Menjadi Muslim yang Akuntabel Melalui Spirit Puasa Ramadhan

Suara Muhammadiyah

21 February 2026

614
Foto Imam Harjono Um Bandun

Foto Imam Harjono Um Bandun

Menjadi Muslim yang Akuntabel Melalui Spirit Puasa Ramadhan

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Kaprodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Bandung Iman Harjono menyampaikan bahwa filosofi akuntansi dapat dimaknai sebagai sarana audit diri yang mendalam bagi setiap insan. Khususnya pada bulan Ramadhan yang sarat dengan refleksi spiritual.

Ia menegaskan bahwa nilai-nilai utama dalam profesi akuntan seperti integritas, transparansi, dan akuntabilitas memiliki keselarasan yang kuat dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, Ramadhan menjadi momentum penting untuk menghidupkan nilai tersebut, tidak hanya dalam profesi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Iman, akuntansi tidak semata-mata berbicara tentang angka dan laporan keuangan, melainkan juga dapat menjadi metafora kehidupan. Setiap manusia, sebagaimana akuntan, sejatinya memiliki “laporan amal” yang kelak akan diperiksa secara rinci tanpa adanya toleransi revisi.

“Sebagaimana laporan keuangan harus jujur dan akurat, demikian pula hidup manusia akan diperiksa Allah dengan catatan yang sempurna, tanpa ada yang terlewat,” ujarnya saat mengisi Kajian Ramadhan di YouTube UM Bandung pada Jumat (20/02/2026).

Ia mengaitkan hal tersebut dengan pesan Al-Qur’an yang menggambarkan pencatatan amal secara menyeluruh, baik yang kecil maupun besar. Kesadaran ini, lanjutnya, seharusnya menumbuhkan sikap kehati-hatian dalam bertindak karena setiap ucapan dan perbuatan memiliki konsekuensi spiritual.

Lebih jauh, Ramadhan diposisikan sebagai audit internal spiritual sebelum tibanya hari hisab di akhirat. Dalam praktik perusahaan, audit internal dilakukan untuk memastikan kesiapan sebelum audit eksternal, dan prinsip serupa berlaku dalam kehidupan manusia selama Ramadhan.

Dalam refleksi akuntansi kehidupan, Iman memperkenalkan konsep neraca amal, di mana aset diibaratkan sebagai salat, sedekah, ilmu yang bermanfaat, kejujuran, dan amanah. Sebaliknya, liabilitas berupa dosa lisan, kelalaian, manipulasi, dan kurangnya amanah menjadi beban yang mengurangi nilai amal.

Menutup refleksinya, Iman menekankan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh jabatan atau prestasi duniawi, melainkan oleh kualitas amal dan integritas yang dijaga sepanjang hidup. Ia berharap Ramadhan benar-benar menjadi momentum untuk menambah aset amal, mengurangi liabilitas dosa, dan mempersiapkan diri menghadapi pertanggungjawaban akhir di hadapan Allah. (FA)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

TASIKMALAYA, Suara Muhammadiyah - Dari Kota Santri, ghirah intelektual Muhammadiyah kembali membara.....

Suara Muhammadiyah

26 December 2025

Berita

PADANGSIDIMPUAN, Suara Muhammadiyah - Pasca bencana yang melanda Desa Huta Godang, Kabupaten Tapanul....

Suara Muhammadiyah

3 January 2026

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sebanyak 19 perlombaan ajang Olympicad Ahmad Dahlan (Olympicad) 7 ti....

Suara Muhammadiyah

6 March 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung teru....

Suara Muhammadiyah

25 July 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA bersama P....

Suara Muhammadiyah

5 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah