Menjemput Surga dengan Istiqomah

Suara Muhammadiyah

22 October 2026

192
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Menjemput Surga dengan Istiqomah

Oleh: Ustadz Alif Syarifuddin Ahmad (ASA)

Ada perjalanan yang begitu panjang ketika dijalani, tetapi terasa begitu singkat ketika dikenang.

Itulah umur.

Pernahkah kita kembali ke tempat yang dahulu begitu akrab dalam kehidupan kita?
Mungkin sekolah tempat kita pernah belajar.
Rumah yang dahulu kita tinggali.
Masjid tempat kita biasa shalat ketika masih kecil.
Lapangan tempat dahulu bermain bersama teman-teman.
Atau sebuah jalan yang pernah dilewati hampir setiap hari, tetapi sudah bertahun-tahun tidak Anda kunjungi.
Tempat itu mungkin masih ada. Tetapi banyak hal telah berubah.
Bangunannya mungkin sudah direnovasi. Pohon yang dahulu kecil kini telah menjulang. Warung yang dulu ramai mungkin sudah tidak ada. Anak-anak yang sekarang bermain di sana adalah wajah-wajah baru yang tidak kita kenal. Sedangkan teman-teman yang dahulu bersama kita telah tersebar menjalani kehidupan masing-masing. Ada yang telah berkeluarga, ada yang tinggal jauh, dan mungkin ada pula yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia.
Di saat seperti itu, biasanya ada perasaan aneh yang muncul. Kita berdiri di tempat yang sama, tetapi sadar bahwa kita bukan lagi orang yang sama.
Dahulu kita datang ke sana sebagai seorang anak yang hampir tidak memiliki beban pikiran. Sekarang kita datang membawa begitu banyak cerita: keluarga, pekerjaan, tanggung jawab, keberhasilan, kegagalan, kebahagiaan, luka, dosa, dan entah berapa banyak pengalaman yang telah dilalui.
Lalu hati seperti berbisik:

“Ternyata sudah selama itu...”

Rasanya baru kemarin kita duduk di bangku sekolah dan memandang orang berusia empat puluh atau lima puluh tahun sebagai orang yang sangat tua. Rasanya baru kemarin hidup hanya berputar antara rumah, sekolah, teman, dan permainan. Belum ada biaya pendidikan anak, kesehatan orang tua, pekerjaan, dan berbagai urusan yang sekarang memenuhi kepala.
Dahulu kita memanggil orang lain dengan sebutan Pak atau Bu karena mereka terlihat begitu dewasa. Sekarang, tanpa terasa, generasi di bawah kita mulai memanggil kita dengan sebutan yang sama.
Begitulah waktu.
Ia tidak mengetuk pintu sebelum pergi. Tidak berpamitan. Tidak pula bertanya apakah kita sudah menggunakan hari ini dengan baik. Ia hanya berjalan, perlahan tetapi pasti. Sampai pada suatu saat kita menoleh ke belakang dan baru menyadari:
ternyata kita sudah berjalan sejauh ini.

Ayah dan ibu kita yang sering menangis agar anak-anaknya bahagia kini sudah di alam kubur atau mungkin masih tapi sudah renta.. 


Saatnya kita istiqomah walau masih berat karena kita masih mengedepankan dunia dan harta.

DUNIA TEMPAT TERBAIK UNTUK LADANG KEBAIKAN

Kalau bukan sekarang apakah harus menunggu saat kita sudah tak berdaya

Dunia yang kita tempati tempat terbaik berlomba dalam kebaikan

kita lahir disini
Mencari bahagia di sini
dan kelak saat Allah cukupkan nikmat
wafat di bumi berpijak
dimakamkan disini

Di ujung usia yang penuh berkah ini, Hadirkan keberkahan di setisp majelis dengan pencerahan, satukan hati dalam satu niat: berkhidmat untuk agama, bangsa, dan negara.

Apabila kita diamanati menjadi pimpinan, Bimbinglah  yang ada di sekitar kita di tengah hiruk pikuk dunia yang semakin penat. 

Bahagiakan para jamaah kitadengan jariyah kesehatan, kekuatan, kebijaksanaan dan keikhlasan dalam membina sebagai pimpinan.

Jadikan setiap kata dan arahannya sebagai cahaya bagi langkah persyarikatan.

Ajari semua, agar mampu menjadi teladan dalam integritas dan pelayanan.

Berorientasi pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif dan Kolaboratif.

Jauhkan kita dari sifat malas, khianat, dan cinta dunia yang berlebihan. Tanamkan dalam dada para pemimpin rasa takut kepada Allah, rasa malu jika berbuat curang, dan rasa bangga melayani 

Akhirnya kita berharap agar semua dapat ampunan Allah. kota berharap agar semua dosa terampuni.

Ajarilah kami untuk bekerja bukan hanya mencari hidup, tapi mencari ridha Allah. Jadikan tempat kerja kita sebagai masjid keduai, tempat  beribadah melalui pelayanan.

Marilah kita saling menjaga.
Jadikan  kita menjadi garda terdepan dalam memperkuat dakwah dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di tengah layanan global, layanan inovasi kita dirindukan semua untuk berkhidmat lebih maksimal lagi berjuang di ujung negeri.

Harta, Jabatan, Dunia memang bisa memberi bahagia tapi itu hanya sementara. Bahagia sejati adalah ketenangan dan ketenteraman yang berasal dari keimanan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Pelajari Bahasa Arab untuk Memahami Al-Qur`an  Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya....

Suara Muhammadiyah

7 June 2024

Wawasan

Apakah Allah ‘Memejamkan Mata’ terhadap Derita Rakyat Palestina? Oleh: Donny Syofyan, D....

Suara Muhammadiyah

10 June 2024

Wawasan

Anak Saleh (13) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

17 October 2024

Wawasan

Oleh: Muhammad Akhyar Adnan, Ketua Bidang Kajian Ekonomi Syariah Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan ....

Suara Muhammadiyah

12 June 2025

Wawasan

Ulama Muhammadiyah di Era Influencer Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hiday....

Suara Muhammadiyah

2 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah