Jelang Milad Aisyiyah, MPK PWA Jateng Adakan Pelatihan Menulis: Menulis sebagai Ibadah, Dakwah, dan Amal Jariyah
PURWOREJO, Suara Muhammadiyah - "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
- Pramoedya Ananta Toer
Kutipan di atas mengingatkan kita betapa pentingnya menulis. Meski tulisannya tak selalu dibaca banyak orang, seorang penulis harus tetap menulis untuk menjaga dirinya tetap ada.
Masih dalam suasana peringatan Hari Kartini, Majelis Pembinaan Kader (MPK) Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah menggelar Pelatihan Jurnalistik. Tema yang diusung adalah Literasi Perempuan untuk Peradaban Berkemajuan dan diikuti sekitar 160 kader Aisyiyah daerah se-Jawa Tengah, Ahad (26/04).
Kegiatan pelatihan jurnalistik secara daring tersebut menghadirkan dua perempuan hebat sebagai narasumber: Hajar Nur Setyowati, Pemred Suara Aisyiyah dan Nur Ngazizah, Penulis Terbaik Suara Muhammadiyah versi online tahun 2020
Mengenang Kartini tidak lepas dengan aktivitas menulis. Dari tulisan-tulisannya kita bisa belajar tentang banyak hal seputar keperempuanan. Demikian pula bagi anggota Aisyiyah. Sebagai kader Aisyiyah yang berkemajuan, kita dituntut untuk bisa berkarya, berdaya guna bagi generasi penerus bangsa, salah satunya dengan cara menulis.
Di awal sesi pelatihan jurnalistik, Nur Ngazizah memantik para peserta dengan jargon penyemangat "Menulis adalah Ibadah". Namun sebelum kita menulis, ada satu hal krusial yang harus kita miliki yaitu suka membaca. Bagaimana bisa menulis dengan baik jika tidak pernah membaca?
Dengan rajin membaca secara teratur, akan muncul inspirasi yang menggugah dan melahirkan kreatifitas sehingga kita tergerak untuk menulis. Entah kegelisahan, gagasan, ide, ekspresi diri; rasa bahagia, sedih, marah, dan sebagainya, bisa kita sikapi dengan mewujudkannya menjadi sebuah tulisan.
Sesuai dengan materi yang disampaikan Nur Ngazizah, yaitu kiat-kiat sukses bagaimana menulis yang kreatif dan inspiratif, ia membagi beberapa jurus jitu kepada para peserta. Di antaranya jangan ragu dan takut salah untuk memulai menulis. Niatkan menulis untuk ibadah dan nekat menulis sesederhana apa pun yang kita bisa.
Selanjutnya, Nur Ngazizah mengingatkan bahwa dengan banyak membaca buku berkualitas maka sangat berpengaruh pada hasil tulisan. Dengan membaca pula akan timbul perang dalam diri karena punya pendapat sendiri lalu kita berusaha untuk menuliskannya. Termasuk mencermati tulisan-tulisan yang bagus, membantu kita dalam belajar menulis.
Menulis bisa dilakukan kapan saja di kala suka maupun duka. Bahkan menulis bisa menjadi penawar hati saat kita tidak baik-baik saja. Tulisan kita tidak harus dibaca oleh banyak orang yang penting kita mau dan ada semangat untuk menulis.
Berbagi pengalaman lewat cerita-cerita inspiratif yang kita tulis akan membawa manfaat bagi pembacanya. Isi tulisan tidak harus yang sedang viral atau bombastis, tetapi yang ada nilai edukasi di dalamnya. Tulisan yang mampu menginspirasi orang lain secara positif punya nilai dakwah dan ibadah.
Ketika rasa malas menghampiri, Nur Ngazizah kembali mengingatkan bahwa selain diniatkan untuk ibadah, menulis juga sebagai sarana beramal jariyah. Tak ada sesuatu yang sulit jika kita mau berusaha memulainya dengan niat positif.
Yuk, menulis, menulis, dan menulis. (Wurry/Naf)

