Muhammadiyah-ABWA Iran: Nabi Muhammad Adalah Poros Utama
Musim panas yang menyebabkan suhu udara hampir menyentuh 35°, tidak menyurutkan semangat memperkenalkan Muhammadiyah melampaui batas-batas tanah air. Agiel Laksamana Putra, Hisam Sidqi, Laini Misra, Muhammad Taqi Askari, dan Arafah Pramasto, kesemuanya adalah kader yang tergabung dalam Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Iran, disambut dengan hangat oleh “Ahl al-Bayt World Assembly (ABWA)”/مجمع جهانی اهل بیت yang bekedudukan di ibukota Republik Islam Iran pada hari Senin (24/8). Pertemuan berlangsung di kantor pusat ABWA yang terletak di bilangan Laleh Park, Tehran.
ABWA merupakan organisasi non-pemerintah yang berdiri sejak 1990 dan bertujuan untuk menyebarkan ajaran Islam yang berdasarkan Al-Quran dan keteladanan para Ahlul Bayt (keluarga) Nabi yang disucikan oleh para pemeluk Syiah. ABWA turut menegaskan dukungan dan dorongan untuk memperkuat persatuan Islam di seluruh dunia, salah satunya dengan mendirikan majelis maupun pusat dakwah di sekitar 90 negara di dunia. Dalam pertemuan tersebut, rombongan PCIM Iran berkesempatan untuk melakukan audiensi dengan Seyyed Hassan Fatemi, manajer utama untuk negara Asia Pasifik dan Hasan Mahdavi selaku manajer untuk urusan negara-negara di Asia Timur.
Diawali dengan diskusi mengenai kondisi Indonesia yang mana penghormatan kepada Ahlul Bayt turut termanifestasi dalam kultur masyarakatnya, seperti dengan adanya adat peringatan kesyahidan Sayyidina Husein RA dalam prosesi Tabot di Bengkulu, Tabuik di Pariaman, maupun pembuatan Tajjhin Sora di Madura, yakni bubur khas di bulan Muharram. PCIM Iran menegaskan bahwa kecintaan kepada Ahlul Bayt merupakan keniscayaan yang tidak terlimitasi oleh identitas madzhab tertentu; termasuk rakyat Indonesia yang mayoritas Sunni.
Sebaliknya, ABWA ikut mengetengahkan bahwa kecintaan kepada Ahlul Bayt pun bukan secara “eksklusif” menjadi milik kaum Syiah semata. “Muhibbin” atau “pecinta” adalah panggilan atau bahkan predikat penghormatan kepada siapa pun yang mencintai serta mengambil keteladanan dari keluarga Rasulullah. Mahdavi mengisahkan bahwa ABWA tidak membatasi kolaborasi, bukan hanya dengan penganut Sunni, juga bersama umat Kristiani maupun agama lainnya. Ia mengisahkan bahwa dalam sebuah kegiatan sosial di bidang kesehatan, ABWA pernah memperoleh sukarelawan dari para dokter beragama Buddha dari Thailand yang mengagumi Sayyidina Ali RA.
Selanjutnya, potensi kerja sama dapat terjalin antara dengan mempertimbangkan kondisi prospek maupun kondisi eksisting dari kedua organisasi. ABWA adalah organisasi yang membawahi Ahlul Bayt International University, Tehran, kampus yang mana Agiel, Hisam, Laini, dan Arafah menempuh pendidikan. Selain itu, organisasi tersebut turut membawahi berbagai platform media seperti kantor berita ABNA (AhlulBayt News Agency), laman wikishia.net, maupun Thaqalain TV (berbahasa Arab). Hal ini dipandang sebagai prospek yang baik, terlebih Muhammadiyah adalah persyarikatan dengan pengikut sekira 60 juta jiwa yang memiliki ratusan aset amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.
Terdapat sejumlah bidang yang dapat menyambut semangat kolaborasi dari kedua belah pihak. Pada bidang pendidikan, wacana-wacana yang dapat dibina antara lain ialah pertukaran mahasiswa, entah dari Indonesia untuk belajar ke Iran maupun sebaliknya. Selain itu di bidang riset, mengingat bahwa kedua organisasi bercorak keislaman maka penelitian di bidang kemasyarakatan dapat digalakkan. Belum lagi transfer pengetahuan antara kedua negara melalui kegiatan seminar ilmiah bisa direalisasikan entah secara luring maupun daring. Bidang pariwisata keislaman, mengingat bahwa Iran yang dahulunya disebut “Persia” itu merupakan salah satu pusat peradaban Islam, ialah pesona yang perlu dieksplorasi. Tak lupa pengembangan ‘Ulum Al-Quran dapat diselenggarakan melalui kolaborasi keduanya.
Namun diperlukan diskusi, koordinasi, dan relasi berkelanjutan antara ABWA dan Muhammadiyah, khususnya PCIM Iran dalam merealisasikan ikhtiar baik yang segera mulai akan dibina ini. Seyyed Hassan pun turut mengapresiasi sikap Muhammadiyah dalam dukungannya terhadap perjuangan Palestina, setelah Agiel dan Laini menerangkan bahwa persyarikatan ini turut memiliki lembaga seperti LAZISMU yang turut memberikan bantuan pada para saudara-saudari di Gaza.
Pertemuan ini diakhiri dengan memberikan buku Risalah Islam Berkemajuan terjemahan bahasa Persia.
“Kami sangat senang dapat mengenal organisasi dari Indonesia yang berporos (mengambil inspirasi utama-pen) pada sosok Nabi Muhammad Saw. (Muhammadiyah-pen),” tegas Hosein Mahdavi menutup perbincangan pada siang hari itu. (arafah/diko)

