Menjaga Cahaya Pencerahan di Sekolah Muhammadiyah
Penulis: M. Saifudin, Lc, Pengasuh Pondok Modern Muhammadiyah Sangen, Sukoharjo, Jawa Tengah; Penyusun Mushaf Hijaz Terjemah Tafsir Perkata, Syamil Bandung
Sekolah Muhammadiyah lahir bukan sekadar untuk mengajarkan pengetahuan, melainkan untuk mencerahkan kehidupan. Sejak awal, K.H. Ahmad Dahlan memprakarsai pendidikan sebagai jalan dakwah, bukan untuk mengejar ijazah atau prestasi semata, tetapi untuk membentuk manusia beriman, berilmu, dan beramal. Pendidikan dipilih karena di sanalah karakter manusia ditempa secara mendalam dan berkelanjutan.
Pendidikan sering berjalan sunyi dan tanpa sorak. Namun justru dari ruang kelaslah arah hidup manusia banyak ditentukan. Di sanalah peserta didik belajar berpikir jernih, menemukan makna, dan membangun kemandirian. Bersama para guru, mereka tidak hanya diajar, tetapi juga dibimbing dan diberi teladan untuk memahami tujuan hidupnya.
Sejak awal pula, pendidikan Muhammadiyah tidak pernah netral nilai. Ia berpihak secara sadar pada tauhid (iman), akal sehat (ilmu), dan kepedulian sosial (amal). Keberpihakan ini terwujud dalam kurikulum yang integral: Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, pengetahuan umum, serta keterlibatan nyata di tengah masyarakat. Inilah ruh pencerahan sekolah Muhammadiyah—pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menggerakkan dan memberi arah.
Tidak dapat disangkal, sekolah-sekolah Muhammadiyah telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa ini. Jutaan anak negeri telah dididik, akses pendidikan diperluas, dan nilai-nilai keislaman disemai hingga ke berbagai pelosok. Di tengah berbagai keterbatasan, banyak guru dan pengelola sekolah Muhammadiyah tetap mengabdi dengan ketulusan dan loyalitas yang patut diapresiasi.
Namun, di balik capaian tersebut, tersisa pertanyaan reflektif: apakah ruh pencerahan itu masih benar-benar hidup dan mengalir di seluruh sekolah Muhammadiyah?
Kegelisahan ini sekadar sebagai ajakan untuk bermuhasabah. Dalam kenyataan sehari-hari, masih dijumpai peserta didik yang telah menempuh pendidikan bertahun-tahun di sekolah Muhammadiyah, tetapi belum sepenuhnya mengenal dan menghayati nilai dasarnya. Sang Surya dinyanyikan dengan khidmat dalam berbagai acara, namun makna dan spiritnya belum sepenuhnya menjelma dalam kepribadian. Muhammadiyah hadir sebagai institusi, sementara ruh hidup bermuhammadiyah masih perlu terus diperjuangkan.
Fenomena ini tentu bukan persoalan individu semata, melainkan cermin dinamika sistem pendidikan. Di sisi lain, para guru sebagai jantung pendidikan memikul peran yang sangat mulia sekaligus berat. Banyak yang telah berjuang dengan dedikasi tinggi. Namun tuntutan profesionalisme, beban administratif, dan perubahan zaman terkadang membuat nilai dakwah kurang terartikulasikan secara utuh. Padahal, pendidikan Muhammadiyah tumbuh dari keteladanan. Guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan pewaris dan penanam nilai. Ketika visi persyarikatan semakin dihidupkan dalam diri pendidik, sekolah akan memiliki arah yang lebih cerah.
Dampaknya tercermin pada lulusan. Banyak yang cerdas, terampil, dan berdaya saing. Tantangannya adalah bagaimana kecerdasan itu diiringi dengan kepekaan sosial, konsistensi moral, dan orientasi kebermanfaatan. Lulusan diharapkan tidak hanya siap menghadapi dunia kerja, tetapi juga memiliki arah hidup yang jelas dan mampu berkiprah di tengah masyarakat yang majemuk.
K.H. Ahmad Dahlan telah memberi teladan mendalam dalam proses mendidik. Ketika beliau mengajarkan Surah Al-Ma’un, ayat itu disampaikan berulang-ulang, bukan untuk sekadar dihafal, melainkan untuk diamalkan. Ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya rapor dan capaian akademik, tetapi perubahan sikap dan kepekaan sosial. Ilmu tanpa amal hanya melahirkan kecerdasan yang kering, al-‘ilmu bilā tsamarin kasy-syajari bilā tsamarin, ilmu tanpa amal bagaikan pohon tak berbuah.
Di era ketika pendidikan dihadapkan pada akreditasi, pencitraan, dan persaingan pasar, menjaga ruh pencerahan memang menjadi tantangan tersendiri. Sekolah perlu tumbuh dan mandiri, namun tetap menjadikan misi dakwah sebagai poros. Kemandirian finansial penting, tetapi nilai moral dan visi pencerahan adalah ruh yang memberi makna pada seluruh capaian.
Catatan ini lahir dari rasa memiliki dan harapan. Sekolah Muhammadiyah tidak kekurangan sejarah, sumber daya, maupun potensi. Yang sangat dibutuhkan adalah kesediaan untuk terus bercermin dan memperbarui niat (tajdîd an-niyyah). Pembaruan paling mendasar bukan semata soal gedung, teknologi, atau sistem, melainkan menghidupkan kembali ruh pencerahan sebagaimana amanah K.H. Ahmad Dahlan: iman yang kokoh, ilmu yang mencerahkan, dan amal yang nyata.
Dengan ruh iman, ilmu, dan amal, sekolah Muhammadiyah tidak hanya berdiri kokoh dan berjalan maju, tetapi melangkah dengan cahaya, menerangi generasi agar tumbuh menjadi insan berilmu, berkarakter, dan memiliki arah hidup yang jelas, menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Nashrun minallāhi wa fathun qarīb.

