Muhammadiyah Harus Bangun Mentalitas untuk Perkuat Kemandirian Ekonomi dan Keuangan Syariah

Suara Muhammadiyah

25 September 2026

111
Prof Hilman Latief, MA., PhD saat memberikan pengantar Pengajian Umum PP Muhammadiyah, Jumat (25/9/2026) di Ruang KH Ahmad Dahlan Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng Raya, Kota Jakarta Pusat. Foto: Taufik

Prof Hilman Latief, MA., PhD saat memberikan pengantar Pengajian Umum PP Muhammadiyah, Jumat (25/9/2026) di Ruang KH Ahmad Dahlan Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng Raya, Kota Jakarta Pusat. Foto: Taufik

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Betulkah Muhammadiyah pandai berekonomi? Pertanyaan Hilman Latief ini menjadi sangat relevan untuk direnungkan. Apabila melihat secara kasatmata, Muhammadiyah telah unggul dalam pelayanan pendidikan dan kesehatan.

“Tapi bidang ekonomi? Ini harus kita buktikan,” tegas Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut, Jumat (25/9) saat Pengajian Umum PP Muhammadiyah di Ruang KH Ahmad Dahlan Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng Raya, Kota Jakarta Pusat.

Hilman menyebut, banyak mitra yang berdatangan ke Muhammadiyah untuk berkolaborasi menjalankan bisnis ekonomi. Tapi, di akar rumput justru menampilkan hal sebaliknya. “Nampaknya kita belum siap,” ucapnya. Kenapa belum siap? “Mentalnya,” sambungnya.

Menurutnya, mental memainkan peran utama untuk membuktikan konteks yang dikemukakan di situ. “Kalau mental belum terbangun, ya kita tidak bisa,” tuturnya. Di samping itu, perlunya penguasaan ilmu pengetahuan, khususnya dalam memahami dan menjalankan ekonomi.

“Pemeonya adalah cari ilmu sampai ke negeri China,” ujar Hilman. Mengapa China? Negeri Tirai Bambu itu disebut Hilman sebagai salah satu pusat ekonomi terbesar di dunia, setelah New York, London, dan Hongkong.

“Mencari ilmu bisnis, ilmu usaha dari orang sana itu penting,” tekannya.

Penguatan Industri Keuangan Syariah dan Industri Halal

Bersamaan dengan itu, Hilman menggarisbawahi konteks umat yang menempel satu rangkaian setelah kata ekonomi. Kata umat di situ diterjemahkan Hilman sebagai warga Persyarikatan.

“Jadi kadang-kadang ketika kita berdiskusi berbicara umat itu orang lain yang jauh. Tetapi justru yang harus kita pikirkan yang disekitar kita,” bebernya.

Hilman berharap, di lingkungan Muhammadiyah sendiri ada gerakan kolektif menjalankan ekonomi. “Punya tata kelola yang baik, punya prospek bisnis yang baik,” sambungnya.

Bersamaan dengan itu, Hilman menyoroti keterlibatan di dalam ekosistem industri dan keuangan syariah maupun industri halal, tampak belum kelihatan di permukaan.

“Financial institution kita masih belum begitu kuat,” sebutnya. Padahal, satu sisi, Muhammadiyah sendiri punya resouce yang kuat di bidang tersebut.

“Mudah-mudahan ini juga menjadi pelajaran buat kita, bagaimana ormas besar ini menjadi instrumen penting dalam menopang industri keuangan syariah maupun industri halal,” ujarnya.

Pengajian yang mengusung tema "Muhammadiyah dan Kemandirian Ekonomi Umat" ini menghadirkan narasumber Toni Firmansyah, Ketua Lembaga Pengembang Usaha Mikro Kecil Menengah PP Muhammadiyah dan Euis Amalia Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Kepala Bagian Promosi dan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Univer....

Suara Muhammadiyah

16 April 2026

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Yogyakarta (30/12) Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Wilayah Muhammad....

Suara Muhammadiyah

31 December 2023

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Ketua Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas....

Suara Muhammadiyah

18 May 2026

Berita

KUNINGAN, Suara Muhammadiyah — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Kuningan menyeleng....

Suara Muhammadiyah

26 January 2026

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Market day SMP Muhammadiyah 1 (Mutu) Plus Cilacap di halaman gedung ut....

Suara Muhammadiyah

16 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah