pilihan karena merasa lebih tahu. Menyelesaikan transaksi karena khawatir ia salah. Semuanya dilakukan atas nama kasih sayang dan perlindungan. Niatnya tentu baik. Namun tanpa disadari, bantuan dapat menggeser posisi lansia: dari orang yang mengambil keputusan menjadi orang yang sekadar menerima keputusan.

Maka, menjelang peringatan kemerdekaan, barangkali ada pertanyaan yang layak kita bawa lebih dekat ke rumah: sudahkah orang-orang yang menua bersama kita tetap merdeka menjadi dirinya sendiri?

Bukan merdeka untuk dibiarkan menghadapi teknologi sendirian. Bukan pula merdeka dari kebutuhan akan bantuan. Melainkan merdeka untuk tetap didengar, diberi kesempatan mencoba, boleh bertanya tanpa merasa bodoh, dan tetap menjadi pemilik keputusan atas kehidupan yang dijalaninya.

Sebab terkadang batas antara membantu dan mengambil alih hanya dipisahkan oleh satu hal yang sangat sederhana: cara kita berkomunikasi.

Dalam ilmu komunikasi, apa yang terjadi dalam percakapan sederhana antara orang tua dan anak tadi bukan perkara kecil. Communication Accommodation Theory (CAT) yang dikembangkan Howard Giles menjelaskan bahwa ketika berinteraksi, manusia terus menyesuaikan cara berkomunikasi dengan lawan bicaranya. Kita mengubah tempo, memilih kata yang dianggap lebih mudah dipahami, mengatur intonasi, bahkan menentukan seberapa banyak penjelasan perlu diberikan.

Penyesuaian itu disebut akomodasi.

Dalam hubungan antargenerasi, akomodasi sangat dibutuhkan. Anak yang menjelaskan transaksi digital kepada ibunya, misalnya, mungkin perlu mengurangi istilah teknis, menunjukkan langkah satu per satu, atau memberi waktu lebih panjang sebelum berpindah ke tahap berikutnya. Sang ibu pun melakukan penyesuaian: mencoba mengenali istilah baru, mengikuti cara pembayaran yang berbeda, atau belajar memahami tanda-tanda yang muncul di layar.

Inilah konvergensi—ketika dua orang mendekatkan cara berkomunikasi agar lebih mudah saling memahami.

Tetapi mendekat bukan berarti menyeragamkan.

Persoalan muncul ketika kita tidak lagi menyesuaikan komunikasi berdasarkan kebutuhan orang yang ada di hadapan kita, melainkan berdasarkan bayangan kita tentang usia tua. Karena rambutnya telah memutih, kita menganggap penjelasan harus dibuat sangat sederhana. Karena jemarinya bergerak lebih lambat, kita menyimpulkan ia tidak akan mampu. Karena ia bertanya dua kali, kita memilih mengambil alih.

CAT mengenal keadaan semacam ini sebagai overaccommodation, penyesuaian berlebihan yang dalam komunikasi dengan lansia dapat muncul karena stereotip mengenai ketidakmampuan atau ketergantungan pada usia lanjut.

Niatnya boleh jadi baik. Dampaknya belum tentu demikian.

Bayangkan seorang ayah yang sedang belajar mentransfer uang melalui aplikasi perbankan. Anaknya berdiri di samping, lalu berkata, “Sudah, Pak, nanti salah. Saya saja.”

Transaksi memang selesai lebih cepat. Risiko salah tekan mungkin berkurang. Tetapi sang ayah tidak memperoleh kesempatan untuk memahami proses yang baru saja dilakukan atas namanya. Jika pola itu terus berulang, ia bisa tetap menjadi pengguna layanan keuangan digital tanpa pernah sungguh-sungguh menjadi pelaku di dalamnya.

Di sinilah kita perlu membedakan perlindungan dengan pengambilalihan.

Lansia memang menghadapi risiko nyata di ruang finansial digital. Tautan palsu, permintaan kode OTP, rekayasa sosial, hingga berbagai modus penipuan menuntut kewaspadaan. Karena itu, membiarkan orang tua menghadapi semuanya sendirian tentu bukan kemerdekaan. Namun perlindungan juga tidak harus berarti seluruh keputusan berpindah tangan.

Ada pilihan ketiga: mendampingi.

Duduk di sebelahnya. Menjelaskan. Menunggu. Membiarkannya mencoba. Mengoreksi ketika diperlukan. Dan yang paling penting, tetap mengakui bahwa uang, pilihan, dan keputusan itu adalah miliknya.

Cara berkomunikasi seperti ini penting karena teknologi finansial bukan hanya perkara tombol mana yang harus ditekan. Di balik keputusan menggunakan atau menghindari suatu layanan terdapat rasa aman, keyakinan, pengalaman, dan kepercayaan.

Seseorang yang setiap kali mencoba selalu diperingatkan, “Jangan, nanti salah,” mungkin akhirnya memang tidak melakukan kesalahan. Tetapi ia juga bisa belajar satu hal lain: bahwa dunia digital bukan tempat yang mampu ia hadapi sendiri.

Sebaliknya, ketika bantuan diberikan dengan cara yang menghargai, pengalaman yang terbentuk bisa berbeda. Lansia mempunyai ruang untuk bertanya tanpa dipermalukan, mencoba tanpa terus dicurigai akan gagal, dan memastikan kembali sesuatu tanpa dianggap merepotkan. Komunikasi semacam itu dapat ikut membentuk rasa percaya dalam berhadapan dengan layanan digital.

Di sinilah persoalan inklusi keuangan digital menjadi lebih manusiawi.

Inklusi tidak cukup diukur dari apakah seseorang memiliki rekening, aplikasi, atau pernah melakukan transaksi digital. Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: siapa yang sesungguhnya memahami dan mengambil keputusan ketika transaksi itu dilakukan?

Ada pula sisi lain dari akomodasi yang sering luput. Tidak semua perbedaan harus dihilangkan.

Dalam CAT dikenal divergence dan maintenance: seseorang dapat mempertahankan sebagian cara komunikasinya sebagai ekspresi identitas. Dalam kehidupan lansia, hal itu mudah ditemukan. Ada yang tetap lebih nyaman menelepon daripada bertukar pesan panjang. Ada yang ingin mencatat langkah transaksi sebelum mencobanya. Ada pula yang memilih menggunakan pembayaran digital untuk kebutuhan tertentu, tetapi tetap memakai uang tunai untuk kebutuhan lainnya.

Pilihan-pilihan itu tidak serta-merta menunjukkan kegagalan beradaptasi.

Kita sering membayangkan keberhasilan digital sebagai kemampuan melakukan segala sesuatu seperti generasi yang lebih muda: cepat, tanpa bertanya, tanpa mencatat, dan tanpa ragu. Padahal mungkin ukuran itu sendiri yang perlu dipertanyakan.

Lansia tidak harus menjadi muda agar layak disebut cakap digital.

Akomodasi yang baik justru memberi ruang bagi perbedaan. Yang muda belajar memperlambat langkah ketika diperlukan; yang tua bersedia mempelajari sesuatu yang baru. Keduanya bergerak mendekat, tetapi tidak harus kehilangan dirinya masing-masing.

Pandangan ini menemukan pijakan yang lebih dalam dalam Islam. Al-Qur’an menegaskan, “Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam” (QS Al-Isra’ [17]: 70). Kemuliaan manusia tidak berhenti ketika rambut memutih, gerak melambat, atau teknologi berubah lebih cepat daripada kemampuan seseorang mengikutinya.

Karena itu, penghormatan kepada lansia semestinya tidak berhenti pada mencium tangan, menyediakan tempat duduk, atau membantu memenuhi kebutuhannya. Penghormatan juga hadir dalam cara kita berbicara kepadanya: apakah kita masih mendengar pendapatnya, memberi ruang bagi pilihannya, dan memperlakukannya sebagai orang dewasa yang mempunyai kehendak atas hidupnya sendiri.

Termasuk atas kehidupan finansialnya.

Barangkali di situlah makna kemerdekaan menjadi sangat dekat. Bukan kebebasan untuk melakukan semuanya sendirian, melainkan kebebasan untuk tetap menjadi subjek ketika bantuan memang diperlukan.

Dilindungi tanpa dibuat tidak berdaya. Dibantu tanpa diambil alih. Diakomodasi tanpa kehilangan diri.

Agustus selalu membawa kita kembali pada kata merdeka. Kita mengibarkan bendera, mengenang perjuangan, dan mengingat bahwa kemerdekaan memberi sebuah bangsa hak untuk menentukan jalannya sendiri. Namun setelah puluhan tahun merdeka, kata itu mungkin perlu dibawa pulang ke ruang-ruang yang lebih kecil: ke rumah, ke meja makan, bahkan ke layar ponsel di tangan orang tua kita.

Di sanalah kemerdekaan kadang diuji dengan cara yang tidak kita sadari.

Ketika seorang ibu membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pembayaran, apakah kita bersedia menunggu? Ketika seorang ayah bertanya untuk ketiga kalinya tentang pesan yang masuk ke ponselnya, apakah kita masih menjawab dengan kesabaran yang sama? Dan ketika pilihan mereka berbeda dengan yang menurut kita paling praktis, apakah kita tetap mengakui pilihan itu sebagai milik mereka?

Pertanyaan-pertanyaan kecil ini penting karena bertambahnya usia tidak membuat seseorang berhenti membutuhkan kendali atas hidupnya. Lansia boleh membutuhkan bantuan, tetapi kebutuhan akan bantuan tidak dengan sendirinya menghapus hak untuk memilih.

Begitu pula dalam kehidupan finansial digital.

Kita tentu ingin orang tua terlindungi dari penipuan, salah transaksi, dan berbagai risiko yang datang bersama teknologi. Namun rasa aman yang sesungguhnya tidak selalu lahir ketika semua urusan mereka kita ambil alih. Ada rasa aman lain yang lebih bertahan: ketika seseorang memahami apa yang sedang dilakukan, tahu kapan harus berhenti, berani bertanya ketika ragu, dan tahu kepada siapa ia dapat meminta bantuan.

Mungkin inilah bentuk pendampingan yang perlu kita tumbuhkan: bukan membuat lansia bergantung kepada kita, tetapi membuat mereka tahu bahwa kita ada ketika dibutuhkan.

Islam menempatkan manusia dalam kemuliaan yang tidak ditentukan oleh muda atau tua, cepat atau lambat, mahir atau gagap menghadapi teknologi. Karena itu, menghormati lansia tidak cukup hanya dengan melayani mereka. Ada kalanya penghormatan justru berarti menahan diri untuk tidak mengambil alih.

Membiarkan tangan yang mulai lambat itu mencoba.

Menunggu beberapa detik lebih lama.

Menjelaskan sekali lagi.

Lalu tetap mempercayakan keputusan kepada pemiliknya.

Barangkali kemerdekaan memang bisa sesederhana itu.

Pada suatu hari, ketika ibu kembali membuka aplikasi pembayaran dan sedikit lama mencari menu yang tepat, mungkin kita tidak perlu buru-buru berkata, “Sudah, Bu. Biar saya saja.”

Kita bisa duduk di sebelahnya dan mengatakan sesuatu yang berbeda: “Pelan-pelan saja, Bu. Ibu coba. Saya temani.”

Sebab pada akhirnya, menjadi merdeka bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Merdeka adalah tetap mempunyai suara, pilihan, dan kendali ketika hidup mengharuskan kita menerima bantuan. Dan menjadi tua seharusnya tidak pernah berarti kehilangan kemerdekaan untuk tetap menjadi diri sendiri.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Liliek Pratiwi, S.Kep., Ners., M.KM Setiap wanita yang sedang mengandung, beserta seluruh ang....

Suara Muhammadiyah

4 July 2025

Wawasan

Religiusitas yang Berbuah: Dari Ibadah Pribadi ke Kesalehan Sosial Oleh: Ahsan Jamet Hamidi –....

Suara Muhammadiyah

20 March 2026

Wawasan

Mau Boikot? Jangan Lupa Hitung Siapa yang Sebenarnya Rugi Oleh: Rusydi Umar, Dosen S3 Informatika U....

Suara Muhammadiyah

12 August 2025

Wawasan

Manusia Tersesat dalam Makna Al-Fatihah Ayat 6 Oleh: Bayu Madya Chandra, SEI, Pengajar Ponpes Darul....

Suara Muhammadiyah

26 September 2025

Wawasan

Fardhu Kifayah di Era Jempol: Saat Empati Berhenti di Layar Oleh: Ratna Arunika Di tengah reruntuh....

Suara Muhammadiyah

12 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah