Mewujudkan Gerakan Ekonomi Berkemajuan

Suara Muhammadiyah

14 September 2026

112
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Mewujudkan Gerakan Ekonomi Berkemajuan

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur

Muhammadiyah sejak awal berdirinya bukan sekadar gerakan keagamaan, melainkan gerakan pembaruan yang berusaha menghadirkan Islam sebagai kekuatan yang mencerahkan kehidupan. Karena itu, dakwah Muhammadiyah tidak berhenti pada penguatan kesalehan individual, tetapi harus bertransformasi menjadi kekuatan sosial yang mampu menjawab berbagai persoalan dalam kehidupan masyarakat.

Salah satu persoalan yang semakin penting adalah persoalan ekonomi. Kita menghadapi realitas ekonomi yang tidak sederhana. Di satu sisi, perekonomian Indonesia terus bertumbuh dan berbagai indikator makroekonomi menunjukkan stabilitas. Namun, di sisi lain, masih terdapat kesenjangan kepemilikan aset, keterbatasan akses pembiayaan, rendahnya produktivitas sebagian pelaku usaha, serta tantangan bagi masyarakat kelas bawah dan menengah dalam meningkatkan kesejahteraan.

Dalam konteks inilah Muhammadiyah perlu memperkuat apa yang dapat disebut sebagai gerakan ekonomi berkemajuan. Ekonomi berkemajuan bukan sekadar aktivitas bisnis yang dijalani oleh warga Muhammadiyah. Lebih jauh daripada itu, ia merupakan gerakan ekonomi yang menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan sekaligus menjadikan kemajuan, kemandirian, keadilan, kebermanfaatan, dan keberlanjutan sebagai orientasinya.

Selama ini, kita sudah cukup familiar dengan konsep kesalehan individual. Seorang Muslim dituntut untuk rajin beribadah, jujur, amanah, dan peduli terhadap sesama. Namun, kesalehan tersebut semestinya juga menemukan manifestasinya dalam aktivitas ekonomi.

Karena itu, gerakan ekonomi Muhammadiyah perlu bergerak dari sekadar membangun pelaku ekonomi yang saleh menuju pembangunan ekosistem ekonomi yang saleh. Ekosistem tersebut harus dibangun berdasarkan prinsip kejujuran, keadilan, transparansi, profesionalisme, keberpihakan terhadap kelompok lemah, serta orientasi pada kemaslahatan.

Dengan demikian, ekonomi tidak hanya dilihat dari seberapa besar keuntungan yang diperoleh, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dihasilkan.

Tantangan terbesar gerakan ekonomi warga Muhammadiyah adalah bagaimana mengubah posisi warga dari sekadar konsumen menjadi produsen. Kita memiliki jumlah warga yang besar. Muhammadiyah juga memiliki jaringan amal usaha yang luas, mulai dari pendidikan, kesehatan, sosial, hingga berbagai aktivitas ekonomi. Potensi tersebut merupakan modal sosial yang sangat besar.

Namun, potensi pasar yang besar tidak secara otomatis menghasilkan kemandirian ekonomi. Jika warga Muhammadiyah hanya menjadi konsumen produk yang dihasilkan pihak lain, maka besarnya jumlah warga justru akan menjadi pasar bagi pelaku ekonomi lain.

Karena itu, perlu dibangun kesadaran bahwa setiap warga Muhammadiyah bukan hanya bagian dari pasar, tetapi juga dapat menjadi bagian dari rantai produksi.

Petani Muhammadiyah harus diperkuat. Pedagang Muhammadiyah harus naik kelas. UMKM warga harus didorong untuk menjadi usaha yang produktif dan kompetitif. Profesional Muhammadiyah perlu terhubung dengan para pelaku usaha. Pengusaha besar Muhammadiyah perlu menjadi mentor sekaligus membuka akses pasar bagi usaha kecil.

Dengan pendekatan seperti ini, ekonomi Muhammadiyah tidak berjalan secara individualistik, melainkan membentuk ekosistem ekonomi berjamaah.

Salah satu persoalan yang perlu kita refleksikan adalah kecenderungan menjalankan kegiatan ekonomi secara terpisah-pisah. Ada UMKM yang berjalan sendiri. Ada koperasi yang berjalan sendiri. Ada lembaga keuangan yang berjalan sendiri. Ada amal usaha yang melakukan pengadaan sendiri. Ada pengusaha Muhammadiyah yang memiliki jaringan bisnis sendiri.

Padahal, jika seluruh potensi tersebut dihubungkan, akan tercipta kekuatan ekonomi yang jauh lebih besar. Bayangkan apabila kebutuhan barang dan jasa amal usaha Muhammadiyah dapat dipenuhi sebisa mungkin oleh pelaku usaha warga Muhammadiyah yang memenuhi standar kualitas dan harga. 

Sekolah membutuhkan seragam, makanan, perangkat teknologi, jasa konsultasi, hingga berbagai kebutuhan lainnya. Rumah sakit membutuhkan berbagai jenis barang dan jasa. Perguruan tinggi membutuhkan berbagai produk dan layanan. Semua itu dapat menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi Muhammadiyah.

Tetapi ada catatan penting: gerakan ekonomi tidak boleh berubah menjadi praktik eksklusif yang mengutamakan kedekatan organisasi tanpa memperhatikan kualitas dan profesionalisme. Justru sebaliknya. Warga Muhammadiyah harus didorong untuk menjadi pelaku usaha yang kompetitif karena kualitas, bukan karena identitas.

Semangatnya bukan "karena kita Muhammadiyah maka harus dibeli", tetapi "karena kita Muhammadiyah, kita harus mampu menghasilkan produk terbaik dan memberikan pelayanan terbaik." Inilah semangat gerakan ekonomi berkemajuan.

Gerakan ekonomi berkemajuan juga harus diarahkan pada pembangunan kemandirian. Kemandirian ekonomi bukan berarti menutup diri dari dunia luar. Kemandirian justru berarti memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan secara lebih bebas karena memiliki kapasitas ekonomi yang kuat.

Muhammadiyah membutuhkan warga yang memiliki pekerjaan produktif, usaha yang sehat, aset yang berkembang, serta kemampuan mengelola keuangan dengan baik. Karena itu, literasi keuangan perlu menjadi bagian penting dari gerakan ekonomi Muhammadiyah.

Warga perlu memahami cara mengelola pendapatan, menabung, berinvestasi, mengelola utang, menyiapkan dana pensiun, mengembangkan usaha, serta menggunakan produk keuangan syariah dengan tepat. Jangan sampai masyarakat memiliki pendapatan tetapi tidak memiliki kemampuan mengelolanya.

Jangan sampai UMKM memperoleh pembiayaan tetapi tidak mampu mengembangkan produktivitas. Jangan sampai masyarakat memperoleh akses digital, tetapi justru terjebak dalam konsumsi berlebihan dan utang konsumtif. Maka, gerakan ekonomi harus membangun ketahanan keuangan warga persyarikatan.

UMKM harus menjadi salah satu prioritas utama. Jumlah UMKM yang besar menunjukkan bahwa ekonomi rakyat sebenarnya memiliki energi yang luar biasa. Persoalannya adalah bagaimana energi tersebut dikonversi menjadi produktivitas dan peningkatan kesejahteraan.

Banyak UMKM masih menghadapi persoalan klasik: modal terbatas, manajemen lemah, akses pasar sempit, teknologi terbatas, kualitas produk yang belum konsisten, serta belum memiliki pencatatan keuangan yang memadai.

Karena itu, pendekatan terhadap UMKM tidak cukup hanya dengan memberikan pembiayaan. UMKM tidak cukup dibiayai, tetapi juga harus dibina, didampingi, dijamin, dan dibukakan akses pasar. Di sinilah Muhammadiyah dapat memainkan peran strategis.

Perguruan Tinggi Muhammadiyah dapat menjadi pusat inkubasi bisnis. Profesional Muhammadiyah dapat menjadi mentor. Pengusaha Muhammadiyah dapat menjadi agregator. Lembaga keuangan dapat memberikan pembiayaan. Organisasi dapat membuka akses pasar. Jika seluruh kekuatan tersebut disinergikan, UMKM tidak lagi berjalan sendiri.

Gerakan ekonomi berkemajuan juga tidak mungkin mengabaikan digitalisasi. Generasi muda Muhammadiyah hidup dalam ekosistem ekonomi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga memiliki peluang untuk menjadi kreator, entrepreneur digital, freelancer, investor, dan pengembang berbagai inovasi.

Karena itu, kader muda Muhammadiyah harus dipersiapkan untuk menjadi wirausahawan digital. Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, melainkan juga harus menjadi pencipta nilai melalui teknologi.

Digitalisasi harus dimanfaatkan untuk memperluas pasar UMKM, membangun sistem perdagangan, memperkuat fundraising, meningkatkan efisiensi amal usaha, memperluas pendidikan kewirausahaan, hingga membangun sistem data ekonomi warga.

Dengan data yang baik, organisasi dapat mengetahui potensi ekonomi warganya: siapa pengusaha, siapa profesional, siapa petani, siapa investor, siapa mentor, siapa yang membutuhkan pembiayaan, dan siapa yang memiliki akses pasar. Dari sinilah ekosistem ekonomi dapat dibangun secara lebih terencana.

Gerakan ekonomi berkemajuan juga perlu mengoptimalkan instrumen filantropi Islam. Zakat dan wakaf jangan semata-mata dipahami sebagai instrumen bantuan sosial. Keduanya dapat menjadi bagian dari strategi pemberdayaan ekonomi.

Zakat dapat diarahkan untuk meningkatkan kapasitas mustahik agar suatu saat mampu menjadi muzaki. Wakaf dapat dikembangkan menjadi aset produktif yang memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan. Orientasinya adalah transformasi dari karitas menjadi pemberdayaan.

Memberi bantuan memang penting, tetapi membangun kemampuan agar seseorang tidak terus-menerus bergantung pada bantuan jauh lebih strategis. Karena itu, filantropi Muhammadiyah perlu terus dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja, membangun usaha, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Gerakan ekonomi tidak boleh berhenti di tingkat pusat. Justru kekuatan Muhammadiyah berada di akar rumput, yaitu di cabang dan ranting. Cabang dan ranting harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi warga di tingkat lokal.

Setiap cabang dan ranting dapat memetakan potensi ekonomi masing-masing. Ada yang memiliki potensi perdagangan, pertanian, peternakan, pendidikan, kesehatan, kuliner, pariwisata, industri kreatif, atau ekonomi digital.

Tidak perlu semua cabang menjalankan bisnis yang sama. Hal yang diperlukan adalah pemetaan potensi, penguatan kapasitas, dan penghubungan antarpelaku ekonomi. Dengan demikian, cabang dan ranting bukan hanya menjadi pusat aktivitas dakwah, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Muhammadiyah telah memiliki pengalaman panjang dalam mengelola amal usaha. Namun, ke depan kita perlu memperluas perspektif. Amal usaha bukan hanya institusi yang menyediakan layanan pendidikan, kesehatan, atau sosial. Amal usaha juga dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi untuk pemberdayaan masyarakat.

Dengan demikian, amal usaha tidak hanya menghasilkan pelayanan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dan lapangan kerja. Tentu, semuanya harus tetap berada dalam koridor tata kelola yang baik. Profesionalisme menjadi kata kunci.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi bukan semata-mata tentang pertumbuhan. Ekonomi berkemajuan harus menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut?

Jika ekonomi tumbuh tetapi ketimpangan semakin melebar, maka ada persoalan yang perlu diperbaiki. Jika keuntungan meningkat tetapi pekerja tidak memperoleh kehidupan yang layak, maka ada masalah distribusi. Jika bisnis berkembang tetapi lingkungan rusak, kemajuan tersebut tidak berkelanjutan.

Karena itu, gerakan ekonomi Muhammadiyah harus berorientasi pada pertumbuhan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Ekonomi berkemajuan harus menghadirkan kesejahteraan yang lebih luas.

Muhammadiyah memiliki modal sosial, jaringan organisasi, amal usaha, sumber daya manusia, intelektual, profesional, pengusaha, dan generasi muda yang sangat besar. Hal yang dibutuhkan sekarang adalah menghubungkan seluruh potensi tersebut dalam sebuah gerakan ekonomi yang terintegrasi.

Kita membutuhkan peta jalan ekonomi Muhammadiyah yang jelas: mulai dari penguatan literasi ekonomi, pemberdayaan UMKM, digitalisasi usaha, pengembangan koperasi, optimalisasi zakat dan wakaf, penguatan bisnis warga, hingga penciptaan rantai pasok internal yang kompetitif.

Tetapi yang lebih penting daripada peta jalan adalah perubahan cara berpikir. Gerakan ekonomi tidak boleh dipandang sebagai proyek beberapa orang. Ia harus menjadi gerakan bersama.

Muhammadiyah tidak cukup hanya melahirkan orang-orang yang pandai berbicara tentang ekonomi. Muhammadiyah harus melahirkan lebih banyak produsen, pengusaha, profesional, investor, inovator, dan pemimpin ekonomi yang menjadikan nilai-nilai Islam sebagai etika dalam aktivitas ekonomi.

Sebab, dakwah yang berkemajuan bukan hanya dakwah yang mampu mengubah cara berpikir manusia, tetapi juga dakwah yang mampu mengubah kehidupan manusia menjadi lebih sejahtera. Pada titik inilah ekonomi berkemajuan menemukan maknanya.

Membangun ekonomi bukan sekadar mengejar keuntungan, tetapi juga menciptakan manfaat. Membangun usaha bukan sekadar memperbesar aset, tetapi juga memperluas kemaslahatan. Dan membangun kemandirian ekonomi warga Muhammadiyah pada akhirnya merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi kehidupan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Kuda Pacu Ramadhan dan Pailit Sapto Suhendro, S.Ag, M.Pd. Ketua PDM Pemalang Bulan Ramadhan tahun ....

Suara Muhammadiyah

28 March 2025

Wawasan

 Adam dalam Al-Qur`an dan Alkitab (Serial Para Nabi)  Oleh : Donny Syofyan, Dosen Fakulta....

Suara Muhammadiyah

11 October 2024

Wawasan

Pemulihan Hati yang Terluka Oleh: Mohammad Fakhrudin Ungkapan, “Mencegah sakit lebih baik da....

Suara Muhammadiyah

22 December 2025

Wawasan

Tragedi Ballpoin: Cermin Retak Sistem Pendidikan Dasar Kita Oleh: Syahnanto Noerdin*) Surat perpis....

Suara Muhammadiyah

7 February 2026

Wawasan

Oleh: Azrohal Hasan Pendidikan merupakan instrumen penting untuk melahirkan manusia unggul, manusi....

Suara Muhammadiyah

17 July 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah