Muhammadiyah Besar, Jangan Sampai Cara Berpikir Malah Kecil
Membaca Pesan Ketua Umum dari Bawah untuk Menggerakkan Kebangkitan sampai ke Ranting
Oleh: Agus Subeno, Pemerhati kebijakan publik, Ketua PCM Duren Sawit II
.Prof. Dr. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, pernah menyampaikan satu kalimat yang sederhana tapi sangat manarik: jangan sampai Muhammadiyah yang sudah besar masih dikelola dengan pola pikir “disket lama”.
Pesan itu bukan hanya untuk pimpinan pusat. Ia untuk kita semua. Untuk pimpinan wilayah, daerah, cabang, ranting. Untuk guru, dosen, dokter, pengusaha, birokrat, dan anak muda. Untuk kita yang setiap hari menjadi pelaksana keputusan organisasi.
Sebab kalau yang berubah hanya struktur di atas, sementara cara berpikir di bawah tetap sama, maka perubahan itu tidak akan ke mana-mana. Sebaliknya, jika perubahan cara berpikir tumbuh dari bawah, dari masjid, sekolah, keluarga, dan kader-kader muda, ia bisa menjadi energi kebangkitan yang nyata.
Muhammadiyah Hari Ini Sudah Berbeda
Muhammadiyah hari ini bukan lagi Muhammadiyah puluhan tahun lalu. Persyarikatan sudah tumbuh besar. Ribuan amal usaha berdiri. Sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, pesantren, lembaga sosial, sampai jaringan cabang dan ranting tersebar luas. Data organisasi mencatat sekitar 14.670 ranting dan 3.947 cabang. Itu kekuatan sosial yang luar biasa.
Tetapi justru di tengah kebesaran itu muncul pertanyaan jujur yang harus kita jawab:
Apakah kebesaran Muhammadiyah sudah diikuti oleh kebesaran cara berpikir kita? Jangan-jangan organisasi kita sudah besar, tetapi sebagian dari kita masih berpikir seperti ketika Muhammadiyah masih kecil. Teknologi sudah berubah, tetapi cara berdakwah masih sama. Anak muda hidup di dunia digital, tetapi kita masih bertanya mengapa mereka jarang ke pengajian. Masyarakat berubah cepat, tetapi kita kadang masih mempertahankan kebiasaan lama hanya karena “dari dulu memang begitu”.
Padahal tajdid yang menjadi ruh Muhammadiyah bukan sekadar mengganti yang lama dengan yang baru. Tajdid adalah kemampuan menjaga nilai sekaligus memperbarui cara agar nilai itu tetap hidup dan relevan.
Nilai Islam kita jaga. Ideologi Persyarikatan kita pegang. Semangat dakwah amar makruf nahi munkar tetap jadi pijakan. Tetapi cara membaca zaman, cara bekerja, cara memimpin, cara berdakwah, cara mengkader, dan cara melayani masyarakat harus terus diperbarui.
Jangan Terlalu Nyaman dengan Cara Lama
Muhammadiyah tidak kekurangan orang pintar. Ada guru, dosen, dokter, pengusaha, birokrat, profesional, ulama, akademisi, dan anak muda yang paham teknologi.
Persoalannya bukan pada kemampuan. Persoalannya pada keberanian mengubah cara kerja.
Kita sering lebih mudah berkata, “Dari dulu juga begini.” Kalimat itu terdengar sepele. Tapi kalau terlalu sering dipakai, ia bisa menjadi tembok penghalang.
Dunia tidak pernah berjanji akan tetap sama. Cara orang belajar berubah. Cara orang bekerja berubah. Cara orang dapat informasi berubah. Bahkan cara orang belajar agama dan berdakwah pun berubah.
Muhammadiyah tidak perlu ikut semua tren. Justru kita harus cerdas memilah. Mana yang diterima, mana yang diperbaiki, mana yang ditolak. Tetapi untuk bisa memilah, kita harus mau belajar dulu. Orang yang merasa paling tahu biasanya paling sulit belajar.
Dari Bawah, Kami Juga Ingin Didengar
Pesan memperbarui pola berpikir ini penting sekali bagi warga di bawah. Dari bawah kita melihat jamaah yang semakin sepuh. Kita melihat anak muda yang mulai menjauh dari masjid. Kita melihat pengurus yang itu-itu saja. Kita melihat kader baru yang punya kemampuan, tapi belum diberi ruang. Kita juga melihat kegiatan yang tiap tahun polanya sama, sementara persoalan masyarakat terus berganti.
Karena itu, ketika orang bawah memberi masukan, jangan buru-buru dianggap kritik kepada pimpinan. Bisa jadi itu suara lapangan yang memberitahu ada yang perlu dibenahi. Pimpinan tidak harus selalu paling tahu. Justru tanda pimpinan kuat adalah mau mendengar.
Anak muda mungkin belum punya pengalaman panjang, tapi mereka paham dunianya. Bawahan mungkin tidak punya jabatan, tapi mereka tahu persoalan teknis. Anggota biasa mungkin tidak pernah duduk di rapat besar, tapi mereka berhadapan langsung dengan masyarakat.
Kalau semua suara itu diberi ruang, Muhammadiyah akan semakin kaya gagasan. Sebaliknya, kalau yang didengar hanya orang yang selalu setuju, organisasi bisa nyaman di dalam, tapi rapuh menghadapi kenyataan di luar.
Kader Jangan Hanya Pandai Menunggu
Ada kebiasaan lain yang perlu kita ubah: kader terlalu sering menunggu. Menunggu instruksi. Menunggu program. Menunggu anggaran. Menunggu rapat. Menunggu siapa yang mulai duluan. Padahal kader Muhammadiyah bukan hanya pelaksana perintah. Kader adalah orang yang punya kesadaran untuk bergerak.
Lihat anak-anak di sekitar masjid butuh bimbingan belajar, mulai. Lihat warga kesulitan, cari jalan untuk membantu. Lihat UMKM jamaah susah berkembang, hubungkan dengan jaringan yang kita punya.
Lihat anak muda lebih banyak di Instagram, TikTok, YouTube, dan ruang digital lain, jangan hanya mengeluh mereka tidak datang ke masjid. Datangi dunia mereka.
Dakwah tidak selalu menunggu orang datang kepada kita. Kadang kitalah yang harus datang kepada mereka. Di sinilah dakwah berkemajuan diuji: mampu membaca kebutuhan zaman tanpa kehilangan nilai.
Ranting Jangan Sekadar Ada, Harus Terasa Ada
Kita sering menyebut ranting sebagai ujung tombak Muhammadiyah. Itu benar. Tapi ujung tombak tidak cukup hanya ada. Ia harus tajam dan dipakai.
Muhammadiyah punya jaringan ranting yang sangat besar. Pertanyaannya bukan berapa jumlah ranting, tapi berapa banyak ranting yang benar-benar hidup dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ranting tidak harus punya gedung megah atau program besar. Ranting yang tiap minggu mengajar anak-anak mengaji, membantu warga kesulitan, menghidupkan kegiatan anak muda, menggerakkan sedekah, atau mendampingi keluarga yang membutuhkan, sebenarnya sudah sedang menjalankan Muhammadiyah.
Bahkan mungkin lebih bermakna daripada organisasi yang banyak membuat acara, tapi masyarakat sekitar tidak merasakan apa-apa. Maka ukuran kemajuan ranting jangan hanya dihitung dari berapa kali rapat atau berapa banyak kegiatan. Ukur dari berapa banyak kehidupan yang tersentuh.
Berhenti Menghitung Acara, Mulai Menghitung Dampak
Ini mungkin perubahan pola pikir paling penting. Kita sering bangga melapor, “Tahun ini sudah melaksanakan sekian kegiatan.”
Tapi setelah selesai, apa yang berubah?
Apakah ada kader baru?
Apakah anak muda bertambah?
Apakah jamaah semakin dekat?
Apakah keluarga yang kesulitan jadi terbantu?
Apakah ada anak yang jadi lebih baik?
Apakah masyarakat semakin mengenal Muhammadiyah sebagai gerakan yang hadir untuk mereka?
Kalau jawabannya belum jelas, mungkin kita perlu berhenti sebentar untuk mengevaluasi. Bukan untuk menyalahkan siapa-siapa. Tapi untuk memperbaiki diri.
Sebab Muhammadiyah tidak didirikan untuk menjadi organisasi paling sibuk. Muhammadiyah didirikan untuk menjadi gerakan yang paling banyak memberi manfaat.
Kader Jangan Dikurung, Biarkan Berdiaspora
Pesan Ketua Umum tentang diaspora kader juga penting.
Kader Muhammadiyah yang bekerja di pemerintahan, kampus, dunia usaha, lembaga negara, profesi, dan berbagai bidang, jangan dipandang sebagai orang yang meninggalkan Muhammadiyah. Justru mereka sedang membawa nilai Muhammadiyah ke ruang kehidupan yang lebih luas.
Guru yang amanah adalah dakwah. Dokter yang melayani dengan baik adalah dakwah.Pengusaha yang jujur adalah dakwah. Birokrat yang bersih adalah dakwah.Profesional yang berintegritas adalah dakwah.
Muhammadiyah tidak boleh hanya hadir di kantor Muhammadiyah. Nilainya harus hadir di tengah kehidupan. Karena itu kader harus diberi ruang untuk tumbuh, berkembang, dan mengambil peran di mana pun mereka berada.
Kebangkitan Tidak Harus Menunggu dari Atas
Pada akhirnya, pesan Ketua Umum tentang memperbarui pola berpikir tidak boleh berhenti jadi bahan diskusi di rapat. Kebangkitan Muhammadiyah tidak harus menunggu instruksi dari pusat. Tidak harus menunggu cabang punya program baru. Bahkan tidak harus menunggu anggaran besar.
Kebangkitan bisa dimulai dari satu ranting. Dari satu masjid. Dari satu keluarga. Dari satu kader. Dari satu guru. Dari satu anak muda yang berkata: “Saya ingin melakukan sesuatu untuk Muhammadiyah.” Lalu ia bergerak.
Satu menjadi dua. Dua menjadi sepuluh. Sepuluh menjadi jamaah. Jamaah menjadi ranting yang hidup. Dari ranting yang hidup lahir cabang yang kuat. Dari cabang yang kuat lahir daerah yang berdaya.
Karena itu, jangan hanya bertanya: “Apa yang akan dilakukan pimpinan?”
Sesekali bertanyalah: “Apa yang bisa saya lakukan?”
Pertanyaan kedua inilah yang melahirkan kader.
Muhammadiyah Besar, Kita Harus Ikut Membesarkan Cara Berpikir
Kita patut bersyukur menjadi bagian dari Muhammadiyah. Tapi menjadi warga Muhammadiyah bukan hanya menerima kebesaran sejarah. Kita juga punya kewajiban melanjutkan.
KH Ahmad Dahlan tidak mewariskan kepada kita sekadar nama Muhammadiyah. Beliau mewariskan semangat membaca kenyataan, memperbaiki keadaan, dan terus bergerak.
Jangan sampai kita mewarisi Muhammadiyahnya, tapi kehilangan semangat pembaruannya.
Jangan sampai kita bangga dengan sejarah, tapi takut menghadapi masa depan.
Jangan sampai kita punya banyak amal usaha, tapi miskin gagasan.
Jangan sampai kita punya banyak kader, tapi sedikit yang diberi kesempatan.
Dan jangan sampai Muhammadiyah sudah jadi organisasi besar, sementara cara berpikir kita masih sekecil lingkaran kepentingan kita sendiri.
Mungkin inilah saatnya kita benar-benar mengganti “disket lama” itu. Bukan mengganti nilai. Bukan mengganti prinsip. Bukan mengganti jati diri.Tapi mengganti cara kita membaca zaman, cara kita bekerja, cara kita memimpin, cara kita memperlakukan kader, dan cara kita mengukur keberhasilan.
Dari sekadar banyak kegiatan menjadi banyak manfaat. Dari banyak rapat menjadi banyak keputusan. Dari banyak keputusan menjadi banyak tindakan. Dan dari banyak tindakan menjadi perubahan nyata di tengah masyarakat.
Kalau itu bisa kita lakukan, insyaallah pesan Ketua Umum tidak berhenti sebagai tulisan.
Ia menjadi gerakan.
Ia menjadi kebiasaan baru.
Ia menjadi budaya baru.
Dan akhirnya menjadi kebangkitan Muhammadiyah yang terasa dari pusat sampai ranting. Sebab Muhammadiyah masa depan tidak cukup hanya butuh orang-orang yang setia kepada organisasi.
Muhammadiyah butuh orang-orang yang setia kepada nilai, berani berpikir, mau belajar, terbuka pada perubahan, dan bersedia bekerja untuk kemaslahatan.
Muhammadiyah boleh besar. Tapi jangan sampai kita berhenti membesarkan pikiran. Karena gerakan yang besar hanya akan benar-benar Berkemajuan apabila orang-orang yang menggerakkannya juga terus berkemajuan.

