Menjaga Spiritualitas "Marwah" Muhammadiyah Mayong: Belajar dari tapak semangat sesepuh Mayong dalam menyiarkan Muhammadiyah Saat Itu
Oleh: Akhmad Faozan, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Mayong
Keberadaan Muhammadiyah Mayong menjadi barometer keberhasilan Muhammadiyah di Jepara. Progres perkembangannya pun tidak luput dari dinamika yang ada. Prestasi dan kemajuan AUMnya layak menjadi kebanggaan. Pun tidak sedang berdiri di atas ruang hampa, namun benar-benar nyata dan fakta.
Di balik megahnya gedung rumah sakit, sekolah dan tempat ibadah sebagai pusat dakwah yang kita saksikan hari ini, disamping sebagai simbol “kokohnya Amal Usaha Muhammadiyah (AUM)”, juga terdapat fondasi spiritual kuat yang telah ditancapkan oleh para sesepuh dan pendahulu. Sebelum terpisah, Mayong dahulu dalam satu administratif dengan Nalumsari, yang mana Muhammadiyah ditandai dengan perkembangan kantung pengikut yaitu di beberapa titik, Mayong, Blimbing rejo, Dorang dan Nalumsari. Demikian juga dengan tokoh-tokoh penggeraknya yang sangat getol dalam memperjuangkan Islam lewat persyarikatan Muhammadiyah.
Dengan dasar —yang penulis ambil dari filosofi jawa— yaitu perjuangan yang sangat dalam dan terinternalisasi secara kuat, yaitu; Gupuh, Rengkuh, dan Tanpa Keangkuhan. Namun, di tengah pesatnya AUM, muncul sebuah pertanyaan krusial dan mendasar: Apakah kader penerus hari ini sanggup menjaga “api semangat” tersebut, atau justru sedang memadamkannya perlahan dari dalam?
Penulis mengajak membuka kembali dan mereview catatan kecil dari notulen-notulen rapat para sesepuh yang menjadi pimpinan terdahulu, sehingga menjadi Inspirasi dan kita petik menjadi sebuah narasi “ketulusan sesepuh dari meja rapat”. Mereka bukan sebatas konseptor yang hanya bicara “nyaring” dalam forum diskusi, namun juga mereka sebagai eksekutor. Mereka berangkatnya dari ketulusan dan kekuatan dalam jamaah sevisi, semisi dan sehati sekaligus sejalan dengan pergerakan persyarikatan.
Jika kita menarik garis waktu ke belakang (flash back), Muhammadiyah di Mayong tidak tegak karena tumpukan modal materi, melainkan karena ketulusan dan keikhlasan yang melangit. Para sesepuh juga perintis terdahulu adalah sebuah prototipe manusia yang sudah "selesai atau klir dengan dirinya sendiri". Mereka tidak pernah bertanya, "Apa yang akan saya dapatkan dari Muhammadiyah?", melainkan selalu gelisah dengan pertanyaan, "Apa lagi yang bisa saya berikan?" Karena mereka meyakini, bahwa inilah tapak dan jejak yang akan menjadi bukti perjuangan dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus dan sebagai persaksian kelak dalam kehidupan yang abadi bukan sesaat “sekarang ini”.
Dan ini pula yang penulis sebut sebuah “atsar sujud” dan “dzikir yang hakiki” adalah menjadi man of action yang dicontohkan oleh pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan. Semakin melebar bahkan meluasnya nilai manfaat itulah sebenarnya peran penting keberadaan Muhammadiyah. Inilah yang telah dilaksanakan oleh sesepuh Mayong terdahulu dalam membangun karakter sejati yaitu gerakan persyarikatan. Ini pula bentuk kontribusi nyata untuk jamaah dan umat manusia.
Karakter gupuh (sigap melayani) dan rengkuh (merangkul semua golongan) adalah wajah dakwah para pendahulu. Mereka selalu nampak kompak hadir saat rapat dan diskusi setelah shalat berjamaah. Bagaimana simpelnya dalam memutuskan suatu persoalan karena berprinsip kebersamaan. Contoh pembebasan lahan hanya berpikir untuk kepentingan dakwah Muhammadiyah. Suasana dengan sarat dan kuatnya spiritualitas, jauh lebih kental daripada urusan administratif.
Tempat rapat yang berpindah-pindah tempat, baik di serambi masjid di rumah para kader adalah "sajadah panjang" tempat ego dilebur. Kolektivitas menjadi ciri khas; saat kas organisasi menipis bahkan sangat minimalis, mereka selalu memberikan spirit "Iuran”. Ada yang berkontribusi tenaga, mengusahakan dengan menjual apa yang bisa di jual, hingga petani yang menyisihkan hasil panen demi sejengkal lahan dakwah. Begitu kesepakatan mufakat diambil, mereka bergerak dengan sat set tanpa lemot apalagi ragu-ragu.
Kehidupan berorganisasi bukanlah jalan tol yang mulus dan lurus. Dinamika, perbedaan pendapat, hingga gesekan dalam berpandangan menjadi bumbu yang tak terelakkan. Di sinilah letak ujian dan tantangan sesungguhnya dalam berorganisasi. Organisasi besar seperti Muhammadiyah membutuhkan kedewasaan dan kebijaksanaan dalam menghadapi setiap riak dan kerikil batu sandungan.
Kader militan dan ideologis bukan berarti kader yang kaku, melainkan kader yang mampu mengelola konflik dengan kepala dingin dan hati yang lapang. Tanpa kebijaksanaan serta kedewasaan, dinamika kecil bisa berubah menjadi perpecahan. Tanpa kebijaksanaan, kritik hanya akan menjadi peluru yang melukai kawan sendiri.
Ancaman Anti-Klimaks dan Bahaya "Kerusakan dari Dalam"
Inilah keprihatinan, disaat kondisi nyata yang dihadapi Muhammadiyah Mayong dengan perkembangan AUM yang ada. Kita harus berani jujur bahwa regenerasi adalah keniscayaan, namun regenerasi yang jatuh kemudian bangun tanpa bekal dan kesiapan mental adalah sebuah ancaman. Jika estafet kepemimpinan jatuh ke tangan kader yang tidak siap secara ideologis, AUM bisa mengalami anti-klimaks bahkan jatuh di tangan orang lain. Organisasi akan melemah, bukan karena serangan dari luar, melainkan karena keropos dari dalam.
Muhammadiyah Mayong hari ini sangat membutuhkan kader ideologis dan memiliki rekam jejak di Muhammadiyah semakin intens, karakter khususnya yang memiliki pandangan luas yang positif, suka memberikan masukan sekaligus solusi. Muhammadiyah sangat butuh barisan orang yang tangguh tidak mudah mutungan (patah arang), apalagi meledak-ledak dalam amarah, atau hati yang mudah kecewa. Karakter yang lembek dan emosional hanya akan menjadi beban bagi organisasi. Muhammadiyah Mayong menuntut karakter berintegritas tinggi, totalitas, profesionalisme tinggi dan pandangan futuristik yaitu memiliki visi jauh ke depan yang memajukan.
Sebagaimana KH Ahmad Dahlan yang melampaui zamannya, kader Mayong harus memiliki integritas yang tak terbeli. Dasar ideologis Muhammadiyah dengan keyakinan (aqidah) yang kokoh mantap, jiwa profesionalisme yang kuat, dan dasar ketulusan (keikhlasan) dalam mengelola AUM adalah hal yang tak dapat ditawar, namun ruhnya tetap harus berakar pada spiritualitas. Energinya seperti yang telah sesepuh tinggalkan.
Sikap mewarisi Muhammadiyah bukan berarti menjaga "abu" atau sekadar membanggakan masa lalu, melainkan menjaga "api" semangatnya. Kita membutuhkan regenerasi yang tangguh secara intelektual, profesional dalam bekerja, dan bijaksana dalam berorganisasi. Jangan biarkan warisan tulus para sesepuh yang dibangun dengan "darah dan air mata" ini luruh hanya karena kita gagal menjadi kader yang solutif.
Dihadapan tantangan zaman yang semakin kompleks, hanya ada satu pilihan bagi kader Muhammadiyah Mayong: Jadilah solusi, atau malah redup dan menepi.
