Menyongsong Kemerdekaan: Merawat Kebebasan, Menunaikan Amanah

Suara Muhammadiyah

13 August 2026

103
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Menyongsong Kemerdekaan: Merawat Kebebasan, Menunaikan Amanah

Oleh: M. Saifudin, Lc, Pengasuh PPM Sangen

Agustus selalu membawa ingatan bangsa Indonesia kembali kepada satu peristiwa besar yakni Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Bendera Merah Putih berkibar di jalan-jalan, berbagai perlombaan digelar, dan sejarah perjuangan kemerdekaan kembali dikenang. Semua itu penting. Bangsa yang besar memang bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.

Tetapi ada satu hal yang sering luput dalam peringatan kemerdekaan, yakni, apa yang kita lakukan dengan kemerdekaan yang diwariskan oleh para pejuang kita dahulu itu?

Kemerdekaan bukan barang jadi, ia harus terus diisi, dijaga, bahkan diperjuangkan dalam bentuk yang bermacam-macam sesuai tantangan zaman.

Al-Qur'an memberikan satu prinsip perubahan sosial yang sangat kuat

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra‘d: 11).

Ayat ini selain sebagai dorongan perubahan secara personal, juga bagi konteks kehidupan secara kolektif. Ia mengandung pesan bahwa keadaan sosial tidak berdiri sendiri. Ada hubungan antara kondisi masyarakat dengan sikap, pilihan, dan perilaku manusia yang membentuknya.

Ibn Katsir, ketika menafsirkan ayat tersebut, menjelaskan bahwa Allah tidak mengubah kenikmatan dan keadaan baik yang dimiliki suatu kaum hingga mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Artinya, perubahan tidak cukup dipikirkan dan didiskusikan tetapi perlu direalisasikan oleh setiap individu dalam kehidupan sehati-hari.

Indonesia telah merdeka selama 81 tahun lalu. Namun kemerdekaan politik belum otomatis menyelesaikan seluruh persoalan bangsa. Kita masih disajikan berbagai problema, kasus korupsi, ketimpangan, kemiskinan, rendahnya literasi, kerusakan lingkungan, kekerasan di ruang digital, dan berbagai bentuk ketidakadilan lainnya. 

Di masa dahulu penjajahan datang dari luar, namun hari ini, sebagian belenggu justru tumbuh dari dalam, yakni, keserakahan, budaya koruptif, fanatisme sempit, kemalasan berpikir, serta hilangnya kepedulian terhadap kepentingan bersama.

Karena itu, merawat kemerdekaan yang sesungguhnya membutuhkan kualitas dan kesadaran manusia baik secara indvidu maupun kolektif.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini bisa ditarik ke dalam konteks kehidupan kebangsaan saat ini. Tanggung jawab tidak hanya berada di pundak Negara yang memang mempunyai kewajiban besar, tetapi masyarakat juga memiliki ruang tanggung jawab masing-masing.

Dari sini, nampak jelas relevansi gerakan Muhammadiyah dengan tanggung jawab kemerdekaan.

Sejak awal, Muhammadiyah tidak memahami keberagamaan sebagai urusan kesalehan individual semata. Islam harus hadir dalam kehidupan nyata. Pendidikan dibangun, rumah sakit didirikan, pelayanan sosial dikembangkan, dan masyarakat diberdayakan. Spirit tersebut berakar kuat pada pemahaman terhadap Al-Qur'an yang melahirkan amal.

Surah Al-Ma'un adalah salah satu contoh yang sangat jelas. Agama tidak berhenti pada pengakuan verbal. Ada pertanyaan moral yang lebih jauh: bagaimana kehadiran agama dirasakan oleh anak yatim, orang miskin, orang sakit, dan mereka yang membutuhkan pertolongan?

Karena itu, teologi Al-Ma'un sesungguhnya memiliki relevansi kebangsaan yang besar. Bangsa yang merdeka harus mampu menghadirkan kemerdekaan itu dalam kehidupan nyata rakyatnya.

Kemerdekaan akan terasa berbeda bagi seorang anak yang memperoleh pendidikan berkualitas dibandingkan anak yang putus sekolah. Akan terasa berbeda bagi keluarga yang mudah mendapatkan pelayanan kesehatan dibandingkan mereka yang harus memilih antara berobat dan memenuhi kebutuhan makan. Ia juga terasa berbeda bagi masyarakat kecil yang memperoleh kesempatan ekonomi dibandingkan mereka yang terus berada di pinggir pembangunan.

Maka ukuran kemerdekaan tidak cukup dilihat dari banyaknya bendera yang berkibar. Kita perlu bertanya lebih jauh: apakah semakin banyak manusia Indonesia yang hidup bermartabat?

Pertanyaan ini semakin penting di tengah perubahan zaman. Teknologi digital memberi kebebasan berbicara yang luar biasa. Tetapi kebebasan berbicara tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi fitnah. Demokrasi memberi ruang partisipasi yang luas. Namun tanpa kedewasaan, perbedaan pilihan mudah berubah menjadi permusuhan. Pertumbuhan ekonomi membuka banyak peluang, tetapi tanpa keadilan, pertumbuhan dapat meninggalkan sebagian masyarakat.

Kemajuan, dengan demikian, selalu membutuhkan nilai.

Karena itu menyongsong Hari Kemerdekaan semestinya tidak hanya menjadi momentum mengenang masa lalu. Ia juga kesempatan melakukan muhasabah kebangsaan. Apa yang sudah kita lakukan? Apa yang masih gagal kita selesaikan? Dan, yang tidak kalah penting, bagian apa yang menjadi tanggung jawab kita?

Para pahlawan telah menyelesaikan tugas sejarahnya dengan merebut kemerdekaan. Generasi sekarang mempunyai tugas sejarah yang berbeda: membuat kemerdekaan benar-benar berarti bagi kehidupan manusia.

Di sinilah ayat tentang perubahan itu sangat relevan. Perubahan bangsa tidak dimulai dari slogan yang besar, melainkan dari manusia yang bersedia memperbaiki dirinya dan lingkungan di sekitarnya.

Mungkin itulah cara yang paling konkrit untuk menyambut 17 Agustus. Kita tetap mengibarkan Merah Putih, tetap mengenang para pahlawan, tetapi sekaligus bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kemerdekaan membuat kita lebih bertanggung jawab?

Sebab kemerdekaan yang diwariskan kepada kita bukan hanya kehormatan untuk dikenang, tetapi sebuah amanah yang harus dipikul bersama.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Dekonstruksi Mitos Ya’juj dan Ma’juj Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya....

Suara Muhammadiyah

2 March 2026

Wawasan

Orang Bilang Bencana Oleh: Mohammad Fakhrudin Orang bilang bencanaSastrawan bilang inspirasi:cerpe....

Suara Muhammadiyah

8 December 2025

Wawasan

Oleh: Fathurrahman Kamal, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pada Langit yang Ketuju....

Suara Muhammadiyah

2 June 2025

Wawasan

Darurat Mental Health: Upaya Mitigasi Dalam Perspektif Psikologi Islam Oleh: Revvina Agustianti Sub....

Suara Muhammadiyah

13 December 2024

Wawasan

Jihad Ekologis dan Isyarat Nabi dalam Memelihara Lingkungan Oleh: Khulanah, pendidik pondok pesantr....

Suara Muhammadiyah

2 March 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah