Muhammadiyah Dorong Pelestarian Lingkungan sebagai Jalan Menuju Baldatun Thayyibatun

Suara Muhammadiyah

30 June 2026

100
Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA

Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ada sebuah negeri yang direpresentasikan oleh Al-Qur’an amat subur dan makmur: Saba’ namanya. Hal ini sebagaimana terkonfirmasi di Qs Saba’ ayat 15.

“Jalan-jalannya kanan kirinya berupa kebun-kebun. Udaranya pun juga sejuk,” kata Muhammad Saad Ibrahim, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Atas limpahan nikmat yang begitu rupa itu, kesyukuran menjadi keniscayan untuk diekspresikan. Demikian seru Allah dalam redaksi ayat tersebut.

“Inilah rezeki dari Allah. Maka bersyukurlah kalian kepada Allah,” ujar Saad, Rabu (24/6) saat Kajian Webinar Series #60 Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Bersyukur di sini dimaknai pada upaya menjaga keberlangsungan rezeki dari Allah. Lebih tepatnya, kata Saad, dikontekstualisasikan pada lingkungan yang sehat.

“Pohon-pohonan banyak bertumbuhan. Buah-buahnya melimpah tidak dirusak. Inilah menyadari tentang rezeki yang diberikan oleh Allah. Dan perlunya manusia menjaga rezeki itu dalam konteks ini,” terangnya.

Demikian halnya menyangkut hal ihwal menanam pohon. Upaya ini, sebut Saad, sebagai manifestasi menjaga lingkungan. Yakni dengan merawat, mengembangkan, memelihara, menanam, sampai kemudian benar-benar bisa dimanfaatkan orang-orang di sekitarnya.

“Maka ketika syarat-syarat itu dipenuhi lalu konsekuensinya kawasan itu menjadi baldah thayyibah,” jelasnya.

Tapi, amat disayangkan baldah thayyibah yang sesuai dengan yang dicita-citakan, dan semestinyalah dapat diwujudkan bersama oleh umat Islam, justru tidak berlangsung lama.

“Setelah itu generasi berikutnya tidak lagi menyadari rezeki itu dari Allah yang perlu dilestarikan, dijaga dan sebagainya, mereka lalu ingkar kepada Allah,” bebernya.

Apa yang kemudian terjadi jika itu tidak menjadi atensi bersama? “Yang terjadi bukan baldatun thayyibatun, tapi baldatun khabitsatun (negeri yang jelek) dan rabbun muadzibun (Tuhan yang mengazab),” sambung Saad.

Pertanyaannya yang segera muncul, lantas, bagaimana baldatun thayyibatun itu bisa diwujudkan? Ketika melongok negeri Indonesia, ada ungkapan qith`atun minal-jannah[ti] nuqilat ilal-ardl[i], yakni merepresentasikan Indonesia sebagai sepotong surga di atas bumi.

Tautan dengan itu, seyogianya patut bersyukur atas pemberian rezeki yang diberikan Allah melalui pemberian alam yang begitu kayanya; lautan, pohon, tanaman, hewan, dan sebagainya.

“Kalau itu yang terjadi, maka sesungguhnya ungkapan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur bisa tertuju pada kita,” tegasnya.

Sebab apa? Pesona kekayaan alam Indonesia yang demikian rupanya itu, dijaga dan dirawat secara saksama. Lantas, adakah orang Indonesia yang bersyukur dalam konteks itu?

“Pasti ada orang-orang yang menyadari bahwa Allah telah menganugerahkan kita dengan anugerah yang luar biasa berupa bumi Indonesia ini,” tegasnya lagi.

Di sinilah peran yang diambil dalam dakwah Muhammadiyah. Yakni mengajak orang untuk mendawamkan menjaga lingkungan dengan sebaik-baiknya.

“Inilah cara Muhammadiyah untuk memajukan kesejahteraan bangsa,” pungkas Saad. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

OKU TIMUR, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Ogan Komering Ulu Timu....

Suara Muhammadiyah

21 December 2023

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Sebanyak 308 mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Univer....

Suara Muhammadiyah

4 September 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah -- Ketua Bidang Dakwah Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Nur Arina H....

Suara Muhammadiyah

18 September 2023

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - “Visi pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah yang unggul dan profe....

Suara Muhammadiyah

6 December 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Tidak terasa sudah memasuki pekan kedua di bulan Ramadhan 1445 H. S....

Suara Muhammadiyah

19 March 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah