Menjual Makanan Berhadiah Uang
Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum w.w.
Saya mau bertanya, bagaimana hukum menjual makanan berhadiah uang Rp3.000,- pak ustaz? Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih banyak.
Wassalamu ‘alaikum w.w.
Umar Abdulaziz (Disidangkan pada Jumat, 27 Safar 1444 H/23 September 2022 M)
Jawaban:
Wa ‘alaikumus-salam w r.wb.
Terima kasih atas pertanyaan saudara, mudah-mudahan kami dapat memberikan jawaban atas persoalan yang saudara tanyakan.
Untuk menjawab pertanyaan yang saudara ajukan, kami akan mengutip Keputusan Musyawarah Nasional XXVI Tarjih Muhammadiyah di Padang Sumatera Barat tahun 2003 tentang Etika Bisnis, yang antara lain mengulas persoalan asas dan tolok ukur yang perlu diperhatikan dalam berbisnis. Keputusan tersebut yang telah dimuat dalam buku Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah Jilid 3, sehingga kami persilakan saudara untuk membacanya secara lebih lengkap. Beberapa asas dan tolok ukur dalam etika bisnis tersebut di antaranya adalah sebagai berikut,
1. Asas al-Ibahah (mubah, boleh).
Pada dasarnya segala bentuk muamalat adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkan. Hal ini sesuai dengan kaidah fikih,
الْأَصْلُ فِي الْمُعَامَلَةِ الْاِبَاحَةُ حَتَّى يَدُلَّ الدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ
Hukum asal dalam muamalat adalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.
Kaidah ini didasarkan kepada firman Allah, antara lain Q.S. al-Baqarah (2): 29 sebagai berikut,
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ...
Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu [Q.S. al-Baqarah (2): 29].
2. Asas at-Taradli (suka sama suka).
Firman Allah swt. dalam Q.S. an-Nisa (4): 29, yaitu,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا.
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu [Q.S. an-Nisa (4): 29].
3. Tidak boleh ada Maisir.
Firman Allah swt. dalam Q.S. al-Maidah (5): 90, berikut,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan, maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung [QS. al-Ma’idah (5): 90].
4. Tidak boleh ada Gharar (spekulasi).
Hadis Nabi Muhammad saw,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ [رواه مسلم].
Dari Abu Hurairah (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah saw melarang jual beli lempar krikil dan jual beli gharar (spekulasi) [H.R. Muslim].
5. Tidak boleh ada ad-dlarar (unsur yang membahayakan atau merugikan).
Hadis Nabi saw:
عَنْ عُبَادَةَ ابْنِ صَامِتِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى أَنْ لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ [رواه أحمد وابن ماجة].
Dari Ubadah bin Shamit r.a. (diriwayatkan) bahwasanya Rasulullah saw menetapkan tidak boleh membuat kemudaratan dan tidak boleh pula membalas kemudaratan [H.R. Ahmad dan Ibnu Majah].
Hadiah atau bonus dalam penjualan seperti yang saudara tanyakan masih memiliki berbagai macam kemungkinan. Untuk lebih mudah dipahami, kami akan memberikan ilustrasi-ilustrasi terkait pengklasifikasian macam-macam bentuk hadiah sekaligus penjelasan hukumnya berikut ini.
Pertama, hadiah berada dalam barang. Hadiah tersebut tidak dapat dilihat secara langsung sebelum produknya dibuka. Contohnya, anak kecil membeli makanan ringan seharga lima ratus rupiah, lalu saat dibuka terdapat hadiah uang tiga ribu rupiah. Hadiah yang seperti demikian diperbolehkan, sebab tidak ada paksaan (asas at-taradli) dan tidak mengandung unsur gharar, dlarar dan maisir yang dilarang oleh agama Islam.
Kedua, hadiah di luar barang. Hadiah ini dengan jelas dapat dilihat oleh konsumen. Jadi, setiap konsumen pasti akan menerima hadiah tersebut jika membeli barangnya. Contoh dari bentuk hadiah tersebut misalnya, seorang ibu pergi ke supermarket untuk membeli sabun mandi. Dalam produk sabun tersebut tertempel produk lain sebagai bonus jika membeli sabun. Bonus ini dapat dilihat oleh semua konsumen, sehingga siapa pun yang membeli sabun tersebut dengan sendirinya mendapatkan bonusnya. Hadiah seperti ini juga diperbolehkan, sebab juga tidak mengandung unsur gharar, dlarar dan maisir.
Ketiga, hadiah berupa diskon atau potongan harga. Misalnya, seorang remaja pergi ke kedai susu untuk membeli minuman. Ketika itu pula terdapat diskon atau potongan harga bagi yang membeli produk tersebut dengan syarat tertentu. Atau dengan ilustrasi lain, seorang remaja memesan makanan melalui aplikasi online. Ia akan mendapatkan potongan harga dengan syarat yang sudah terpenuhi. Hadiah model ini diperbolehkan juga, sebab tidak mencakup unsur yang dilarang oleh agama Islam.
Keempat, hadiah berupa kupon yang diundi di akhir bulan. Contohnya, seorang konsumen membeli suatu barang di sebuah swalayan atau supermarket. Kemudian, setiap selesai berbelanja, konsumen akan diberikan kupon dari pihak swalayan yang nantinya akan diundi di akhir bulan. Bagi konsumen yang namanya tertera memenangkan undian, maka akan mendapatkan hadiah dari pihak swalayan. Model keempat ini pada dasarnya boleh-boleh saja, sebagaimana tiga model sebelumnya, karena juga tidak mengandung unsur-unsur yang diharamkan oleh Islam.
Dari pihak pembeli, tidak bisa dikatakan melakukan perbuatan maisir, sebab ia tidak membeli kupon, melainkan membeli barang yang mendapat hadiah kupon undian secara langsung dari pihak swalayan (penjual). Seandainya tidak ada hadiah kupon pun ia akan tetap membeli barang tersebut. Namun jika pembeli membeli barang itu dengan maksud untuk mendapatkan kupon atau hanya mengincar hadiah yang dijanjikan, padahal sama sekali ia tidak membutuhkan barang yang dibeli tersebut, maka hal ini termasuk perbuatan maisir.
Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa segala bentuk hadiah yang diberikan oleh penjual untuk pembeli barangnya adalah mubah atau boleh, selama ia terhindar dari unsur-unsur seperti gharar, dlarar, maisir, dan lain-lain yang dilarang dalam agama Islam.
Demikian penjelasan dari kami, semoga menjawab pertanyaan saudara dan memberi pencerahan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Rubrik Tanya Jawab Agama Diasuh Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Sumber: Majalah SM Edisi 1 Tahun 2023

