KULON PROGO, Suara Muhammadiyah - Ciri khas kehidupan umat Islam yaitu hidupnya gemar mengaji. Lebih-lebih warga Persyarikatan, yang demikian itu menjadi sangat substansial.
“Kalau yang suka mengaji itu banyak teman,” ujar Agus Taufiqurrahman. Lainnya apa? Ada yang jauh lebih vitalnya lagi yaitu memudahkan jalan ke surga.
“Makanya mengaji itu menjadi kebutuhan,” tekan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut saat Pengajian Sapa Jamaah Pagi di Masjid Al Fatah, Gembongan, Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo, Ahad (6/9).
Di sinilah mengaji menjadi suatu keniscayaan. Yang muatannya sebagai upaya mengamalkan ajaran Islam, baik perintah maupun larangannya.
“Jadi kita harus selalu berusaha untuk mengenal Islam dengan baik,” tutur Agus. Sebab kalau tidak, kata Agus, tiada berarti hidup di muka bumi.
“Kalau gagal mengenal Islam dengan baik, yakin tidak akan bertemu surganya Allah,” tegasnya.
Pada prinsipnya, mengaji yang mudah diejawantahkan lewat membaca Al-Qur’an. Mencontohkan ‘Aisyiyah Jawa Barat, dikonsepkan dengan Gerakan Mengaji One Day One Juz.
“Dibaca Qur’annya. Jadi kalau orang membaca Qur’an, pahalanya banyak. Maka mengaji, terus dibaca terjemahannya maksudnya, syukur sampai pemahaman lewat mengaji tafsir,” sebutnya.
Pangkalnya, membuat hati jauh makin tenteram. Kenapa begitu? “Karena mengerti benar (artinya),” sambungnya. Di situlah mengaji bukan sekadar keharusan, tetapi harus menjadi rutinitas harian sepanjang kehidupan.
“Kalau tidak bisa sehari satu juz, tidak apa-apa, buat saja sebulan khatam sekali,” seru Agus.
Fakta empirik memperlihatkan, dari tinjauan kesehatan, mengaji sarat keutamaannya. Di antaranya menangkal kepikunan. “Proses kepikunannya bisa lebih dicegah,” tegasnya.
Sisi lain, perlu disokong dengan muatan spiritual yang tinggi, salat malam (qiyamul lail) salah satunya. Meski berat, tapi Agus mendorong perlu ikhtiar demikian rupa di situ.
“Memang memulai itu sulit. Hari pertama berat, hari kedua berat, hari ketiga berat, tetapi kalau sudah bisa membiasakan, Insyaallah terus lancar. Mari kita usahakan,” ajaknya.
Disigi dari sisi kesehatan pun, keutamaannya tidak main-main. Muhammad Sholeh dalam penelitiannya menyingkap, pengaruh rajin tahajud terhadap kesehatan sungguh luar biasa.
“Orang-orang yang tahajudnya rutin, diperiksa darahnya menunjukkan kortisol darahnya rendah, tidak dalam kecemasan," ungkapnya. Dan dampak yang lain apa? Hasil periksa darahnya menunjukkan kekebalan tubuh lebih baik.
“Mengurangi risiko penjakit jantung,” tambahnya dengan menggarisbawahi jaminan kesehatan pengamal salat malam demikian niscayanya.
Akumulasinya sebagai titik picu membangun kesalehan pribadi. Tidak cukup di situ saja, jauh lebih dari itu juga membangun kesalehan sosial.
“Karena kita ini hidup di masyarakat, Islam juga menuntunkan orang Islam yang baik mesti melahirkan akhlak yang baik,” terangnya dengan menandaskan, tergerak melakukan demikian yang dibalut dengan berbuat ihsan kepada sesama.
“Mari kita berbuat kebaikan kepada siapapun. Belum disebut beriman sungguh-sungguh, orang itu kalau belum mencintai temannya, saudaranya, orang mukmin lainnya seperti mencintai dirinya sendiri,” pungkas Agus. (Cris)

