Meneteskan Nila Kebaikan: Mengapa Tuhan Merawat Keberagaman Keyakinan?

Suara Muhammadiyah

22 August 2026

120
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Meneteskan Nila Kebaikan: Mengapa Tuhan Merawat Keberagaman Keyakinan?

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Sebuah pertanyaan mendasar yang kerap berbisik di ruang-ruang diskusi keagamaan dan mengusik nalar publik adalah: jika memang Islam merupakan kebenaran mutlak dari Sang Pencipta, mengapakah Allah membiarkan agama-agama lain terus tumbuh subur, berkembang biak, dan bertahan melintasi zaman? Bukankah keberagaman jalan spiritual yang saling bertolak belakang ini justru membingungkan umat manusia yang tengah mencari arah keselamatan? Pertanyaan semacam ini wajar mencuat ke permukaan karena selama berabad-abad doktrin keagamaan acap kali disederhanakan secara terlampau biner dan kaku. 

Pesan iman kerap dipersempit menjadi proposisi hitam-putih yang mutlak: bahwa hanya satu golongan yang merengkuh kebenaran total, sementara seluruh entitas spiritual di luarnya hanyalah kesesatan yang batil belaka. Cara pandang yang reduksionis inilah yang pada akhirnya melahirkan kebingungan eksistensial manakala manusia berhadapan dengan fakta sosiologis bahwa bumi dihuni oleh ribuan keyakinan yang sama-sama berdenyut hidup.

Untuk mengurai kerumitan ini, kita perlu meletakkan relasi ketuhanan dan penciptaan secara lebih matang, proporsional, serta filosofis. Kita sebaiknya tidak membayangkan Tuhan layaknya seorang dalang boneka mekanis yang mengendalikan seluruh gerak-gerik ciptaan-Nya dengan menarik tali-tali boneka secara paksa. Tuhan tidak menciptakan manusia sebagai robot tanpa kehendak atau wayang tanpa daya cipta. Sebaliknya, Dia mengizinkan sejarah kemanusiaan bergulir dan berproses secara organik, bertahap, dan alami. Dalam proses pertumbuhan peradaban yang dinamis inilah, Sang Pencipta melakukan penyesuaian-penyesuaian moral dan spiritual yang diperlukan melalui turunnya wahyu-wahyu Ilahi kepada para nabi dan rasul dari masa ke masa.

Sebuah perumpamaan yang indah dan jernih dapat membantu kita memahami dinamika agung ini. Bayangkanlah Tuhan sedang menatap ke dalam sebuah kolam air yang luas dan berkehendak menghadirkan rona kebiruan yang teduh pada air tersebut. Dalam perumpamaan ini, kolam yang luas itu adalah panggung peradaban dunia, sedangkan warna biru melambangkan pancaran kebaikan, kesalehan, dan kemaslahatan moral. Tuhan berkehendak agar kebaikan menyebar ke segenap penjuru bumi, namun Dia tidak serta-merta mengecat atau mengubah seluruh kolam menjadi biru pekat secara paksa dalam satu kedipan mata. 

Cara kerja kebijaksanaan Ilahi jauh lebih halus dan anggun. Yang Dia lakukan adalah meneteskan konsentrat pewarna biru di satu titik tertentu pada kolam tersebut, dengan rancangan agung bahwa melalui efek riak air yang bergerak melingkar secara bertahap, molekul-molekul warna biru itu pada akhirnya akan merembes, berdifusi, dan mewarnai seluruh kolam hingga mencapai takaran rona keindahan yang Dia kehendaki.

Dalam kerangka metafora tersebut, kita dapat memahami realitas dunia yang sejak awal memang sudah berdenyut dengan percampuran antara kebaikan dan keburukan moral. Tuhan berkehendak menyuntikkan tambahan energi kebaikan ke dalam sistem peradaban manusia, maka Dia menurunkan risalah pamungkas kepada Nabi Muhammad SAW. Kehadiran wahyu tersebut laksana tetesan tinta biru murni yang jatuh ke permukaan air. Bermula dari sebuah oasis di tengah gurun Arabia yang gersang, riak spiritual itu secara perlahan namun pasti membesar, melintasi batas-batas geografis dan kultural, hingga akhirnya merambah ke berbagai penjuru bumi. Umat beriman kemudian bermigrasi melintasi benua, dari Timur Tengah menuju Asia, Afrika, hingga belahan barat seperti Kanada dan Eropa. Mereka membawa serta butir-butir pesan suci tersebut, menghidupkannya dalam etika keseharian, membangun komunitas, dan mewarnai lanskap peradaban di tempat mereka berpijak.

Dengan kesadaran filosofis ini, kita dapat menangkap hakikat bahwa tujuan Ilahi dalam meneteskan tinta wahyu kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah untuk secara agresif membumihanguskan atau melenyapkan seluruh tradisi keagamaan lain yang telah ada sebelumnya. Risalah ini tidak diturunkan untuk menjadi palu godam yang menghancurkan semua keragaman, melainkan untuk menjadi standar etik tertinggi yang mengungguli, mempengaruhi, dan memberi warna baru pada keseluruhan kesadaran spiritual manusia. Melalui kehadiran Islam, masyarakat dunia dari berbagai latar belakang dipantik untuk menengok kembali, merenung secara kritis, dan berkata pada diri mereka sendiri, "Sungguh, ada sesuatu yang sangat mendalam dan memikat dari ajaran ini yang patut kita renungkan."

Jejak sejarah telah membuktikan bagaimana riak warna biru ini meresap melintasi batas-batas dogmatis. Sebagai contoh, jika kita menelaah kontroversi ikonoklasme yang mengguncang dunia Kristen Byzantium sekitar satu abad pasca-lahirnya Islam, banyak sejarawan melihat adanya resonansi pemikiran yang kuat dengan seruan tauhid murni yang didengungkan oleh Al-Qur'an. Penolakan tegas wahyu Islam terhadap penyembahan berhala dan representasi visual Tuhan secara tidak langsung memicu diskursus teologis internal di kalangan pemikir Kristen saat itu. 

Mereka mulai mempertanyakan apakah patung, lukisan, dan ikon-ikon keagamaan benar-benar membawa manfaat spiritual atau justru mendegradasi kesakralan ibadah kepada Sang Pencipta langit dan bumi yang Maha Gaib. Meskipun ikon-ikon keagamaan tersebut tetap bertahan, dinamika ini memperlihatkan bahwa gelombang kejernihan tauhid telah berhasil mempengaruhi alam pikir tradisi lain tanpa harus memusnahkan wadah fisiknya.

Pengaruh yang sama terjadi dalam skala kehidupan sehari-hari yang lebih intim dan praktis. Bayangkan seorang profesional Muslim yang bekerja di sebuah kantor modern di tengah masyarakat sekuler atau multikultural. Ketika rekan-rekan kerjanya yang berlainan keyakinan menyaksikan bagaimana ia secara konsisten menjauhi minuman keras, menjaga kehormatan diri dari pergaulan asusila, memperlakukan orang lain secara santun, serta menunjukkan integritas tinggi dengan tidak berbohong, tidak curang, dan tidak mencuri, maka sebuah pancaran moral telah terpantul. Rekan-rekan tersebut akan terinspirasi dan berkata dalam hati, "

Alangkah luhurnya integritas orang ini; aku pun ingin memiliki disiplin moral dan kejujuran seperti yang dia tunjukkan." Di titik inilah, warna kebaikan Islam meresap ke dalam sendi-sendi masyarakat luas bukan lewat pemaksaan doktrin, melainkan melalui pancaran keteladanan akhlak yang nyata. Inilah rancangan Ilahi yang sejati: bukan pemusnahan total terhadap selainnya, melainkan infiltrasi kebaikan yang terus-menerus merawat peradaban.

Namun, nalar kritis kita mungkin masih akan mengajukan gugatan: jika memang Islam adalah jalan yang paling sempurna, mengapakah Tuhan tidak membuat kebenaran ini tampak begitu benderang dan terang-benderang bagi setiap pasang mata, sehingga tidak ada ruang bagi keraguan? Bukankah Tuhan Mahakuasa untuk membuat seluruh umat manusia langsung memeluk Islam? Mengapa kebenaran agama tidak dijadikan sepasti dan semudah rumus matematika, di mana setiap orang yang waras niscaya sepakat bahwa dua ditambah dua sama dengan empat?

Tentu saja, jikalau Sang Pencipta berkehendak menjadikan Islam sebagai satu-satunya pilihan tanpa alternatif, Dia sangat mampu menjadikannya suatu realitas yang sedemikian mutlak dan mendominasi nalar manusia. Siapa pun yang menolaknya niscaya akan langsung dianggap kehilangan akal sehat. Akan tetapi, rancangan penciptaan manusia tidak dibangun di atas prinsip determinisme yang mekanis. Tuhan sengaja menurunkan Al-Qur'an dan mengutus Nabi Muhammad SAW sedemikian rupa sehingga kebenaran tersebut tetap menyisakan ruang bagi ikhtiar, pencarian, dan pergulatan batin.

Al-Qur'an sendiri secara eksplisit mengakui karakter dualistik dari wahyu-Nya: bahwa melalui ayat-ayat suci tersebut, Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang berkehendak mencari kebenaran, dan membiarkan tersesat mereka yang enggan membuka pintu hatinya. Pesan Ilahi ini bekerja laksana pedang bermata dua. Sebagian jiwa akan tergetar dan berduyun-duyun menyambutnya karena mengenali gaung kebenaran hakiki, sementara sebagian lainnya berpaling dan menutup diri karena terhalang oleh berbagai lapis hijab psikologis, kultural, maupun intelektual.

Salah satu realitas terberat dalam sosiologi manusia adalah bahwa tiap-tiap orang telah terikat secara emosional dan historis pada tradisi nenek moyang mereka. Mengubah paradigma keyakinan seseorang merupakan salah satu perkara paling rumit dalam sejarah kemanusiaan. Bahkan di dalam tubuh umat Islam sendiri, polarisasi mazhab, sekte, dan afiliasi pemikiran sering kali menciptakan tembok kokoh yang sangat sulit ditembus. Betapapun banyaknya dalil, argumen rasional, dan bukti empiris yang dihadirkan, kecenderungan alamiah manusia adalah kembali mencari pembenaran untuk mempertahankan posisi primordial mereka. Manusia bukanlah bejana kosong yang pasif; mereka adalah entitas kompleks yang dibentuk oleh lingkungan, trauma sejarah, dan struktur kognitif yang telah mendarah daging.

Tuhan Maha Mengetahui kerapuhan dan keterbatasan kodrati manusia tersebut. Sang Pencipta memandang hamba-hamba-Nya dengan kacamata keadilan yang melampaui sekat-sekat formalitas kelembagaan. Menariknya, pemahaman ini berkelindan dengan hikmah universal yang juga terekam dalam teks biblika Kisah Para Rasul, ketika Petrus menyadari sebuah kebenaran agung bahwa Tuhan berkenan menerima siapa pun dari bangsa mana pun, asalkan orang tersebut hidup dalam ketakwaan kepada-Nya dan senantiasa berbuat kebajikan.

Pandangan yang luas dan inklusif ini sesungguhnya berakar sangat kuat di jantung Al-Qur'an. Dalam Surah Al-Ma’idah ayat 48, Allah menegaskan bahwa bagi setiap umat telah ditetapkan syariat, aturan hukum, dan jalan hidup masing-masing. Ayat tersebut menyatakan secara gamblang bahwa seandainya Allah menghendaki, sangatlah mudah bagi-Nya untuk menyatukan seluruh umat manusia ke dalam satu komunitas keagamaan yang seragam (ummatan wahidah). Namun, Allah sengaja tidak melakukan hal itu. 

Keberagaman jalan ini sengaja dirawat sebagai ruang ujian Ilahi, untuk menguji sejauh mana setiap kelompok manusia mampu mempertanggungjawabkan cahaya petunjuk yang telah sampai kepada mereka. Puncak dari ayat tersebut ditutup dengan sebuah seruan moral yang melintasi zaman: fastabiqul khairat, yakni perintah agar manusia saling berlomba-lomba dalam mencetak kebajikan dan kesalehan universal.

Merenungi kedalaman ayat ini menyadarkan kita bahwa Tuhan akan menerima ketulusan dari setiap individu manusia yang berusaha sebaik mungkin berbuat adil, menjaga kesucian batin, dan menegakkan kebaikan, seturut dengan kondisi eksistensial tempat mereka dilahirkan. Setiap manusia hadir ke muka bumi dengan jangkauan pandang, latar belakang pengetahuan, dan situasi psikososial yang berbeda-beda. Dalam batas jangkauan pandang yang terbatas itulah manusia memilah antara yang baik dan yang buruk. Jiwa-jiwa yang tulus adalah mereka yang senantiasa memilih kebaikan yang dapat mereka raih dan berpaling dari keburukan yang nyata. Tuhan Yang Maha Adil akan menghakimi manusia berdasarkan kapasitas nalar, jangkauan informasi, serta pilihan-pilihan moral yang riil tersedia di hadapan mereka. 

Bagi sebagian orang, memeluk Islam adalah opsi rasional dan spiritual yang berada dalam jangkauan sadar mereka. Namun bagi miliaran manusia lainnya yang terkungkung oleh jurang prasangka, keterisolasian informasi, atau benteng sosiologis yang tebal, menjangkau Islam mungkin merupakan sebuah kemustahilan kognitif. Maka, Tuhan Yang Maha Bijaksana akan memperlakukan dan mengadili mereka sesuai dengan kondisi objektif yang melingkupinya.

Berangkat dari kesadaran teologis yang lapang ini, bagaimanakah seharusnya seorang Muslim memposisikan iman, membangun relasi dengan Tuhan, dan berinteraksi dengan dunia yang majemuk?

Langkah fundamental yang pertama adalah memantapkan keyakinan batin terhadap kebenaran ajaran yang dipeluk. Kita memandang Islam sebagai sebuah konsepsi spiritual dan intelektual yang sangat luhur. Di saat manusia di sepanjang sejarah meraba-raba dalam kegelapan tentang bagaimana cara menyembah dan mendekatkan diri kepada Sang Khaliq, Islam hadir memberikan panduan yang gamblang, runtut, dan otentik melalui wahyu kitab suci yang terjaga kemurniannya. Hubungan kita dengan Tuhan menjadi begitu dekat, personal, dan bermakna melalui pembacaan firman-Nya. Kejernihan dan kedamaian spiritual inilah yang patut kita tawarkan kepada dunia luas dengan penuh rasa syukur.

Namun, pada saat yang bersamaan, pemahaman tentang analogi tinta biru menuntut kita untuk menumbuhkan sikap toleransi yang lapang dan tulus. Kita menyadari bahwa keberadaan kita di tengah panggung global adalah untuk memberi warna, membagikan keharuman moral, dan memancarkan riak kebaikan kepada siapa saja tanpa diskriminasi. Kita tidak perlu terjebak dalam obsesi untuk menundukkan semua orang ke dalam panji yang sama. Kehadiran kita sebagai pribadi yang berintegritas, ramah, jujur, dan berakhlak mulia sesungguhnya sudah merupakan kontribusi kebaikan yang tak ternilai bagi peradaban.

Lebih dari itu, kita wajib memupuk rasa hormat yang mendalam kepada pemeluk keyakinan lain. Kita harus menyadari dengan rendah hati bahwa mereka pun memiliki ketulusan, kecintaan, dan komitmen batin yang sama besarnya terhadap jalan spiritual yang mereka tempuh, persis seperti komitmen yang kita miliki terhadap Islam. Kita mengikis segala bentuk kesombongan doktrinal dan arogansi keagamaan yang hanya akan melahirkan friksi, permusuhan, dan rasa tidak nyaman di tengah kehidupan bermasyarakat. Kita menyampaikan nilai-nilai kebenaran dengan tutur kata yang santun, narasi yang memikat, dan keteladanan yang sejati, lalu membiarkan setiap jiwa bebas menentukan pilihannya sendiri.

Pada akhirnya, panggung penghakiman terakhir bukanlah milik kita. Otoritas mutlak untuk menentukan siapa yang sesungguhnya berada di atas jalan kebenaran dan siapa yang tersesat berada seutuhnya di tangan Tuhan Yang Maha Adil pada Hari Pembalasan kelak. Kita boleh memelihara keyakinan teguh bahwa jalan kitalah yang diridhai oleh-Nya, namun kita tidak memiliki hak sedikit pun untuk mengambil alih peran Tuhan dengan menghakimi dan menistakan jiwa-jiwa lain. Tugas peradaban kita bukanlah mengadili orkestrasi takdir Ilahi yang telah merancang keberagaman ini, melainkan terus berikhtiar meneteskan warna biru kebaikan, merawat riak perdamaian, dan memuliakan harkat kemanusiaan di muka bumi.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Peristiwa Isra` dan Mi'raj meru....

Suara Muhammadiyah

7 February 2024

Wawasan

SM Layak Menjadi Cagar Budaya Oleh: Affan Safani Adham  Sekarang ini media satu persatu hilan....

Suara Muhammadiyah

12 August 2025

Wawasan

Oleh: Amalia Irfani, Sekretaris LPP PWM Kalbar/Dosen IAIN Pontianak  Pendidikan adalah bagian ....

Suara Muhammadiyah

5 May 2025

Wawasan

Berbuat Baik di dalam Pergaulan Oleh: Mohammad Fakhrudin Setiap muslim wajib berbuat baik di dalam....

Suara Muhammadiyah

7 July 2026

Wawasan

Puasa: Obat Dosa, Penguat Peradaban, dan Cermin Jiwa Oleh: Roehan Usman, Pengasuh Pesantren Ibnul Q....

Suara Muhammadiyah

2 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah