Menyingkap Teka-Teki Surah Al-Jumu'ah: Siapakah "Generasi Belakangan" yang Dimaksud Al-Qur'an?
Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Pesan universal Islam sering kali ditegaskan dalam lembaran Al-Qur'an. Salah satu penegasan paling menarik terdapat dalam Surah Al-Jumu’ah (62) ayat 1-3. Ayat ini memuat sebuah pernyataan teologis yang besar: Nabi Muhammad SAW diutus bukan hanya untuk masyarakat yang hidup bersamanya di jazirah Arab abad ke-7, melainkan juga untuk peradaban manusia yang membentang jauh setelah beliau wafat.
Namun, di balik keindahan maknanya, ada satu frasa misterius yang sempat membuat para mufasir (ahli tafsir) klasik mengerutkan kening. Mari kita simak terlebih dahulu terjemahan dari potongan ayat tersebut:
"Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata; dan juga kepada orang-orang lain dari kalangan mereka yang belum datang menyusul mereka..."
Pertanyaan krusialnya adalah: siapakah sosok atau kelompok yang disebut sebagai "orang-orang lain yang belum datang menyusul mereka"? Apakah ini sebuah sinyal akan hadirnya nabi baru di masa depan? Atau justru sebuah penegasan tentang bentangan umat yang lintas zaman?
Jika ditelaah secara sekilas, kalimat tersebut menyimpan sebuah paradoks kebahasaan atau teka-teki linguistik. Di satu sisi, teks Arab menggunakan frasa "minhum" yang berarti dari kalangan mereka atau bagian dari mereka. Namun di sisi lain, sambungan kalimatnya berbunyi "lamma yalhaqu bihim" yang bermakna belum datang menyusul mereka. Bagaimana mungkin sebuah kelompok disebut sebagai bagian dari mereka, tetapi di waktu yang sama dinyatakan belum ada bersama mereka? Kontradiksi inilah yang memicu perdebatan panjang di kalangan para ahli tafsir.
Untuk memecahkan teka-teki ini, para mufasir klasik melihatnya dari kacamata cakupan dakwah yang luas. Rujukan utama atau lingkaran pertama dari ayat ini jelas ditujukan bagi masyarakat Ummi, yaitu kaum buta huruf yang belum menerima kitab suci di kota Makkah dan hidup dalam kultur pagan abad ke-7. Sementara itu, mengenai kelompok belakangan yang belum menyusul, para ulama menjelaskan bahwa visi kerasulan Nabi Muhammad sejak awal dirancang untuk melampaui batasan ruang dan waktu.
Ketika beliau diutus di Arabia, tugas dakwah beliau tidak berhenti pada generasi sahabat saja. Orang-orang lain itu adalah seluruh umat manusia di masa depan—termasuk kita hari ini—yang pada akhirnya memeluk Islam dan melebur menjadi satu ke dalam populasi Muslim yang besar atau Ummah. Secara tata bahasa, mereka dianggap bagian dari kalangan mereka karena disatukan oleh ikatan akidah yang sama, meskipun secara garis waktu mereka belum datang menyusul. Dengan kata lain, Nabi Muhammad memikul tanggung jawab spiritual untuk membimbing, menyucikan, dan mengajarkan Al-Qur'an kepada generasi awal maupun generasi akhir melalui warisan ajarannya yang abadi.
Di era modern, ayat yang kaya akan makna linguistik ini sayangnya kerap ditarik keluar dari konteksnya. Salah satu distorsi penafsiran paling radikal dicetuskan oleh Mirza Ghulam Ahmad, seorang figur pembaru asal India. Ia mengeklaim bahwa frasa orang-orang lain yang belum datang menyusul merujuk pada kedatangan dirinya sebagai utusan atau nabi baru yang diutus Allah untuk mengajar manusia di akhir zaman.
Namun, jika diuji dengan pisau analisis linguistik yang objektif, klaim tersebut runtuh dengan sendirinya. Struktur bahasa Arab dalam Surah Al-Jumu'ah tidak sedang membicarakan subjek berupa utusan baru (rasul), melainkan objek atau sasaran dakwah yang dituju. Ayat tersebut dengan sangat benderang menegaskan arah tujuan risalah Nabi Muhammad, yakni kepada kaum yang hidup bersamanya saat itu sekaligus kepada kaum generasi berikutnya yang belum lahir.
Logika teksnya sangat konsisten karena Allah tidak mengatakan akan mengirim rasul lain di masa depan. Sebaliknya, Allah sedang menegaskan bahwa Rasul yang saat itu ada, yaitu Nabi Muhammad, diutus untuk memimpin masyarakat zaman tersebut sekaligus generasi masa depan. Oleh karena itu, menggunakan ayat ini sebagai legalitas kenabian baru adalah sebuah lompatan logika yang melenceng jauh dari kaidah bahasa.
Ketidakselarasan linguistik inilah yang disinyalir menjadi alasan mengapa gerakan pembaru asal India ini sulit diterima di wilayah yang berbasis bahasa Arab. Ketika masyarakat yang memahami seluk-beluk bahasa Arab membaca langsung teks aslinya, mereka akan segera menyadari adanya pemaksaan makna demi mendukung legitimasi personal sang tokoh. Penafsiran tersebut dinilai tidak memiliki fondasi ilmiah yang kuat dalam tradisi tafsir Al-Qur'an.
Kendati demikian, gerakan ini berhasil menanamkan pengaruhnya di wilayah-wilayah non-Arab akibat faktor historis migrasi populasi dari sub-kontinen India-Pakistan, seperti di Inggris, Kanada, hingga Guyana. Menariknya, tidak sedikit dari pengikut gerakan ini yang memiliki kecerdasan retorika yang tinggi. Mereka sering kali siap beradu argumen dan membangun apologi atau argumen pembelaan yang sistematis untuk mempertahankan doktrin kelompoknya.
Bagi orang awam yang belum mendalami ilmu tafsir secara komprehensif, argumen-argumen yang dikemas secara rapi ini sering kali terdengar meyakinkan dan mampu membingungkan. Namun, ketika argumen tersebut dibedah hingga ke akar bahasanya, kepalsuan klaim tersebut akan langsung tersingkap karena tidak memiliki substansi teologis yang valid.
Surah Al-Jumu'ah ayat 1-3 sebenarnya tidak menyisakan ruang bagi spekulasi kenabian baru. Ayat ini justru menjadi argumen pamungkas yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi lintas zaman. Tugas beliau untuk membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa manusia, serta mengajarkan al-Kitab dan Hikmah tetap berjalan secara berkesinambungan. Pesan yang beliau bawa memiliki urgensi dan keabsahan yang abadi, mengikat siapa saja yang memilih untuk bergabung ke dalam barisan orang-orang beriman hingga akhir hayat dunia.

