Merit System: Jalan Sunyi Melawan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
Oleh Babay Parid Wazdi, Kader Muhammadiyah, Aktifis IPM 1988-1991
Dalam sebuah hadist yang masyhur, Rasulullah SAW mengisahkan tiga pemuda yang terperangkap di dalam goa. Pintu goa tertutup batu besar, dan mereka hanya bisa berharap pada rahmat Allah dengan bertawasul kepada amal saleh masing-masing. Salah satu dari mereka berdoa karena pernah menahan diri dari perbuatan maksiat, dari dorongan nafsu yang bisa menjerumuskannya.
Setiap kali aku mengingat kisah itu, hatiku bergetar. Jika bagi pemuda itu “tidak berzina” menjadi amal saleh yang membebaskannya dari gelapnya goa, maka dalam kehidupanku, tidak berbuat maksiat berarti tidak melakukan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), meski dunia di sekelilingku kadang memandangnya sebagai hal yang lumrah.
Tahun 2018, anakku yang sulung mulai kuliah di Universitas Brawijaya, Malang. Aku menasihatinya dengan sungguh-sungguh: “Berjuanglah dengan kakimu sendiri. Raihlah nilai terbaik, aktiflah berorganisasi, dan jangan pernah bersandar pada jabatan ayahmu”. Nasihat itu kulakukan karena aku ingin menanamkan nilai yang sama yang kupelajari dari kisah para nabi bahwa kemuliaan itu diperjuangkan melalui amal dan kejujuran.
Saat ini KKN adalah kemaksiatan sistemik yang menggerogoti bangsa ini layaknya penyakit yang menjalar perlahan, menumpulkan nurani, dan membuat jabatan menjadi alat pemuas kerakusan. Di tengah-tengah “kanker KKN” itulah, aku ingin berusaha semampuku dalam memberikan teladan kecil. Aku menolak KKN bukan sok suci, bukan pula untuk tampak gagah. Penolakan itu lebih kepada ketakutanku akan hilangnya status anak soleh dan hapusnya rahmat Allah Swt kepadaku.
Ketika aku dipercaya menjadi direksi di Bank DKI, aku datang tanpa “gerbong”. Tidak ada orang yang kubawa dari tempat lama, tidak ada balas jasa, tidak ada kedekatan yang kutukar dengan jabatan. Aku memilih mendidik anak-anak muda di dalam institusi itu. Aku melakukan sharing pengalaman, menanamkan nilai profesionalisme, dan membangun sistem yang sehat. Aku ingin mereka tumbuh bukan karena “siapa yang mereka kenal”, tapi karena “apa yang mereka bisa”.
Aku bahkan melarang anakku sendiri melamar ke Bank DKI atau Bank Sumut, meski secara logika hal itu sah-sah saja. Apalagi Si Sulung memiliki jejak prestasi akademik yang sedemikian tinggi yang ditunjukkan dengan IPK 3,65 dan nilai Toefl hampir 600. Jika kuterapkan pada anakku untuk masuk ke Bank DKI atau Bank Sumut, bagiku itu sebuah bentuk pengkhianatan terhadap merit system. Dan sekali kita mengkhianati prinsip, walaupun sekecil apa pun, maka runtuhlah bangunan integritas yang selama ini kita bangun dengan doa.
Di Bank Sumut, perjuangan itu semakin berat. Aku menemukan ketimpangan secara vulgar. Ada yang naik jabatan bukan karena prestasi, tapi karena kedekatan. Ada pula surat-surat “katabelece” yang datang dari berbagai arah. Aku harus menjelaskan berulang kali kepada “orang-orang kuat” bahwa aturan mesti ditegakkan, bahwa merit system bukan jargon, akan tetapi sebuah benteng moral institusi.
Dalam melakukan merit system ini, aku melakukan assessment berjenjang mulai dari Kepala Divisi sampai ke Pimpinan Cabang Pembantu. Kenaikan pangkat pun harus jelas aturannya. Bagi mereka yang tidak tersentuh kenaikan pangkat walaupun sudah bekerja sungguh-sungguh, aku melakukan assessment berjenjang dengan membentuk Komite SDM secara khusus, yang terdiri dari Divisi Pengawasan, SDM, dan Unit terkait. Komite SDM ini aku bentuk karena aku melihat hampir seribu orang tidak pernah naik grade selama 8 sampai dengan 10 tahun. Adanya komite inilah, aku melihat mulai terurainya kemacetan kenaikan grade tersebut dimana dari seribu orang itu setiap dua tahun gradenya telah dinaikkan sebanyak 800 orang.
Untuk bertahan di tengah gempuran masifnya KKN ini tentu tidak mudah. Kadang aku harus menahan diri dari amarah dan kecewa. Namun aku mengetahui secara pasti bahwa untuk menolak budaya KKN, kita tidak cukup berbicara namun juga harus menjadi contoh. Role Model itulah yang menjadi jihad kecilku.
Dalam mengelola perusahaan tanpa menyentuh ranah yang abu-abu juga bagian dari perjuangan panjang. Aku menjaga jarak dari vendor, menolak proyek yang menimbulkan fitnah, dan berusaha membuat kebijakan berdasarkan prosedur, alih-alih titipan. Semuanya kulakukan demi jihad kecilku melawan KKN yang menjadi penyakit bangsa ini, dan demi mendukung program pemerintah dalam rangka penyelengaraan pemerintahan yang bersih.
Setiap kali aku nyaris menyerah, aku kembali teringat wajah ayahku di kain kafan putih itu, dan aku takut kehilangan hakku untuk disebut anak saleh yang doanya didengar Allah Swt.
Lalu pada saat ini, di ruang sunyi ini, aku merenungi kembali semuanya. Walaupun seluruh manusia menuduhku dengan label yang paling aku hindari, tapi aku percaya bahwa Allah Maha Mengetahui isi hati dan niat hamba-Nya.
Barangkali inilah goa versiku, goa yang gelap, sempit, dan sunyi. Dan mungkin seperti tiga pemuda itu, aku hanya perlu berdoa dengan satu wasilah, yaitu amal saleh yang kutegakkan dalam diam.
“Ya Allah, Jika amalku menjaga merit system dan menolak KKN adalah bentuk kecil dari amal saleh, maka jadikanlah amal itu sebagai wasilah kebebasanku dari fitnah dunia ini. Jadikan amal soleh tersebut sebagai penerang bagi bangsa ini, dan pahala bagi ayah-ibuku di alam sana”.
Aku sadar bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, dan jika perjuangan kecilku bisa menjadi manfaat, meski sekadar setitik, maka biarlah ia menjadi saksiku di hadapan-Mu kelak.
Penulis adalah Direksi Bank DKI (2018 sd 2022) & Dirut Bank Sumut (2023 sd 2025). Esay ini di ketik ulang dari tulisan tangan ayahku yang berada di rutan Salemba & Esay ini bagian dari Manifesto Tawasul Sang Burung Pipit (The Bright Way to Freedom and Faith), salam Ahmad Raihan Hakim (Alumni SMA Muh 3 Jkt 2018).
(Rutan Salemba, 27 Oktober 2025)

