Muharram dan Jalan Hijrah Perempuan
Oleh: Tsani Itsna Ariyanti (Dosen ITB Ahmad Dahlan Jakarta, Anggota Departemen Kebijakan Publik PP Nasyiatul Aisyiyah)
Sore ini umat Islam memasuki 1 Muharram, penanda pergantian tahun Hijriah. Di berbagai daerah Indonesia, momen ini dirayakan dengan cara yang beragam. Ada yang menyambutnya dengan menggelar pengajian akbar, doa bersama, kirab budaya, pembagian bubur suro, hingga tirakatan malam 1 Sura.
Di Jawa, bulan Muharram dikenal sebagai Bulan Suro. Waktu yang dianggap baik untuk menata batin dan melakukan refleksi diri. Tradisi ini memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia tidak sekadar memandang pergantian tahun sebagai urusan kalender, tetapi sebagai momentum menimbang ulang arah hidup.
Namun, ada pertanyaan menarik yang jarang diajukan: mengapa kalender Islam tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, bukan pula dari turunnya wahyu pertama, melainkan dari peristiwa hijrah?
Sejarah mencatat, penetapan kalender Hijriah dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 17 Hijriah (638 M). Ketika para sahabat berdiskusi mengenai titik awal penanggalan Islam, beberapa usulan muncul. Mulai dari tahun kelahiran Nabi, tahun kenabian, atau tahun wafat Nabi. Namun pilihan akhirnya jatuh pada peristiwa hijrah.
Pilihan ini bukan kebetulan. Dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk, sejarawan klasik al-Tabari menjelaskan bahwa hijrah dipilih karena menandai fase perubahan paling mendasar dalam sejarah Islam. Dari komunitas yang tertindas menjadi masyarakat yang mampu membangun tatanan sosial dan politik baru.
Hijrah dipilih karena ia adalah titik transformasi. Maka sesungguhnya, tahun baru Islam bukan perayaan perpindahan angka, tetapi peringatan bahwa perubahan membutuhkan keberanian.
Hijrah: Peristiwa Sejarah yang Mengubah Arah Peradaban
Dalam sirah Nabi, hijrah ke Madinah terjadi pada tahun 622 M. Saat itu tekanan terhadap komunitas Muslim di Makkah semakin berat. Boikot ekonomi, intimidasi sosial, dan ancaman keselamatan menjadi kenyataan sehari-hari. Nabi Muhammad SAW lalu mengambil keputusan strategis yakni meninggalkan Makkah dan membangun basis masyarakat baru di Madinah.
Sejarawan Muslim modern, Muhammad Husain Haekal dalam Hayat Muhammad, menyebut hijrah sebagai “langkah politik dan sosial paling menentukan dalam sejarah Islam awal”. Hijrah bukan bentuk pengunduran diri, tetapi strategi untuk menjaga keberlangsungan dakwah.
Pandangan serupa disampaikan oleh Fazlur Rahman dalam Islam (1979). Menurutnya, hijrah merupakan perubahan dari “sekadar komunitas spiritual” menjadi “komunitas etis yang membangun tata kehidupan bersama”. Karena itu, hijrah bukan sekadar bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Hijrah adalah keberanian menciptakan kemungkinan baru. Dan pada titik ini, sejarah sering kali dibaca secara sempit seolah hijrah hanya digerakkan oleh tokoh-tokoh laki-laki. Padahal jika kita menelusuri sirah lebih teliti, perempuan hadir sebagai penjaga arah perubahan.
Perempuan dalam Jalan Hijrah: Bukan Pelengkap, tetapi Penggerak
Nama pertama yang layak disebut adalah Khadijah RA. Secara kronologis, Khadijah memang telah wafat sekitar tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah, tahun yang kemudian dikenal sebagai ‘Am al-Huzn (Tahun Kesedihan). Tetapi sulit membayangkan hijrah terjadi tanpa fondasi yang ia bangun.
Dalam Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, Martin Lings menulis bahwa Khadijah bukan sekadar istri Nabi, melainkan sumber keteguhan psikologis dan penopang ekonomi dakwah Islam pada masa paling rentan.
Dalam riwayat Aisyah RA dalam Shahih al-Bukhari (Kitab Bad’ al-Wahy, No. 3), ketika Nabi Muhammad SAW pulang dari Gua Hira dalam keadaan gemetar setelah menerima wahyu pertama, Khadijah tidak merespons dengan kepanikan. Ia justru membaca pengalaman spiritual Nabi melalui rekam jejak sosialnya. “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu; engkau menyambung silaturahmi, membantu yang lemah, memuliakan tamu, dan menolong mereka yang tertimpa musibah.”
Kalimat itu bukan sekadar penghiburan. Ia adalah bentuk kepemimpinan emosional. Khadijah menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari ruang domestik yang memberi rasa aman untuk bertumbuh. Penguatan Khadijah ini memperlihatkan bahwa sejak awal Islam, kepedulian sosial dipahami sebagai fondasi keteguhan spiritual.
Lalu hadir sosok kedua, yakni Asma binti Abu Bakar.
Dalam sirah, saat Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur sebelum menuju Madinah, Asma bertugas mengantarkan makanan dan menjaga kerahasiaan perjalanan.
Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah mencatat bahwa Asma merobek ikat pinggangnya menjadi dua untuk mengikat bekal perjalanan. Karena itu ia dikenal sebagai Dzat an-Nithaqain—pemilik dua ikat pinggang.
Tetapi yang sering terlupakan bukan simbol itu. Yang penting adalah risiko yang ia tanggung. Beberapa riwayat menyebut Asma tetap menjaga informasi meskipun menghadapi tekanan dari pihak Quraisy yang mencari Nabi. Artinya, keberhasilan hijrah tidak hanya ditentukan oleh keberanian orang yang berjalan di depan. Tetapi juga oleh mereka yang menjaga jalan agar perubahan bisa terjadi.
Dalam pembacaan kontemporer, feminis muslim Fatima Mernissi dalam The Forgotten Queens of Islam mengingatkan bahwa sejarah Islam sering ditulis melalui sudut pandang politik formal sehingga kontribusi perempuan tampak mengecil. Padahal perempuan hadir dalam jaringan pengetahuan, dukungan sosial, pengelolaan sumber daya, dan keberlangsungan komunitas. Hijrah menjadi salah satu contoh yang jelas.
Muharram Hari Ini: Ke Mana Perempuan Berhijrah?
Mungkin kita tidak sedang meninggalkan kota seperti Nabi. Tetapi banyak perempuan sedang menjalani bentuk-bentuk hijrah yang lain.
Hijrah dari rasa tidak percaya diri menuju keberanian. Hijrah dari sekadar bertahan menjadi bertumbuh. Hijrah dari ruang yang membatasi menuju ruang yang memampukan. Perempuan yang kembali melanjutkan pendidikan setelah menjadi ibu. Perempuan yang tetap bekerja sambil mengasuh. Perempuan yang memperjuangkan kebijakan publik yang lebih adil bagi anak dan keluarga. Perempuan yang menolak diam terhadap kekerasan. Perempuan yang terus hadir di ruang sosial meski kerjanya sering tak terlihat.
Dalam bahasa yang lebih luas, mereka sedang melakukan apa yang disebut Kuntowijoyo sebagai transformasi sosial, yaitu menggerakkan nilai agama menjadi perubahan nyata dalam kehidupan.
Tahun baru Hijriah mengingatkan bahwa perubahan tidak pernah lahir sendirian. Ia membutuhkan keberanian, jaringan dukungan, dan orang-orang yang bersedia menjaga jalan. Dan sejarah Islam menunjukkan bahwa perempuan selalu menjadi bagian dari pekerjaan besar itu.
Karena itu, memasuki 1 Muharram tahun ini, mungkin pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya sudah sejauh apa kita berjalan? Tetapi, hijrah seperti apa yang sedang kita usahakan? Sebab sebagaimana sejarah mengajarkan, masa depan tidak dibangun oleh mereka yang hanya menunggu. Ia dibangun oleh mereka yang berani berpindah dan oleh mereka yang menjaga agar perpindahan itu tetap mungkin.
Selamat memasuki Tahun Baru Hijriah. Semoga tahun ini menjadi ruang bagi lahirnya keberanian-keberanian baru.

