Menjadi Mu’min di Tengah Dunia yang Bising
Oleh : Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta
Kita hidup di zaman yang tidak pernah benar-benar sunyi. Notifikasi berbunyi tanpa jeda. Linimasa bergerak lebih cepat dari kemampuan hati untuk mencerna. Pendapat berseliweran, pujian dan celaan datang silih berganti. Dunia terasa seperti ruang besar yang penuh suara—ramai, riuh, dan sering kali melelahkan.
Di tengah kebisingan itu, kita tetap menyebut diri sebagai orang beriman. Kita menghadiri pengajian, mengikuti musyawarah, terlibat dalam amal usaha, dan berbicara tentang dakwah pencerahan. Namun ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan perlahan kepada diri sendiri, bagaimana menjadi mu’min yang utuh ketika dunia di sekitar kita begitu gaduh?
Allah menggambarkan orang-orang beriman dengan sangat indah: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (Q.S. Al-Anfal: 2). Ayat ini menampilkan sosok mu’min yang hatinya hidup, yang getarannya peka, yang tawakalnya nyata.
Namun realitas kita sering kali berbeda. Nama Allah disebut, tetapi hati tidak selalu bergetar. Ayat dibacakan, tetapi perhatian mudah terpecah oleh layar di genggaman. Tawakal diucapkan, tetapi kecemasan tetap menguasai pikiran. Apakah ini tanda lemahnya iman, atau tanda bahwa hati kita terlalu lama terpapar kebisingan?
Media sosial, misalnya, adalah ruang yang netral pada dirinya. Ia bisa menjadi ladang dakwah, bisa pula menjadi panggung riya. Ia bisa menjadi sarana silaturahim, bisa pula menjadi arena perlombaan citra. Di sana, kita melihat pencapaian orang lain setiap hari. Jabatan, penghargaan, perjalanan, karya, semua tersaji dalam hitungan detik. Tanpa sadar, hati mulai membandingkan. Mengapa saya belum seperti itu? Mengapa saya tidak disebut? Mengapa saya tidak dilibatkan?
Di titik itu, iman diuji secara halus. Ambisi yang awalnya dibungkus niat baik perlahan berubah menjadi kebutuhan akan pengakuan. Aktivitas yang semula diniatkan sebagai ibadah mulai diukur dengan jumlah apresiasi. Kita tetap bekerja untuk organisasi, tetap bergerak untuk umat, tetapi ada kegelisahan kecil yang sulit diusir, ingin dilihat, ingin dihargai, ingin dianggap penting.
Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan tentang bahaya yang begitu tersembunyi. Ketika ditanya tentang ihsan, beliau menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim). Hadis ini seakan menggeser pusat perhatian kita. Bukan lagi siapa yang melihat kita, tetapi apakah kita merasa dilihat oleh Allah.
Seorang mu’min sejati hidup dengan kesadaran itu. Ia mungkin aktif, mungkin sibuk, mungkin berada di tengah keramaian, tetapi hatinya terikat pada satu pandangan, Allah melihatnya. Ketika kesadaran ini hidup, kebisingan dunia tidak mudah menguasai batin. Pujian tidak membuatnya mabuk, celaan tidak membuatnya runtuh.
Namun kita harus jujur, menjadi mu’min seperti itu tidak mudah. Terutama ketika rutinitas organisasi begitu padat. Rapat demi rapat, program demi program, target demi target. Aktivisme menjadi ukuran kesungguhan. Siapa yang paling sibuk sering dianggap paling berkontribusi. Di tengah ritme seperti itu, ruh bisa perlahan menipis.
Shalat tetap dikerjakan, tetapi terasa tergesa. Tilawah tetap ada, tetapi lebih sering untuk persiapan materi daripada untuk menenangkan jiwa sendiri. Doa tetap terucap, tetapi hati tidak selalu hadir. Kita bergerak cepat, tetapi jarang berhenti untuk bertanya, untuk siapa semua ini?
Allah berfirman, “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (Q.S. Al-Bayyinah: 5). Kemurnian itulah yang sering tergerus oleh kebisingan. Bukan karena kita tidak tahu, tetapi karena kita jarang memeriksa kembali niat yang paling dalam.
Menjadi mu’min di tengah dunia yang bising berarti berani menciptakan ruang sunyi di dalam diri. Sunyi yang bukan berarti lari dari tanggung jawab, tetapi menyediakan waktu untuk menata ulang orientasi. Sunyi untuk mengingat bahwa hidup ini bukan tentang seberapa sering nama kita disebut, tetapi seberapa tulus kita menyebut nama-Nya.
Tauhid yang hidup bukan sekadar keyakinan bahwa Allah itu Esa, tetapi kesadaran bahwa hanya Dia tujuan akhir dari setiap langkah. Ketika tauhid hidup, ambisi menjadi lebih terkendali. Jabatan tidak lagi menjadi sumber harga diri. Aktivitas tidak lagi menjadi ajang pembuktian diri, melainkan jalan pengabdian.
Mungkin kita perlu bertanya dengan jujur, jika tidak ada yang tahu kerja keras saya, apakah saya tetap melakukannya? Jika tidak ada foto yang diunggah, tidak ada laporan yang dipuji, tidak ada ucapan terima kasih, apakah saya tetap setia? Jika semua riuh itu tiba-tiba hilang, apakah iman saya tetap berdiri?
Dunia akan terus bising. Teknologi tidak akan melambat. Kompetisi tidak akan berhenti. Tetapi Allah tetap sama, tidak berubah. Janji-Nya tetap kokoh. Pandangan-Nya tetap tertuju kepada hamba-hamba-Nya.
Seorang mu’min tidak diukur dari seberapa keras suaranya di tengah keramaian, tetapi seberapa jernih hatinya ketika sendirian. Di situlah kualitas iman diuji. Di situlah tauhid menemukan maknanya.
Barangkali kita tidak bisa mematikan kebisingan dunia, tetapi kita bisa memperkecil volumenya di dalam hati. Dengan memperbanyak zikir yang sungguh-sungguh. Dengan shalat yang lebih khusyuk meski hanya beberapa rakaat sunah yang dilakukan perlahan. Dengan doa yang jujur, mengakui kelemahan dan ambisi yang belum sepenuhnya lurus.
Menjadi mu’min di tengah dunia yang bising bukan tentang menarik diri dari dunia, tetapi tentang memastikan bahwa di tengah segala suara, hanya satu yang paling kita dengar, panggilan Allah. Dan ketika panggilan itu lebih kuat daripada tepuk tangan manusia, di sanalah ketenangan mulai tumbuh kembali.
