Menyelami Hakikat Tarawih

Publish

18 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
134
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Menyelami Hakikat Tarawih

Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Setiap kali hilal Ramadan mulai tampak di ufuk timur, umat Muslim di seluruh dunia menyambutnya dengan campuran rasa syukur dan antusiasme. Namun, seiring dengan datangnya bulan suci ini, muncul pula berbagai pertanyaan klasik yang terus berulang di tengah masyarakat. 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan sekadar teknis, melainkan cerminan dari keinginan tulus setiap individu untuk menjalankan ibadah dengan sesempurna mungkin. Fokus utama biasanya tertuju pada rukun puasa, hal-hal yang membatalkan, hingga yang paling sering memicu perdebatan hangat: salat Tarawih. Berapa rakaat yang benar? Apakah delapan atau dua puluh? Apakah ibadah ini bersifat wajib atau sunah?

Untuk memahami ini secara jernih, kita harus melangkah mundur dan melihat akar sejarah serta makna filosofis dari kata "Tarawih" itu sendiri. Secara etimologis, kata Tarawih berakar dari bahasa Arab rahat, yang berarti "istirahat" atau "santai". Hal ini mungkin terdengar kontradiktif bagi sebagian orang. Bagaimana mungkin sebuah ibadah yang melibatkan berdiri lama, rukuk, dan sujud berulang kali justru dinamakan "istirahat"? Di sinilah letak keunikan konsepnya. Sejak zaman klasik, umat Islam melaksanakan salat malam yang panjang ini dengan cara yang berbeda dari salat wajib lima waktu.

Dalam salat Isya, misalnya, kita melaksanakan empat rakaat secara berkesinambungan lalu diakhiri dengan salam. Namun, dalam Tarawih, konsep "istirahat" diterapkan melalui jeda di antara rakaat-rakaat tersebut. Secara tradisional, setiap empat rakaat (atau terkadang setiap dua rakaat), para jemaah mengambil waktu untuk duduk tenang, berzikir, atau sekadar mengatur napas sebelum melanjutkan rangkaian berikutnya. Inilah esensi dari Tarawih; sebuah pendakian spiritual yang dilakukan dengan tenang, tidak terburu-buru, memberikan ruang bagi jiwa untuk bernapas di sela-sela penghambaan kepada Sang Pencipta.

Menariknya, jika kita menelusuri literatur suci, istilah "Tarawih" tidak akan ditemukan secara eksplisit di dalam Al-Qur'an. Kitab suci umat Islam lebih banyak menekankan pada konsep Qiyamul Lail atau salat malam secara umum yang berlaku sepanjang tahun, bukan hanya terbatas pada bulan Ramadan. Al-Qur'an mengarahkan perhatian kita pada kedekatan personal dengan Tuhan di sepertiga malam terakhir. 

Bahkan, dalam Surah Al-Baqarah ayat 187, Allah memberikan kelonggaran mengenai aktivitas di malam hari, seperti makan dan minum hingga fajar menyingsing. Ayat ini sebenarnya menghapus kekhawatiran umat di masa lalu yang mengira bahwa jika mereka tidur setelah berbuka, mereka tidak boleh lagi menyentuh makanan. Ini menunjukkan bahwa semangat beragama dalam Islam sejatinya adalah kemudahan dan rahmat, bukan beban yang menyulitkan.

Persoalan jumlah rakaat—apakah delapan atau dua puluh—sering kali menjadi teka-teki yang membelah opini publik. Namun, jika kita melihat dari kacamata sejarah dan hadis, kedua angka tersebut memiliki landasan masing-masing yang valid. Aisyah r.a., istri Rasulullah saw., pernah meriwayatkan bahwa Nabi tidak pernah menambah salat malamnya lebih dari sebelas rakaat (termasuk Witir), baik di dalam maupun di luar Ramadan. Inilah yang menjadi dasar bagi mereka yang melaksanakan Tarawih delapan rakaat. Di sisi lain, praktik dua puluh rakaat mulai mengakar kuat pada zaman Khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengorganisir jemaah untuk salat di bawah satu imam dengan jumlah dua puluh rakaat untuk memberikan kesempatan bagi lebih banyak orang merasakan panjangnya bacaan Al-Qur'an tanpa harus berdiri terlalu lama dalam satu rakaat.

Oleh karena itu, jawaban atas pertanyaan "mana yang lebih baik?" sangat bergantung pada dua pilar utama: keyakinan pribadi dan situasi praktis. Islam adalah agama yang sangat menghargai konteks kehidupan penganutnya. Seorang pekerja kantoran yang harus bangun pagi-pagi sekali mungkin merasa bahwa delapan rakaat adalah jumlah yang paling memungkinkan baginya agar tetap bisa produktif di siang hari tanpa mengabaikan kualitas salatnya. Sebaliknya, seseorang yang memiliki waktu luang lebih banyak, atau mungkin sudah pensiun, mungkin memilih dua puluh rakaat sebagai sarana untuk memperlama durasi komunikasinya dengan Allah.

Fleksibilitas ini adalah kunci. Tidak ada batasan kaku yang menyatakan bahwa Tarawih harus persis delapan atau dua puluh. Secara teknis, seseorang bahkan diperbolehkan melakukan empat, dua belas, atau jumlah lainnya, karena Tarawih tergolong dalam nafilah atau ibadah sunah yang bersifat sukarela. Yang sering kali terlupakan dalam hiruk-pikuk perdebatan jumlah rakaat adalah kualitas dari ibadah itu sendiri. 

Esensi sejati dari Tarawih adalah bacaan Al-Qur'an yang panjang serta kekhusyukan yang mendalam. Jika sebuah masjid melaksanakan dua puluh rakaat namun dilakukan dengan sangat cepat seperti gerakan senam demi mengejar durasi waktu, maka esensi "istirahat" dan perenungan ayat-ayat Allah justru hilang. Lebih baik melakukan sedikit rakaat dengan penuh penghayatan daripada banyak rakaat yang dilakukan secara tergesa-gesa.

Tantangan lain yang muncul dalam praktik Tarawih masa kini, terutama bagi umat Muslim yang tidak menguasai bahasa Arab, adalah hambatan bahasa. Berdiri selama satu atau dua jam mendengarkan imam membacakan ayat-ayat suci tanpa memahami satu kata pun bisa menjadi pengalaman yang melelahkan secara mental. Pikiran cenderung melayang ke mana-mana, dan kelelahan fisik mulai mendominasi. Di sinilah kita perlu mulai berpikir kreatif dan "out of the box".

Transformasi ibadah Tarawih di masa depan harus lebih inklusif terhadap pemahaman jemaah. Salah satu solusinya adalah dengan mengintegrasikan terjemahan atau ringkasan ayat sebelum salat dimulai. Bayangkan jika sebelum imam memulai takbir, ada penjelasan singkat mengenai tema besar yang akan dibacakan malam itu. 

Misalnya, jika malam itu akan dibacakan ayat tentang Surga (Jannah), kisah para Nabi, atau tentang kasih sayang Tuhan, jemaah akan memiliki "jangkar" dalam pikiran mereka. Ketika imam melantunkan kata-kata kunci tersebut, hati jemaah akan bergetar karena mereka merasa terhubung secara emosional dengan pesan yang disampaikan.

Metode lain yang bisa dipertimbangkan adalah membagi porsi perhatian antara bahasa Arab dan bahasa lokal. Meskipun pembacaan Al-Qur'an dalam bahasa Arab dalam salat adalah sebuah keharusan tradisi dan teologis, pembelajaran maknanya bisa dilakukan di sela-sela waktu istirahat (jeda Tarawih). Pengurus masjid bisa memberikan ringkasan atau membagikan selebaran digital mengenai poin-poin utama dari juz yang dibacakan malam itu. Dengan begitu, Ramadan bukan sekadar ritual fisik naik dan turunnya tubuh, melainkan sebuah proses pendidikan spiritual yang mencerdaskan.

Pada akhirnya, salat Tarawih adalah tentang keseimbangan. Keseimbangan antara menghormati tradisi para salafus saleh dengan kebutuhan praktis kehidupan modern. Keseimbangan antara kuantitas rakaat dan kualitas kekhusyukan. Kita harus senantiasa ingat bahwa Tuhan tidak melihat seberapa cepat kita menyelesaikan salat, melainkan seberapa tulus hati kita saat berdiri di hadapan-Nya. Apakah kita melakukannya karena beban rutinitas, atau karena rindu yang mendalam untuk beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk dunia? 

Jika kita mampu menemukan makna "istirahat" dalam setiap sujud kita, maka delapan atau dua puluh rakaat hanyalah masalah angka; yang utama adalah transformasi jiwa yang kita bawa setelah keluar dari pintu masjid. Mari kita jadikan Tarawih tahun ini sebagai momentum untuk lebih memahami apa yang kita baca dan lebih menghayati setiap detik perjumpaan kita dengan Sang Khalik.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Berdamai dengan Diri Sendiri Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta  Banyak orang menjala....

Suara Muhammadiyah

8 February 2025

Wawasan

Kalimatunsawa’ IMM Jawa Tengah Oleh: Izzul Khaq, PC IMM Sukoharjo Setelah membaca tiga tulis....

Suara Muhammadiyah

16 April 2024

Wawasan

Dakwah Menjawab Jiwa Zaman: Belajar Dari KH Ahmad Dahlan Keharusan Peta Dakwah Oleh: Saidun Derani....

Suara Muhammadiyah

7 February 2024

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Dalam khazanah ilmu tafsir Al-Q....

Suara Muhammadiyah

23 June 2025

Wawasan

Upaya IMM dalam Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Oleh: Hendra Apriyadi Kekerasan di satuan pend....

Suara Muhammadiyah

17 October 2023