Menemukan Bahagia di Tengah Hedonic Treadmill

Publish

16 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
100
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Menemukan Bahagia di Tengah Hedonic Treadmill

Oleh: Bahrus Surur-Iyunk, Penulis Tetap Rubrik "Bina Akidah" Majalah Suara Muhammadiyah

Kita hidup di zaman yang membuat kita selalu ingin lebih. Lebih besar rumahnya, lebih mewah mobilnya, lebih tinggi pendapatannya, dan lebih lengkap isi keranjangnya. Seakan-akan kebahagiaan itu dapat dibeli dengan harga, dan nilai seseorang ditentukan oleh apa yang ia miliki, bukan siapa dirinya.

Namun, ada satu temuan dalam psikologi keuangan yang menyadarkan kita: semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin kecil pengaruh uang dalam menciptakan kebahagiaan. Fenomena ini dikenal dengan nama "Hedonic Treadmill". Sebuah istilah yang menggambarkan seseorang yang terus berlari mengejar kesenangan, tapi tak pernah sampai pada tujuan kebahagiaan sejati.

Bayangkan seseorang yang dulunya bergaji lima juta rupiah per bulan. Semua penghasilannya habis untuk kebutuhan. Ketika penghasilannya naik menjadi tiga puluh juta, ternyata tetap habis juga. Mengapa? Karena ekspektasi dan gaya hidup pun ikut naik, mengimbangi peningkatan pemasukan. Saat naik sepuluh juta, ia ingin mobil. Saat penghasilannya naik lima puluh juta, ia ingin mobil yang jauh lebih mahal.

Nafsu terhadap kemewahan tidak memiliki ujung. Ia tumbuh seiring waktu, menuntut lebih dan lebih, tanpa pernah merasa cukup. Inilah jebakan kehidupan modern, di mana seseorang berlari cepat di atas treadmill, tapi tidak bergerak maju.

Ada sebuah eksperimen menarik yang bisa menjadi Pelajaran. Seseorang memenangkan undian sebesar lima miliar rupiah. Namun, enam bulan setelah menerima uang itu, tingkat kebahagiaannya tidak berbeda dibanding sebelum menang. Kenapa? Karena kesenangan materi bersifat sementara. Setelah euforia lewat, kembali lagi manusia pada titik kebiasaannya: mengejar hal berikutnya.

Al-Qur’an sendiri telah memperingatkan sejak berabad-abad silam:

أَلْهَاكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرْتُمُ ٱلْمَقَابِرَ ۝ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui.” (QS. At-Takâtsur [102]: 1–3)

Manusia, dengan segala kelemahan fitrahnya, memang diciptakan memiliki rasa gelisah dan tidak puas, seperti yang ditegaskan dalam ayat lain:

إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا ۝ إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًا ۝ وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan, ia kikir.” (QS. Al-Ma‘ârij [70]: 19–21)

Lalu bagaimana keluar dari jeratan hedonic treadmill ini? Jawabannya sebenarnya sederhana tapi mendalam. Yaitu, ubah orientasi hidupmu! Hidup bersahaja. Cukup dengan yang halal dan seperlunya. Tidak silau pada gemerlap dunia. Dan yang lebih penting, perbanyak memberi.

Penelitian modern pun telah mengonfirmasi bahwa memberi kepada orang lain justru mendatangkan kebahagiaan yang lebih tahan lama daripada membelanjakan uang untuk diri sendiri. Rasulullah pernah bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan bukanlah banyaknya harta benda. Sesungguhnya kekayaan yang sejati adalah kekayaan jiwa.” (HR. al-Bukhari)

Bahagia itu bukan berarti harus punya semuanya, tapi merasa cukup dengan yang ada. Kadang, bahagia itu sesederhana menyeruput kopi hangat di pagi hari. Memeluk orang tua dan anak-anak. Memberi senyum kepada tetangga. Berbagi rezeki dengan tukang sampah. Atau, menenangkan hati dengan dzikir di sela perjalanan ke tempat kerja.

Bahagia itu bukan tujuan, tapi cara kita menjalani hidup. Hidup bukan sebagai kompetisi mengumpulkan harta, tapi perjalanan memberi makna. Maka, setiap hari akan menjadi cahaya.

Hedonic treadmill adalah cermin yang mengingatkan kita. Bahwa banyak bukan selalu berarti bahagia. Kebahagiaan sejati itu lahir dari jiwa yang bersyukur, hati yang ringan memberi, dan hidup yang ikhlas dijalani. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu berhenti sejenak dari perlombaan dunia, dan mulai menapak jalan tenang menuju Hari yang berakhir semuanya.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ القَنَاعَةِ، وَارْزُقْنَا غِنَى النَّفْسِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang merasa cukup dengan pemberian-Mu, limpahkanlah kami rezeki kekayaan jiwa, dan kokohkan hati kami untuk selalu mentaati-Mu.” Aamiin


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Prahara Politik Putusan MK: Antara Horor dan Humor Oleh: Immawan Wahyudi,  Immawan Wahyudi Dos....

Suara Muhammadiyah

25 August 2024

Wawasan

Oleh: Prof Dr Abdul Mu’ti, MEd Transformasi nilai ibadah qurban merupakan bagian dari upaya u....

Suara Muhammadiyah

15 May 2025

Wawasan

Mata Jahat: Antara Keyakinan dan Logika di Era Modern Oleh: Donny Syofyan: Dosen Fakultas Ilmu Buda....

Suara Muhammadiyah

5 March 2025

Wawasan

Jadilah Pekerja Profesional, Bukan Transaksional Oleh: Muhammad Zakiy, Dosen Program Studi Ekonomi ....

Suara Muhammadiyah

6 October 2024

Wawasan

Oleh: Bobi Hidayat Pendidikan akan selalu berkembang secara dinamis dari masa ke masa. Perkembangan....

Suara Muhammadiyah

18 October 2023