Mengenal KB-TK Aisyiyah Surya Bangsa – Pondok Cabe Ilir
Oleh: Ahsan Jamet Hamidi – Ketua PRM Legoso
KB-TK Aisyiyah Surya Bangsa, Pondok Cabe Ilir, Tangerang Selatan, akan menjadikan bermain sebagai bagian penting dari proses pembelajaran. Anak-anak belajar berpikir, bergerak, mencoba, dan menemukan hal-hal baru dengan cara yang menyenangkan. Matematika, bahasa, lingkungan, kreativitas, dan berbagai keterampilan dasar juga akan dikenalkan melalui permainan. Inilah salah satu cara sekolah menumbuhkan rasa ingin tahu, kemandirian, dan keberanian anak sejak usia dini.
Pada 16 Agustus 2026, Pimpinan Ranting Aisyiyah Pondok Cabe Ilir melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung KB-TK Aisyiyah Surya Bangsa di Griya Dakwah Muhammadiyah. Acara ini diresmikan oleh Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sekaligus Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, yang juga penasihat PRM dan PRA Pondok Cabe Ilir.
KB-TK Aisyiyah Surya Bangsa telah berjalan dengan 30 murid, guru, ruang belajar, dan sarana permainan yang cukup memadai. Pembangunan gedung baru diharapkan menghadirkan tempat belajar yang lebih sesuai. Sekolah ini tidak dimaksudkan untuk bersaing dengan lembaga pendidikan yang sudah ada, tetapi mengisi kebutuhan pendidikan anak usia dini di sekitar Pondok Cabe Ilir.
Pola pendidikannya mengembangkan empat ekosistem: keluarga, sekolah, masyarakat, dan media. Keempatnya berjalan bersama dalam membentuk pengetahuan, karakter, dan nilai keagamaan anak. Murid akan belajar melalui pengalaman langsung, seperti bermain, mengenal alam, merawat tanaman dan hewan, serta mengamati lingkungan. Dengan demikian, belajar menjadi lebih menyenangkan, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, mandiri, peduli, dan berakhlak mulia.
Mengenal Alam dan Makhluk Allah
Di sekolah ini, anak-anak diajak mengenal alam secara langsung. Mereka dapat mengamati berbagai jenis burung di kandang, melihat ikan di kolam, serta mengenal dan merawat tanaman. Mereka akan diajak mengisi polibag dengan berbagai bibit, seperti tomat, cabai, terong dll. Anak-anak akan menanam, merawat, mengamati pertumbuhan, hingga memetik hasilnya. Melalui kegiatan sederhana ini, mereka belajar mencintai dan menjaga alam.
Pengalaman tersebut kemudian dihubungkan dengan ajaran Al-Qur’an. Anak-anak dikenalkan dengan ayat-ayat tentang tumbuhan, buah-buahan, hewan, dan berbagai ciptaan Allah. Ketika melihat biji tumbuh menjadi tanaman, misalnya, guru dapat menjelaskan bahwa semua itu terjadi atas kehendak dan kuasa Allah. Dengan demikian, pembelajaran agama tidak berhenti pada hafalan. Anak-anak belajar memahami kebesaran Allah melalui pengalaman sehari-hari. Mereka diajak mencintai alam sekaligus mengenal Sang Pencipta.
Di sekolah ini, permainan menjadi bagian dari proses pembelajaran. Melalui bermain, guru mengenalkan matematika dengan cara sederhana dan menyenangkan. Anak-anak tidak langsung diajak menghitung angka, tetapi terlebih dahulu mengenal bentuk dan pola, seperti lingkaran, segitiga, persegi, dan persegi panjang. Misalnya, mereka diajak melompat dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Selain mengenalkan konsep dasar matematika, kegiatan ini juga melatih motorik kasar anak.
Permainan tidak harus menggunakan alat yang mahal. Buah-buahan plastik dengan berbagai warna, misalnya, dapat digunakan untuk mengajarkan anak mengelompokkan benda berdasarkan warna. Kegiatan sederhana ini sekaligus mengenalkan cara berpikir coding, yaitu mengelompokkan atau mengklasifikasikan sesuatu berdasarkan aturan tertentu. Coding tidak harus selalu menggunakan komputer. Sejak usia dini, anak dapat mengenal cara berpikir seperti coding melalui kegiatan mengenali warna, mengelompokkan benda, membuat pola, dan belajar berhitung.
Membangun Mimpi
Di sekolah ini kelak akan dibuat banyak gambar menarik untuk anak-anak. Salah satunya adalah peta dunia yang dilengkapi gambar berbagai bangunan terkenal, seperti Big Ben di London, Menara Eiffel di Paris, Colosseum di Roma, Taj Mahal di Agra, Tembok Besar China, Patung Liberty di New York, Piramida Giza di Mesir, Masjidil Haram dan Ka’bah di Makkah, serta Candi Borobudur dan Candi Prambanan di Indonesia.
Melalui gambar-gambar tersebut, anak-anak dapat mengenal berbagai tempat di dunia dan melihat betapa luas, beragam, dan kayanya dunia yang mereka tinggali. Gambar-gambar itu juga diharapkan dapat merangsang imajinasi dan membangun cita-cita mereka sejak dini. Mungkin suatu hari ada anak yang berkata, “Saya ingin kuliah di London,” atau “Saya ingin kuliah di Amerika.”
Mimpi-mimpi besar perlu dibangun sejak anak masih kecil. Karena itu, kegiatan belajar di sekolah ini dirancang menyenangkan dan memberi ruang bagi anak untuk bermain serta bereksplorasi. Pendidikan anak usia dini merupakan fondasi penting bagi pendidikan pada jenjang berikutnya. Pengalaman pada masa kecil turut membentuk karakter, rasa percaya diri, dan kemampuan anak di masa depan.
Masa kecil harus menjadi masa yang menggembirakan. Anak-anak perlu diberi ruang untuk bertanya, mencoba, bermain, dan bereksplorasi. Karena itu, sebisa mungkin kita mengurangi penggunaan kata “jangan”. Bukan berarti anak boleh melakukan apa saja, tetapi mereka perlu diberi kesempatan untuk mencoba dalam batas yang aman agar tumbuh menjadi pribadi yang berani dan percaya diri.
Anak-anak juga perlu didorong untuk memiliki mimpi yang tinggi. Seperti anak-anak dalam Laskar Pelangi, mereka perlu diberi keberanian untuk menyampaikan cita-cita. Hari ini mungkin ingin menjadi dokter, besok perawat, dan lusa pilot. Tidak masalah jika cita-cita itu berubah. Yang penting, mereka berani bermimpi.
Membangun Karakter Sejak Dini
Pendidikan anak usia dini menjadi fondasi penting bagi pendidikan pada jenjang berikutnya. Karena itu, KB-TK Aisyiyah Surya Bangsa ingin mendidik anak-anak menjadi generasi Qurani, dan cerdas dengan menempatkan pendidikan karakter sebagai salah satu perhatian utama. Karakter tidak hanya soal tata krama. Karakter juga mencakup kecerdasan, kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, kejujuran, kedisiplinan, dan keberanian. Nilai-nilai inilah yang ingin dibangun agar anak tumbuh menjadi generasi yang tangguh.
Menghafal ayat-ayat Al-Qur’an tentu penting. Namun, hafalan perlu disertai pembiasaan agar nilai-nilai Al-Qur’an tumbuh menjadi kepribadian dan keadaban anak. Misalnya, dalam pembagian makanan bergizi gratis (MBG), anak-anak tidak hanya diberi makanan. Mereka diajari mengambil makanan sendiri, mengantre dengan tertib, membersihkan tempat makan setelah selesai, dan mengembalikannya ke tempat semula. Kebiasaan sederhana yang dilakukan terus-menerus akan melatih anak menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain.
Dengan demikian, pendidikan di KB-TK Aisyiyah Surya Bangsa tidak hanya bertujuan membuat anak pintar. Sekolah ini ingin membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang memiliki mimpi, percaya diri, mandiri, berkarakter, mencintai sesama dan lingkungan, serta memiliki nilai-nilai Qurani dalam kehidupan sehari-hari.

