Muhadjir Effendy: Muhammadiyah-Aisyiyah Saling Melengkapi dan Menguatkan

Suara Muhammadiyah

12 October 2026

87
Foto Istimewa

Foto Istimewa

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Muhammadiyah dan Aisyiyah merupakan dua gerakan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya lahir dari sumber ideologi yang sama, bergerak dalam medan pengabdian yang saling melengkapi, dan memiliki tujuan yang sama dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Karena itu, keterpaduan Muhammadiyah dan Aisyiyah perlu terus dirawat dan diperkuat.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., dalam acara “Hari Bermuhammadiyah PDM Jakarta Utara”, Ahad (11/10/2026), di Rumah Bang H. Sabri Saiman, MBA, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Menurut Muhadjir, hubungan Muhammadiyah dan Aisyiyah dapat dipahami dengan baik melalui dua lagu organisasi yang selama ini menjadi identitas gerakan, yakni “Sang Surya” dan “Mars Aisyiyah”.

“Kalau kita perhatikan, Sang Surya itu memuat ideologi Muhammadiyah. Di sana kita menemukan keyakinan bahwa Tuhan kita adalah Rabb kita, Muhammad adalah junjungan kita, Islam adalah agama kita, dan Muhammadiyah adalah gerakan kita,” ujar Muhadjir.

Bagi Muhadjir, pesan dalam “Sang Surya” menunjukkan dengan jelas posisi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang memiliki identitas dan orientasi perjuangan sendiri. Muhammadiyah tidak dibangun sebagai gerakan yang sekadar mengulang corak gerakan lain.

“Karena itu, dari Sang Surya kita memahami bahwa Muhammadiyah bukan salafiyah dan bukan pula Dahlaniyah. Muhammadiyah adalah Muhammadiyah, sebuah gerakan Islam yang benar-benar bersumber dari ajaran Nabi Muhammad,” katanya.

Sementara itu, menurut Muhadjir, “Mars Aisyiyah” menggambarkan bagaimana ideologi tersebut diterjemahkan ke dalam amal dan pengabdian di tengah masyarakat.

Mars Aisyiyah mengandung pesan tentang kewajiban suci untuk menjaga harkat dan martabat kemanusiaan, menjadi tiang negara, serta mengajak seluruh anggota untuk beramal dan berdarma bakti membangun bangsa. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan kehidupan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan dipenuhi karunia Allah.

“Kalau Sang Surya menggambarkan ideologi dan identitas gerakan Muhammadiyah, Mars Aisyiyah menggambarkan implementasi dan pengamalannya dalam kehidupan. Karena itu keduanya tidak bisa dipisahkan,” jelas Muhadjir.

Atas dasar itu, Muhadjir menyarankan agar “setiap acara Muhammadiyah tidak hanya menyanyikan Sang Surya, tetapi juga diikuti dengan Mars Aisyiyah”. Menurut dia, kebiasaan tersebut bukan sekadar persoalan tata acara, melainkan dapat menjadi simbol penting mengenai keterpaduan kedua gerakan.

“Setiap kali menyanyikan Sang Surya, sebaiknya diikuti Mars Aisyiyah. Ini menjadi simbol bahwa Muhammadiyah dan Aisyiyah adalah gerakan yang saling melengkapi dan saling menguatkan,” ujarnya.

Muhadjir mengibaratkan Muhammadiyah dan Aisyiyah seperti “dua sisi dari satu mata uang”. Keduanya berbeda dalam peran dan medan pengabdian, tetapi tidak terpisahkan dalam satu kesatuan gerakan.

Peran Aisyiyah, menurut dia, sangat penting dalam memperkuat gerakan Muhammadiyah, terutama melalui kiprah perempuan dalam pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, pemberdayaan masyarakat, keluarga, dan berbagai bidang kehidupan lainnya.

Sebaliknya, Muhammadiyah juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan ruang, dukungan, dan penguatan terhadap kiprah Aisyiyah agar potensi besar perempuan Muhammadiyah dapat terus berkembang.

Karena itu, keterpaduan Muhammadiyah-Aisyiyah bukan hanya penting bagi keberlangsungan organisasi, tetapi juga bagi efektivitas dakwah di tengah perubahan masyarakat yang semakin kompleks.

Dalam konteks tersebut, “Hari Bermuhammadiyah” menjadi momentum untuk memperkuat kembali kesadaran bahwa Muhammadiyah bukan sekadar organisasi dengan struktur dan perangkat kelembagaan, melainkan sebuah gerakan dakwah yang membutuhkan sinergi seluruh komponennya.

Muhadjir juga mengajak warga Muhammadiyah untuk terus memperkuat ideologi sekaligus memperluas amal nyata. Ideologi memberikan arah perjuangan, sementara amal usaha dan pengabdian sosial menjadi wujud nyata dari nilai-nilai yang diyakini.

Dengan demikian, Sang Surya dan Mars Aisyiyah tidak berhenti sebagai lagu yang dinyanyikan dalam berbagai kegiatan organisasi.

Keduanya dapat dibaca sebagai dua pesan yang saling melengkapi: Sang Surya mengingatkan siapa Muhammadiyah dan ke mana gerakannya diarahkan, sedangkan Mars Aisyiyah mengingatkan bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam amal dan pengabdian.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Biro Sumber Daya Manusia (SDM) dan Umum Universitas Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

19 June 2025

Berita

BANDAR LAMPUNG, Suara Muhammadiyah - Tim Jurnalis SMK Muhammadiyah Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawan....

Suara Muhammadiyah

12 December 2024

Berita

PULANGPISAU, Suara Muhammadiyah - Siswa sekolah dasar Muhammadiyah terpadu (SDMT) Pulang Pisau, Kali....

Suara Muhammadiyah

7 May 2026

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Politeknik Muhammadiyah (PoltekMu) Makassar kembali akan menerju....

Suara Muhammadiyah

2 January 2026

Berita

MADIUN, Suara Muhammadiyah – Kebahagiaan hidup menjadi dambaan bagi umat manusia, lebih-lebih ....

Suara Muhammadiyah

21 September 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah