Mengapa Tokoh Muhammadiyah Banyak Berkecimpung dalam Seni, Budaya, dan Sastra?

Suara Muhammadiyah

9 July 2026

98
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Mengapa Tokoh Muhammadiyah Banyak Berkecimpung dalam Seni, Budaya, dan Sastra?

Catatan Mustofa W. Hasyim, Ketua Majelis Ilmu Nahdlatul Muhammadiyyin Indonesia

Di kalangan masyarakat masih hidup anggapan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang lebih menekankan purifikasi ajaran sehingga kurang memberi ruang bagi perkembangan seni dan budaya. Anggapan tersebut sesungguhnya tidak sepenuhnya tepat. Sejarah justru memperlihatkan kenyataan yang berbeda. Sejak masa awal berdirinya, Muhammadiyah telah melahirkan banyak sastrawan, seniman, budayawan, musikus, dramawan, pelukis, sutradara film, hingga pemikir kebudayaan yang memberikan sumbangan penting bagi perkembangan kebudayaan Indonesia.

Hal itu menunjukkan bahwa dalam tradisi Muhammadiyah, seni tidak diposisikan sebagai lawan agama, melainkan sebagai salah satu sarana untuk menumbuhkan kehalusan budi, memperkaya peradaban, serta menjadi media dakwah yang mencerahkan.

Jejak Tokoh Muhammadiyah di Dunia Seni dan Sastra

Sulit menghitung berapa banyak tokoh Muhammadiyah yang berkarya dalam bidang seni dan sastra. Berikut beberapa di antaranya.
Buya Hamka merupakan contoh paling menonjol. Selain dikenal sebagai ulama dan mufasir, beliau juga seorang novelis, sastrawan, wartawan, dan sejarawan. Atas jasa-jasanya, Muhammadiyah mengabadikan namanya menjadi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA) di Jakarta.

Ki Bagus Hadikusumo ketika masih belajar di Wonokromo, Pleret, Bantul mempelajari seni drama. Sepulangnya ke Kauman Yogyakarta, beliau ikut mengembangkan pertunjukan drama yang pada masa itu banyak dipengaruhi tradisi teater Mesir dengan iringan musik akordeon.

KH Ahmad Dahlan mempunyai jiwa seni yang tinggi. Beliau mahir memainkan biola dan beberapa kali mengundang kelompok orkes gambus untuk menghibur para tamu dan dermawan. Seni dijadikan bagian dari pendekatan dakwah yang menggembirakan.

KH Mas Mansur selain ulama juga dikenal sebagai pendekar pencak silat yang disegani. Tradisi bela diri yang berkembang di lingkungan Muhammadiyah kemudian melahirkan Tapak Suci sebagai salah satu warisan budaya Persyarikatan.

Dalam perjalanan sejarah Muhammadiyah, seni tradisi pun mendapat tempat. Pada masa-masa awal, lagu pembukaan Kongres Muhammadiyah berbentuk gending Jawa. Bahkan pernah ada kongres yang dibuka dengan pertunjukan wayang kulit. Hal ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak memusuhi kebudayaan lokal, melainkan melakukan dialog dengan kebudayaan secara kritis.

Di bidang kelembagaan, Taufiq Ismail pernah menjadi Ketua Majelis Kebudayaan PP Muhammadiyah. Kepemimpinannya diteruskan oleh Slamet Sukirnanto, kemudian Chaerul Umam, sutradara film nasional yang melahirkan berbagai karya penting. Setelah itu kepemimpinan dilanjutkan oleh penyair Jabrohim, kemudian Syukriyanto AR, hingga kini menjadi Lembaga Seni Budaya (LSB) PP Muhammadiyah yang dipimpin Prof. Dr. Gunawan Budiyanto.

Muhammadiyah juga melahirkan banyak tokoh sastra Indonesia, antara lain Abdul Hadi W.M., salah seorang pendiri IMM sekaligus penyair besar Indonesia; Mohammad Diponegoro, dramawan, cerpenis, novelis, pembaca cerpen yang sangat memikat, sekaligus pelopor puitisasi terjemahan Al-Qur'an; H. Basuni, wartawan dan novelis asal Kalimantan Selatan; A.A. Hamzah, sastrawan, dramawan, pemain film, pemikir kebudayaan, serta pendekar Tapak Suci; Dr. Kuntowijoyo, sejarawan dan salah satu novelis terbesar Indonesia; Emha Ainun Nadjib, budayawan dan penyair yang pernah aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah; serta Danarto, cerpenis dan sastrawan besar Indonesia.

Di dunia akademik, nama-nama seperti Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, Prof. Dr. Ali Imron Al Makruf, Prof. Dr. Andre Irawan, Prof. Dr. Nur Sahid, serta banyak akademisi lainnya turut memperkuat tradisi intelektual seni, sastra, musik, teater, filsafat, dan pedalangan di lingkungan Muhammadiyah.

Bidang seni rupa pun tidak kalah berkembang. Nama-nama seperti Amri Yahya, Syaiful Adnan, dan sejumlah perupa Muhammadiyah lainnya menjadi bagian dari perjalanan seni rupa Indonesia modern.

Masih banyak nama lain yang belum tercatat dalam tulisan singkat ini. Di antaranya Bahrum Bunyamin, Prof. Dr. Darwis Khudori, Ahmadun Yosi Herfanda, Mathori Al-Elwa, Hamdy Salad, dan generasi-generasi berikutnya yang terus memperkaya khazanah seni budaya Muhammadiyah.

Mengapa Tradisi Seni Tumbuh di Muhammadiyah?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan begitu banyak tokoh Muhammadiyah tumbuh menjadi seniman dan sastrawan.
Pertama, budaya literasi. Sejak awal Muhammadiyah menjadikan membaca sebagai bagian dari gerakan dakwah. Pendirian taman bacaan, perpustakaan, penerbitan buku, majalah, surat kabar, hingga toko buku menjadi fondasi lahirnya generasi penulis.

Kedua, tradisi pendidikan. Muhammadiyah membangun jaringan pendidikan yang sangat luas, mulai dari Bustanul Athfal, Sekolah Ongko Loro, Mu'allimin, Mu'allimat, sekolah umum, sekolah kejuruan, hingga perguruan tinggi. Dunia pendidikan menjadi ruang subur bagi tumbuhnya kreativitas.

Ketiga, tradisi dakwah yang komunikatif. Dakwah Muhammadiyah tidak hanya dilakukan melalui mimbar, tetapi juga melalui media massa, penerbitan, pertunjukan seni, musik, teater, dan berbagai bentuk komunikasi budaya.

Keempat, lingkungan intelektual. Kehidupan organisasi Muhammadiyah membentuk budaya berpikir, berdiskusi, menulis, mengelola gagasan, dan membangun disiplin sosial. Lingkungan seperti ini sangat mendukung lahirnya karya-karya seni yang bermutu.

Kelima, pemahaman agama yang mencerahkan. Seni dipahami sebagai bagian dari ikhtiar memuliakan kehidupan manusia selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Karena itu, lagu perjuangan, mars, drum band, pawai, pertunjukan seni, hingga festival budaya berkembang sebagai media dakwah yang menggembirakan.

Kelima faktor tersebut melahirkan sebuah ekosistem kebudayaan yang unik. Muhammadiyah tidak hanya menghasilkan ulama, guru, dokter, insinyur, dan ilmuwan, tetapi juga penyair, novelis, pelukis, pemusik, dramawan, sutradara film, budayawan, dan pemikir kebudayaan.

Sudah saatnya sejarah kebudayaan Muhammadiyah ditulis secara lebih lengkap. Sebab, kontribusi warga Persyarikatan terhadap perkembangan seni dan sastra Indonesia merupakan bagian penting dari sejarah kebudayaan bangsa yang belum banyak diungkap.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

(Menulis 109 Tahun Suara Muhammadiyah 2) Oleh Mu’arif Siapakah pembaca Suara Muhammadiyah se....

Suara Muhammadiyah

19 August 2024

Wawasan

Menjaga Lingkungan, Merawat Kehidupan (Komitmen IMM Dalam Mengawal Isu Lingkungan) Asman Budiman,&n....

Suara Muhammadiyah

20 May 2024

Wawasan

Lurus Jalan Terus: Refleksi Kritis Milad Muhammadiyah ke-113 Oleh: Soleh Amini Yahman. Psikolog, Do....

Suara Muhammadiyah

18 November 2025

Wawasan

Berpolitik yang BermuhammadiyahOleh: Tri Aji Purbani, A.Md, BI, Majelis Ekonomi Bisnis, Pariwisata d....

Suara Muhammadiyah

22 January 2024

Wawasan

Negara Sebagai Properti Keluarga Oleh: Immawan Wahyudi, Immawan Wahyudi, Pengajar di Fakultas Hukum....

Suara Muhammadiyah

21 January 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah