Muhammadiyah dan Krisis Keteladanan: Belajar Kembali dari Rasulullah
Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur
Ada satu hal yang sering luput dari pembicaraan tentang masa depan Muhammadiyah. Kita terlalu banyak berbicara tentang program, struktur, amal usaha, digitalisasi, kaderisasi, dan ekspansi organisasi, tetapi belum cukup serius membicarakan keteladanan.
Padahal, organisasi sebesar Muhammadiyah tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai mengelola lembaga. Namun, organisasi ini membutuhkan manusia yang layak diteladani.
Muhammadiyah boleh memiliki sekolah, universitas, rumah sakit, masjid, lembaga sosial, pusat dakwah, dan berbagai amal usaha yang terus berkembang. Struktur organisasinya juga terbentang dari pusat hingga ranting. Namun, sebesar apa pun institusi dibangun, pada akhirnya wajah gerakan tetap tercermin dari karakter orang-orang yang menghidupkannya.
Di sinilah pertanyaan penting perlu diajukan, yaitu apakah Muhammadiyah sedang mengalami krisis keteladanan? Pertanyaan ini bukan tuduhan, apalagi vonis. Justru pertanyaan ini merupakan bentuk muhasabah. Sebab setiap gerakan yang ingin bertahan melampaui zaman harus berani meninjau dirinya sendiri.
Muhammadiyah tidak cukup hanya bertanya berapa banyak sekolah yang didirikan, berapa banyak kader yang lahir, atau berapa besar aset yang dimiliki. Muhammadiyah juga perlu bertanya, yaitu manusia seperti apa yang sedang kita lahirkan melalui gerakan ini?
Ada gejala menarik dalam kehidupan organisasi modern. Identitas sering kali lebih mudah dibangun daripada karakter. Seseorang dapat dengan mudah menyatakan dirinya sebagai kader Muhammadiyah. Seseorang dapat mengenakan atribut organisasi, aktif dalam forum, memiliki jabatan struktural, berbicara tentang tajdid, Islam berkemajuan, dakwah amar makruf nahi mungkar, bahkan sangat fasih mengutip berbagai keputusan organisasi.
Namun, identitas organisatoris belum tentu berbanding lurus dengan kualitas keteladanan. Kita bisa sangat aktif berbicara tentang Islam Berkemajuan, tetapi masih sulit menerima kritik. Kita dapat berbicara tentang tajdid, tetapi enggan melakukan pembaruan pada cara berpikir kita sendiri. Kita dapat mengampanyekan budaya ilmu, tetapi tidak cukup sabar untuk membaca dan berdialog.
Kita dapat berbicara tentang ukhuwah, tetapi mudah terjebak dalam konflik kepentingan. Kita dapat menyerukan dakwah bil hikmah, tetapi di ruang digital justru mudah menghakimi. Muhammadiyah tidak kekurangan orang pintar. Kondisi yang harus terus dirawat adalah manusia yang berilmu sekaligus berakhlak.
Sebab ilmu tanpa keteladanan dapat berubah menjadi kesombongan intelektual. Kekuasaan tanpa akhlak dapat berubah menjadi dominasi. Organisasi tanpa keteladanan dapat berubah menjadi sekadar mesin administratif. Bahkan amal usaha tanpa ruh pengabdian dapat kehilangan makna profetiknya.
Karena itu, tantangan Muhammadiyah ke depan bukan sekadar bagaimana memperbesar organisasi, melainkan bagaimana memastikan bahwa pertumbuhan organisasi selalu diikuti oleh pertumbuhan kualitas manusia.
Dalam konteks inilah Muhammadiyah perlu kembali belajar kepada Rasulullah Muhammad saw. Al-Qur'an memberikan penegasan yang sangat kuat bahwa pada diri Rasulullah terdapat uswah hasanah, yaitu teladan yang baik. Keteladanan Nabi bukan hanya terletak pada kemampuan menyampaikan wahyu, tetapi juga pada bagaimana nilai-nilai Islam menjelma menjadi perilaku sehari-hari.
Rasulullah tidak sekadar mengajarkan kejujuran. Beliau dikenal sebagai pribadi yang terpercaya. Beliau tidak hanya berbicara tentang kasih sayang. Beliau memperlihatkan kasih sayang kepada keluarga, sahabat, anak-anak, bahkan kepada mereka yang berbeda dan memusuhinya.
Beliau tidak hanya mengajarkan kesederhanaan. Beliau menjalani kehidupan yang jauh dari kemewahan berlebihan meskipun memiliki kedudukan sebagai pemimpin umat. Beliau tidak hanya menyerukan keadilan. Beliau menunjukkan keberpihakan yang konsisten kepada yang lemah dan menempatkan keadilan di atas kepentingan kelompok.
Di sinilah kekuatan dakwah Rasulullah. Akhlak mendahului retorika. Perilaku mendahului slogan. Keteladanan mendahului instruksi. Orang mengikuti Rasulullah bukan hanya karena apa yang beliau katakan, tetapi karena terdapat kesatuan antara perkataan dan perbuatan.
Dalam konteks Muhammadiyah, prinsip ini sangat penting. Sebab Muhammadiyah adalah gerakan dakwah. Dakwah pada hakikatnya bukan sekadar aktivitas menyampaikan pesan, melainkan menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Jika seorang kader berbicara tentang integritas, integritas itu harus terlihat dalam kehidupannya. Jika seorang pemimpin berbicara tentang amanah, maka ia harus menjadi orang pertama yang menunjukkan amanah. Jika seorang aktivis berbicara tentang pelayanan umat, maka umat harus merasakan manfaat dari kehadirannya.
Krisis keteladanan menjadi semakin kompleks pada era digital. Hari ini, seseorang dapat terlihat sangat religius hanya dari unggahan di media sosial. Kita dapat membangun citra kesalehan melalui foto, video, kutipan ayat, potongan ceramah, serta berbagai konten dakwah.
Namun, algoritma tidak mampu mengukur kedalaman akhlak. Media sosial dapat menunjukkan apa yang ingin kita tampilkan, tetapi tidak selalu menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Di sinilah tantangan baru bagi kader Muhammadiyah.
Dakwah tidak lagi berlangsung hanya di mimbar masjid, sekolah, kampus, atau forum pengajian. Dakwah berlangsung di ruang digital yang terbuka, cepat, dan kompetitif untuk menarik perhatian. Karena itu, keteladanan juga harus hadir di sana.
Seorang kader Muhammadiyah tidak cukup hanya memiliki kemampuan membuat konten dakwah. Ia juga harus menunjukkan etika dalam berkomunikasi. Tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Tidak membangun popularitas dengan mempermalukan orang lain. Tidak menjadikan perbedaan pandangan sebagai alasan untuk melakukan perundungan. Tidak mengubah ruang digital menjadi arena saling mencaci.
Sebab, di era algoritma, karakter seseorang justru semakin mudah terlihat dari cara ia berbeda pendapat. Mungkin kita bisa menyembunyikan kelemahan dalam 1 atau 2 pertemuan. Namun, jejak digital menyimpan banyak hal.
Cara seseorang merespons kritik, memperlakukan orang yang berbeda pandangan, berbicara tentang kelompok lain, dan menggunakan pengaruhnya akan mencerminkan karakter. Karena itu, kaderisasi Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada kemampuan berorganisasi. Kader harus memiliki literasi digital sekaligus literasi akhlak.
Krisis keteladanan juga perlu dibaca dalam konteks kepemimpinan. Kepemimpinan dalam Muhammadiyah seharusnya tidak dipahami terutama sebagai posisi untuk memperoleh kewenangan, melainkan sebagai amanah untuk memberikan keteladanan.
Ada perbedaan besar antara pemimpin yang ingin ditaati dan pemimpin yang membuat orang ingin mengikuti. Pemimpin yang pertama mengandalkan jabatan, sedangkan yang kedua mengandalkan integritas.
Rasulullah menunjukkan model kepemimpinan yang kedua. Beliau tidak membangun loyalitas hanya melalui otoritas, tetapi melalui kepercayaan. Beliau hadir bersama umat, mendengar, bermusyawarah, memberi ruang, memaafkan, dan pada saat yang sama tegas dalam prinsip.
Model kepemimpinan semacam ini sangat relevan bagi Muhammadiyah. Organisasi yang besar membutuhkan sistem. Namun, sistem tidak akan berjalan tanpa manusia yang berintegritas. Struktur diperlukan untuk memastikan organisasi dapat berfungsi. Namun, keteladanan diperlukan agar organisasi memiliki ruh.
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang pimpinan Muhammadiyah tidak semestinya hanya dilihat dari berapa banyak program yang telah terlaksana. Kita perlu bertanya lebih jauh yaitu apakah kehadirannya membuat kader semakin percaya pada organisasi? Apakah ia melahirkan kader baru? Apakah ia menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari? Apakah orang-orang di sekitarnya berkembang karena kepemimpinannya? Jika jawabannya ya, di situlah kepemimpinan menemukan maknanya.
Muhammadiyah memiliki kekuatan luar biasa melalui amal usaha. Namun, kekuatan itu sekaligus menjadi tantangan. Ketika amal usaha berkembang menjadi institusi profesional dengan ribuan pegawai, teknologi modern, tata kelola yang kompleks, dan nilai ekonomi yang besar, Muhammadiyah harus terus memastikan bahwa profesionalisme tidak menghilangkan spiritualitas dalam pelayanan. Semua amal usaha adalah instrumen dakwah.
Di situlah konsep amal usaha harus selalu diingat sebagai dua kata yang tidak boleh dipisahkan yaitu amal dan usaha. Ada profesionalisme dalam usaha, tetapi ada keikhlasan, pengabdian, dan orientasi kemanusiaan dalam amal.
Jika profesionalisme berkembang tanpa keteladanan, amal usaha dapat berubah menjadi institusi biasa. Ia mungkin tetap besar secara ekonomi, tetapi kehilangan daya profetik.
Sebaliknya, jika semangat pengabdian tidak dibarengi dengan profesionalisme, amal usaha dapat kehilangan daya saing dan keberlanjutannya. Maka Muhammadiyah membutuhkan keduanya, yaitu profesionalisme yang berakhlak dan akhlak yang profesional.
Karena itu, pembicaraan tentang kaderisasi perlu diperluas. Kaderisasi tidak boleh hanya menghasilkan orang yang memahami sejarah Muhammadiyah, hafal doktrin organisasi, mampu mengelola rapat, atau memiliki kemampuan berbicara di depan umum.
Kaderisasi harus menghasilkan manusia yang, ketika diberi amanah, menjadi lebih rendah hati; ketika memiliki kekuasaan, menjadi lebih bertanggung jawab; ketika memiliki ilmu, menjadi semakin tawaduk; ketika mendapatkan keberhasilan, semakin banyak bersyukur; dan ketika berbeda pandangan, tetap mampu menghormati orang lain. Inilah esensi pendidikan karakter.
Kaderisasi yang berhasil bukan ketika jumlah kader bertambah, melainkan ketika kualitas manusia meningkat. Karena itu, mungkin sudah saatnya Muhammadiyah bertanya kembali, yaitu apa yang sesungguhnya kita ukur dari keberhasilan kaderisasi?
Pertanyaan tersebut penting karena masa depan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kader yang lahir, tetapi juga oleh seberapa kuat karakter kader itu ketika berhadapan dengan godaan kekuasaan, popularitas, materi, dan kepentingan pribadi.
Pada akhirnya, belajar dari Rasulullah bukan berarti membawa Muhammadiyah kembali ke masa lalu. Justru sebaliknya, kembali kepada keteladanan Rasulullah adalah cara untuk memastikan Muhammadiyah tetap relevan dalam menghadapi masa depan.
Muhammadiyah sejak awal berdiri sebagai gerakan tajdid. Tetapi tajdid bukan hanya pembaruan institusi. Tajdid juga berarti pembaruan manusia. Teknologi boleh berubah. Generasi boleh berganti. Struktur organisasi dapat berkembang. Model dakwah dapat bertransformasi. Amal usaha dapat semakin modern.
Namun ada nilai yang tidak boleh berubah seperti kejujuran, amanah, keadilan, kasih sayang, kesederhanaan, keberanian, ilmu, dan keberpihakan kepada kemanusiaan. Itulah nilai-nilai yang menjadikan Rasulullah sebagai teladan.
Muhammadiyah tidak membutuhkan kader yang sekadar mampu mengatakan bahwa Rasulullah adalah uswah hasanah. Muhammadiyah membutuhkan kader yang membuat orang lain dapat merasakan nilai-nilai uswah hasanah melalui perilakunya.
Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membaca apa yang kita tulis. Mereka mengamati bagaimana kita hidup. Mereka tidak hanya mendengarkan apa yang kita ceritakan. Mereka melihat bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Mereka tidak hanya menilai seberapa besar organisasi kita. Mereka merasakan apakah kehadiran kita bermanfaat. Di tengah dunia yang mengalami krisis kepercayaan, Muhammadiyah justru memiliki peluang besar untuk menghadirkan kembali dakwah berbasis keteladanan.
Bukan dakwah yang hanya pandai berbicara tentang akhlak, tetapi dakwah yang menjadikan akhlak sebagai wajah gerakan. Bukan sekadar mencetak kader yang pintar berorganisasi, melainkan kader yang layak dipercaya.
Bukan hanya melahirkan pemimpin yang mampu memimpin rapat, tetapi juga pemimpin yang mampu memimpin dirinya sendiri. Dan bukan sekadar membangun amal usaha yang besar, tetapi membangun peradaban yang manusiawi. Di situlah Muhammadiyah perlu belajar kembali kepada Rasulullah.
Sebab mungkin problem terbesar kita hari ini bukan karena terlalu sedikit mengetahui ajaran Rasulullah, melainkan karena jarak antara apa yang kita ketahui, apa yang kita katakan, dan bagaimana kita menjalankannya terlalu jauh.
Jika Muhammadiyah ingin tetap menjadi gerakan Islam yang berkemajuan, maka salah satu agenda terbesarnya adalah mengembalikan keteladanan sebagai DNA kaderisasi dan kepemimpinan.
Sebab organisasi dapat diwariskan melalui struktur. Aset dapat diwariskan melalui institusi. Pengetahuan dapat diwariskan melalui pendidikan. Namun, ruh gerakan hanya dapat diwariskan melalui keteladanan. Keteladanan itu tidak dimulai dari pencitraan, melainkan harus dimulai dari diri sendiri.

