Muhammadiyah dan Ancaman “Lost Generation” Indonesia

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
68
Istimewa

Istimewa

Muhammadiyah dan Ancaman “Lost Generation” Indonesia

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur

Indonesia sedang berada di persimpangan sejarah. Di satu sisi, bangsa ini menikmati bonus demografi yang sering disebut sebagai peluang emas menuju negara maju. Jumlah penduduk usia produktif mencapai proporsi terbesar dalam sejarah Indonesia. Generasi muda mendominasi struktur penduduk, memenuhi kampus, sekolah, ruang digital, pasar kerja, hingga berbagai sektor ekonomi kreatif.

Namun di sisi lain, di balik optimisme tersebut tersimpan ancaman yang tidak boleh diabaikan: lahirnya lost generation atau generasi yang kehilangan arah, kehilangan kesempatan, dan kehilangan masa depan akibat ketidaksiapan sistem sosial, ekonomi, pendidikan, dan budaya dalam menyambut perubahan zaman.

Istilah lost generation selama ini sering digunakan untuk menggambarkan generasi yang mengalami keterputusan akibat krisis besar. Dalam konteks Indonesia hari ini, ancaman itu muncul bukan karena perang dunia, melainkan karena kombinasi pengangguran di kalangan muda, ketimpangan pendidikan, krisis karakter, disrupsi teknologi, kemiskinan digital, serta semakin sempitnya akses terhadap pekerjaan berkualitas. Pertanyaannya kemudian, siapa yang akan menjadi benteng dalam menghadapi ancaman tersebut?

Di tengah tantangan besar itu, Muhammadiyah memiliki posisi yang sangat strategis. Sebagai gerakan Islam modern yang telah berusia lebih dari satu abad, Muhammadiyah tidak hanya memiliki pengalaman panjang dalam membangun pendidikan dan pelayanan sosial, tetapi juga memiliki jaringan kelembagaan yang mampu menjangkau jutaan anak muda di Indonesia.

Ancaman lost generation bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan persoalan peradaban. Karena itu, penyelesaiannya pun membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar menciptakan lapangan kerja. Selama bertahun-tahun, Indonesia sering membanggakan bonus demografi sebagai modal menuju Indonesia Emas 2045. Secara teori, kondisi ini terjadi ketika jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan jumlah penduduk usia nonproduktif.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa bonus demografi tidak secara otomatis menghasilkan kemajuan. Banyak negara gagal memanfaatkan momentum tersebut karena tidak mampu menyediakan pendidikan berkualitas, pekerjaan yang layak, dan ruang aktualisasi bagi generasi mudanya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat pengangguran terbuka pada Desember 2025 mencapai 4,74 persen. Di balik angka nasional tersebut terdapat fakta yang lebih mengkhawatirkan. Pengangguran paling banyak justru terjadi pada kelompok usia muda dan lulusan pendidikan menengah hingga perguruan tinggi. BPS juga mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada 2025 mencapai lebih dari 7 juta orang. Masalahnya bukan hanya soal jumlah pekerjaan, tetapi juga kualitas pekerjaan yang tersedia.

Banyak anak muda akhirnya masuk ke sektor informal, pekerjaan kontrak jangka pendek, ekonomi gig, atau pekerjaan dengan tingkat kepastian pendapatan yang rendah. Diskusi publik yang berkembang di berbagai komunitas digital juga menunjukkan keresahan yang sama: banyak lulusan baru merasa bahwa pendidikan yang mereka tempuh tidak lagi menjamin mobilitas sosial yang lebih baik. Fenomena ini menciptakan paradoks. Pendidikan meningkat, tetapi harapan terhadap masa depan justru menurun.

Anak muda semakin sulit membeli rumah, memperoleh pekerjaan yang stabil, dan membangun keluarga pada usia produktif. Akibatnya, muncul gejala yang lebih dalam berupa frustrasi sosial, apatisme politik, hingga kecenderungan mencari pelarian melalui dunia digital yang tidak produktif. Jika kondisi ini berlangsung lama, bonus demografi yang seharusnya menjadi berkah bisa berubah menjadi bom waktu sosial.

Sebuah generasi tidak tiba-tiba menjadi generasi yang hilang. Terdapat proses panjang yang melatarbelakanginya. Pertama, krisis pendidikan yang semakin kompleks. Selama ini ukuran keberhasilan pendidikan sering berhenti pada angka partisipasi sekolah dan jumlah lulusan. Padahal, dunia kerja abad ke-21 membutuhkan kemampuan yang jauh lebih kompleks, seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, literasi digital, kemampuan beradaptasi, hingga kecerdasan emosional.

Kedua adalah disrupsi teknologi. Kecerdasan buatan, otomatisasi, dan transformasi digital sedang mengubah wajah pasar kerja di seluruh dunia. Banyak pekerjaan lama menghilang, sementara pekerjaan baru muncul dengan kebutuhan keterampilan yang berbeda. Generasi muda yang gagal beradaptasi akan semakin tertinggal.

Ketiga adalah krisis mental dan karakter. Media sosial menciptakan dunia yang penuh perbandingan. Anak muda setiap hari melihat standar kesuksesan yang sering kali tidak realistis. Mereka hidup dalam tekanan untuk terlihat berhasil meskipun kondisi sebenarnya berbeda. Akibatnya, muncul peningkatan kecemasan, kehilangan kepercayaan diri, dan kebingungan identitas.

Keempat, melemahnya institusi sosial yang selama ini menjadi ruang pembentukan karakter. Keluarga menghadapi tekanan ekonomi. Sekolah lebih sibuk mengejar target administratif. Ruang publik semakin dipenuhi polarisasi dan konflik. Dalam situasi seperti itu, anak muda sering kali tumbuh tanpa pendampingan yang memadai. Kondisi inilah yang sebenarnya menjadi inti ancaman lost generation: bukan sekadar kehilangan pekerjaan, tetapi juga kehilangan arah hidup.

Di sinilah relevansi Muhammadiyah menjadi sangat penting. Muhammadiyah, sebagai gerakan, memiliki modal sosial yang sangat besar. Muhammadiyah bukan hanya organisasi keagamaan, tetapi juga jaringan pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat yang tersebar di seluruh Indonesia.

Jutaan siswa belajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Ratusan ribu mahasiswa menempuh pendidikan di perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah. Ribuan kader aktif dalam berbagai organisasi otonom. Skala ini membuat Muhammadiyah memiliki kemampuan unik yang tidak dimiliki oleh banyak organisasi lain, yaitu kemampuan membentuk generasi. Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah telah menunjukkan bahwa pendidikan merupakan instrumen utama dalam perubahan sosial.

Pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, memahami bahwa kebangkitan umat tidak cukup melalui dakwah verbal semata. Pendidikan harus menjadi jalan utama untuk membangun manusia yang beriman, berilmu, dan mampu menghadapi perubahan zaman. Warisan pemikiran itu justru semakin relevan hari ini. Ketika Indonesia menghadapi ancaman lost generation, Muhammadiyah sesungguhnya memiliki fondasi yang kuat untuk menjadi bagian dari solusi nasional.

Selama ini sekolah sering dipahami sebagai tempat transfer pengetahuan. Padahal tantangan abad ke-21 menuntut fungsi yang lebih besar. Sekolah harus menjadi pusat pembentukan masa depan. Muhammadiyah memiliki peluang untuk mentransformasikan sekolah-sekolahnya menjadi pusat pengembangan talenta, kewirausahaan, inovasi, dan kepemimpinan.

Anak muda tidak cukup hanya diajarkan cara menjawab soal ujian. Mereka perlu dilatih bagaimana menyelesaikan masalah nyata. Mereka perlu belajar membangun usaha, menciptakan inovasi, mengelola proyek, bekerja dalam tim, serta memahami perubahan teknologi.

Dalam konteks ini, pendidikan Muhammadiyah perlu semakin menekankan pendekatan keahlian masa depan tanpa kehilangan fondasi nilai-nilai Islam. Ancaman terbesar bagi generasi muda bukan hanya ketertinggalan teknologi, tetapi juga kehilangan arah moral di tengah perubahan yang sangat cepat.

Perguruan tinggi memiliki posisi yang sangat strategis dalam mencegah lahirnya generasi yang hilang. Selama ini masih terdapat kesenjangan antara dunia kampus dan dunia kerja. Banyak lulusan memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi belum siap menghadapi kebutuhan industri yang terus berubah.

Perguruan Tinggi Muhammadiyah perlu menjadi jembatan yang mempertemukan keduanya. Jika setiap kampus Muhammadiyah mampu melahirkan wirausaha muda, inovator teknologi, dan pencipta lapangan kerja, maka kontribusinya terhadap pembangunan nasional akan sangat besar. Indonesia tidak hanya membutuhkan pencari kerja. Indonesia membutuhkan pencipta kerja.

Salah satu tantangan terbesar generasi saat ini adalah krisis makna. Banyak anak muda memiliki akses informasi yang luar biasa besar, tetapi tidak memiliki pegangan yang cukup kuat untuk memahami kehidupan. Mereka mengetahui banyak hal, tetapi tidak selalu memahami tujuan hidup mereka. Karena itu, dakwah Muhammadiyah juga perlu terus beradaptasi.

Dakwah tidak cukup hanya membahas halal dan haram dalam pengertian yang sempit. Dakwah harus mampu menjawab kecemasan generasi muda tentang pekerjaan, masa depan, keluarga, kesehatan mental, teknologi, lingkungan, dan keadilan sosial. Anak muda membutuhkan narasi Islam yang membangun optimisme.

Mereka membutuhkan pemahaman bahwa agama bukan penghalang kemajuan, melainkan sumber energi untuk menciptakan perubahan. Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam menghadirkan Islam yang berkemajuan. Konsep Islam Berkemajuan yang selama ini dikembangkan oleh Muhammadiyah sebenarnya sangat relevan untuk menjawab kegelisahan generasi muda di abad digital.

Ancaman lost generation juga terkait dengan munculnya bentuk kemiskinan baru. Jika dulu kemiskinan identik dengan kekurangan pangan atau pendapatan, saat ini muncul kemiskinan keterampilan, kemiskinan akses teknologi, dan kemiskinan literasi digital. Mereka yang tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi akan semakin tertinggal.

Kesenjangan digital akhirnya berubah menjadi kesenjangan ekonomi. Muhammadiyah perlu memperkuat agenda literasi digital secara masif. Masjid, sekolah, kampus, dan pusat-pusat kegiatan Muhammadiyah dapat menjadi ruang untuk pengembangan kapasitas digital masyarakat.

Mulai dari pelatihan kecerdasan buatan, pemasaran digital, pengembangan perangkat lunak, hingga literasi keuangan digital. Langkah ini penting agar generasi muda tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga produsen teknologi.

Salah satu penyebab utama lahirnya lost generation adalah stagnasi ekonomi keluarga. Ketika keluarga mengalami tekanan ekonomi berkepanjangan, kemampuan mereka untuk berinvestasi dalam pendidikan anak juga menurun. Karena itu, penguatan ekonomi umat menjadi bagian penting dari solusi.

Muhammadiyah memiliki pengalaman panjang dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ke depan, pendekatan tersebut perlu diperluas dengan fokus pada generasi muda. Program kewirausahaan berbasis komunitas, pendampingan usaha rintisan, akses pembiayaan syariah, hingga pengembangan ekonomi kreatif dapat menjadi instrumen penting untuk membuka peluang baru.

Anak muda harus diberi ruang untuk bereksperimen, gagal, belajar, dan bangkit kembali. Karena banyak inovasi besar lahir dari keberanian untuk mencoba. Indonesia tidak kekurangan anak muda yang cerdas. Hal yang sering kurang adalah ekosistem yang mendukung mereka untuk berkembang.

Muhammadiyah selama ini memiliki tradisi kaderisasi yang kuat melalui berbagai organisasi otonom. Tradisi tersebut perlu terus diperkuat. Generasi muda perlu diberikan pengalaman memimpin, mengelola organisasi, menyelesaikan konflik, dan membangun jejaring.

Kemampuan seperti ini akan menjadi modal penting dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks. Lebih dari itu, kaderisasi harus diarahkan untuk melahirkan pemimpin yang berintegritas. Karena ancaman terbesar bagi bangsa bukan hanya pengangguran, tetapi juga krisis kepemimpinan.

Banyak pihak berbicara tentang Indonesia Emas 2045. Namun, mimpi besar tersebut hanya akan menjadi slogan jika generasi mudanya gagal disiapkan. Negara maju tidak dibangun dari sumber daya alam. Negara maju dibangun oleh kualitas manusianya.

Ancaman lost generation merupakan peringatan bahwa pembangunan manusia harus menjadi prioritas utama. Indonesia membutuhkan pendidikan yang relevan, ekonomi yang inklusif, teknologi yang memberdayakan, serta nilai-nilai moral yang kuat. Dalam konteks itu, Muhammadiyah memiliki posisi yang sangat strategis. Bukan hanya karena besarnya jaringan yang dimiliki, tetapi juga karena warisan pemikiran yang selama ini menempatkan pendidikan, pemberdayaan, dan kemajuan sebagai inti dari gerakan tersebut.

Jika Muhammadiyah mampu mengonsolidasikan seluruh kekuatan sekolah, kampus, rumah sakit, lembaga sosial, dan jaringan kadernya untuk menjawab tantangan generasi muda, maka kontribusinya tidak hanya akan dirasakan oleh warga Muhammadiyah. Kontribusi itu akan menjadi investasi bagi masa depan Indonesia.

Ancaman lost generation bukanlah sesuatu yang pasti terjadi, melainkan kemungkinan yang bisa muncul apabila bangsa ini gagal mengelola bonus demografi dan perubahan zaman. Di tengah meningkatnya pengangguran muda, ketidakpastian ekonomi, disrupsi teknologi, dan krisis karakter, Indonesia membutuhkan institusi yang mampu menghadirkan harapan sekaligus solusi.

Muhammadiyah memiliki modal sejarah, sosial, dan kelembagaan untuk memainkan peran tersebut. Tantangannya adalah bagaimana seluruh kekuatan yang dimiliki tidak hanya dipertahankan, tetapi juga ditransformasikan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Pada akhirnya, pertarungan terbesar Indonesia bukanlah melawan negara lain, melainkan melawan kemungkinan hilangnya satu generasi yang seharusnya menjadi penggerak kemajuan bangsa. Ketika generasi muda memperoleh pendidikan berkualitas, kesempatan ekonomi yang memadai, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, serta fondasi moral yang kokoh, bonus demografi akan benar-benar menjadi berkah.

Sebaliknya, jika kesempatan itu tidak disediakan, Indonesia berisiko memasuki masa ketika jumlah penduduk usia produktif besar, tetapi kualitas hidupnya tidak tumbuh sebanding. Di titik itulah ancaman lost generation menjadi nyata.

Karena itu, menyelamatkan generasi muda sesungguhnya bukan hanya agenda pendidikan atau ekonomi. Ia adalah agenda peradaban. Dan dalam agenda besar tersebut, Muhammadiyah memiliki kesempatan sekaligus tanggung jawab historis untuk menjadi salah satu penjaga masa depan Indonesia. Data terkait pengangguran dan kondisi ketenagakerjaan menunjukkan bahwa tantangan tersebut nyata dan membutuhkan respons yang serius dari seluruh elemen bangsa.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Zakat dan Wakaf: Pilar Ekonomi Umat yang Melampaui Kewajiban Ritual Mendorong Pertumbuhan Inklusif ....

Suara Muhammadiyah

7 March 2026

Wawasan

Dari Invasi Asyur hingga Raja Herodes: Kisah Kebangkitan dan Kehancuran Bani Israel dalam Al-Qur'an ....

Suara Muhammadiyah

20 August 2025

Wawasan

Gelar Haji Oleh: Isngadi Marwah Atmadja Sabtu, 1 Juni 2024 yang lalu penulis menghadiri Pembukaan ....

Suara Muhammadiyah

9 July 2025

Wawasan

Dakwah Muhammadiyah: Dakwah yang Hidup Dalam Amal Penulis: Soleh Amini Yahman, Psikolog, Dosen UMS,....

Suara Muhammadiyah

18 March 2026

Wawasan

Warisan Pemikiran Modern Syekh al-Qaradhawi Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Univers....

Suara Muhammadiyah

16 December 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah