KLATEN, Suara Muhammadiyah – ‘Aisyi Tower Klaten, menjadi wajah baru bisnis perhotelan yang diinisiasi oleh perempuan Muhammadiyah (‘Aisyiyah). Demikian Deni ‘Asy’ari mengemukakan, Kamis (11/6) saat conference pers di Ruang Darwis ‘Aisyi Tower Klaten.
“Ini wajah baru bisnis yang dikelola oleh perempuan Muhammadiyah. Bahwa sebagai Perempuan pun sesungguhnya bisa untuk mengurus bisnis secara profesional, bisnis secara terbuka,” kata Direktur Utama Suara Muhammadiyah tersebut.
Konsep fundamental dari ‘Aisyi Tower ini bernapaskan literasi. Mengapa? “Fondasinya dari media,” ujar Deni.

Harus diakui, akar tunjang Suara Muhammadiyah meniscayakan dirinya sebagai media. Yang dari situlah kemudian, inspirasi muncul untuk mengintegrasikan dengan konstruksi bangunan dari ‘Aisyi Tower Klaten ini.
“Kita membranding hotel kita ini sebagai hotel literasi. Dan harapannya ini benar-benar mencerahkan, memperkaya wawasan, memberdayakan masyarakat, sehingga ini bisa menginspirasi banyak orang,” jelasnya.
Secara khusus, ‘Aisyi Tower Klaten masuk kategori bintang 2 plus-plus. “Secara fasilitas, melebihi,” tuturnya. Kalau bintang 3, kata Deni, secara jumlah tidak masuk.
“Jumlah kamar kita 28. Kalau bintang 3, harus 40 minimal,” bebernya. Kalau bintang 2, sampai 30 kamar.
“Kita ini 28 kamar. Tetapi, secara fasilitas, kita seperti bintang 4. Terpenuhi di sini semua,” ucap Deni.

Lebih jauh lagi, ‘Aisyi Tower Klaten tidak mengusung konsep hotel syariah. Kenapa? “Karena ‘Aisyiyah itu lebih dari syariah,” bongkar Deni.
Yang jauh substansial, menjadikan pengunjung masuk ke ‘Aisyi Tower Klaten merasakan nilai-nilai dari kesyariahannya tersebut.
“Bagaimana orang masuk ke ‘Aisyi Tower ini mendapat nilai-nilai syariah itu tanpa labeling syariah sebagaimana kebanyakan hotel-hotel yang melabeling bisnisnya dengan syariah yang menurut kami itu hanya labeling bisnis. Kami tidak pada aspek labeling, tetapi pada aspek value,” tegasnya. (Cris)

