Menghargai Budaya dalam Dakwah Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

16 March 2024

1834
Pengajian Ramadan 1445 H

Pengajian Ramadan 1445 H

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Purifikasi bukan tekstualisasi. Jika purifikasi diartikan sebagai tekstualisasi, menunjukkan betapa sempit Islam memaknai kehidupan. Selain itu, purifikasi juga bukan upaya penghilangan budaya, jika ini yang terjadi, betapa tidak berbudayanya dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua PWM Jawa Tengah KH Tafsir dalam Pengajian Ramadan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (15/3). 

Masih banyak orang salah mengartikan purifikasi dalam dakwah Muhammadiyah. Purifikasi yang mereka pahami mengacu pada upaya untuk membersihkan ajaran Islam dari praktik-praktik yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama yang murni. Hal ini meliputi penolakan terhadap bid'ah dan upaya untuk kembali kepada ajaran Islam yang asli dan murni. 

Menurut Tafsir purifikasi adalah otentikasi dalam mencari Islam yang sejati, bukan justru menghilangkan budaya yang sudah ada. Hadirnya budaya dalam dakwah Muhammadiyah seharunya dapat dihargai atau bahkan diapresiasi sebagai produk yang memiliki nilai local wisdom dan kemanusiaan universal. Oleh sebab itu purifikasi harus dapat dimaknai secara luas dan penuh kebijaksanaan.  

“Orang Jawa gak bisa membuat tank, gak bisa membuat roket, yang bisa mereka buat adalah keris. Mari kita hargai itu agar Islam di Jawa berbudaya,” ujarnya. 

Syamsul Anwar mengatakan bahwa definisi agama ada dua. Pertama adalah apa yang disebut sebagai syariat. Berupa perintah, larangan, dan petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat. Kedua adalah pengalaman imaniah yang diekspresikan dalam amal salih yang dijiwai oleh Islam dan dibingkai oleh syariat. 

Menurutnya, agama sebagai pengalaman imaniah memiliki tiga unsur penting yaitu inti (substansi) sebagai din al-fitrah, kemudian bentuk (norma-norma syariat), dan yang terakhir manifestasi dalam wujud amal salih. 

Tak berhenti sampai di situ, manifestasi dalam wujud amal salih masih dapat dibedakan berdasarkan cakupannya. Mulai dari manifestasi dalam bentuk berpikir (manifestasi intelektual), manifestasi dalam bentuk perilaku (manifestasi aksional), dan manifestasi dalam tindak berekpresi (manifestasi ekspresional). 

“Jika kita lihat dari definisi tersebut sejatinya agama Islam tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan,” tegasnya. 

Sementara itu, dinamisasi dalam konteks Muhammadiyah merujuk pada upaya untuk menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang relevan dan sesuai dengan perkembangan zaman. Ini bisa melibatkan adaptasi terhadap perubahan sosial, teknologi, dan budaya agar pesan Islam dapat dipahami dan diimplementasikan dengan baik oleh masyarakat pada masa kini. Kedua konsep ini purifikasi dan dinamisasi merupakan bagian dari upaya Muhammadiyah untuk menjaga kesucian ajaran Islam sambil mengakomodasi dinamika perubahan zaman. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - PT Syarikat Cahaya Media /Suara Muhammadiyah meraih penghargaan presti....

Suara Muhammadiyah

1 November 2024

Berita

PEMALANG, Suara Muhammadiyah - Tari Kecak biasanya kita jumpai saat berwisata ke Pulau Dewata di Bal....

Suara Muhammadiyah

13 June 2024

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kabupaten Magelang sukses laksanak....

Suara Muhammadiyah

6 May 2025

Berita

 Guru Adalah Kunci: Peran PTMA Menyongsong Bahasa Inggris Wajib di SD  Oleh: Sucipto, M.P....

Suara Muhammadiyah

21 October 2025

Berita

PERLIS, Suara Muhammadiyah - Kwartir Pusat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan meresmikan dan melantik Q....

Suara Muhammadiyah

29 January 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah