Na’uzubillah Su’ul-Khatimah
Oleh: Mohammad Fakhrudin
Di antara manusia ada yang akhir hidupnya ditutup dengan amal baik. Namun, ada pula di antara mereka yang akhir hidupnya ditutup dengan amal buruk. Tentu saja, baik buruknya amal itu dinilai dengan kriteria Al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika dinilai dengan kriteria manusia, subjektivitas tidak dapat dihindari lebih-lebih lagi menilai diri sendiri atau kelompok sendiri.
Pada masa perjuangan merebut kemerdekaan dengan mudah orang menentukan mana pejuang dan mana pengkhianat. Bagaimana halnya pada saat penumpasan PKI, pada pemerintahan era reformasi sejak awal hingga sekarang?
Tanpa rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita dapat tergelincir beramal buruk dan berdosa besar pada masa akhir hidup. Di dalam HR Muslim dijelaskan,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ ثُمَّ يُخْتَمُ لَهُ عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ ثُمَّ يُخْتَمُ لَهُ عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ » [رواه مسلم]
“Ada orang yang sungguh-sungguh beramal dalam waktu yang lama dengan amalan ahli surga, kemudian menutup amalnya dengan amalan ahli neraka. Dan ada orang yang sungguh-sungguh melakukan amal ahli neraka dalam waktu yang lama, kemudian menutupnya dengan amalan ahli surga.”
Di dalam HR al-Bukhari berikut ini dijelaskan bahwa amal yang dinilai adalah amal penutup (akhir).
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «.. وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ » [رواه البخاري]
“Sesunggunya, amalan dinilai dengan penutupannya.”
Su’ul-Khatimah
Su’ul-khatimah adalah akhir hidup yang buruk dari seseorang. Setiap muslim tidak menginginkannya. Namun, di dalam kehidupan nyata ada muslim yang akhir hidupnya dalam keadaan murtad karena pernikahan atau pekerjaan.
Ada pula yang akidahnya ternoda oleh kesyirikan. Hal itu terjadi karena ikhtiar untuk pengobatannya berakhir pada ritual musyrik sesuai dengan perintah dukun dan ketika itu pula dia meninggal. Di samping itu, ada muslim yang meninggal dengan membawa kesombongan. Juga ada muslim yang meninggal dengan membawa kebohongan.
Perintah Tetap BerIslam
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur'an surat Ali ‘Imran (3):102,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan muslim.”
Berdasarkan ayat tersebut, jika seseorang meninggal dalam keadaan tidak berislam, berarti akhir hidupnya buruk.
Perintah Berislam sccara Kaffah
Di dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah (2):208 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةًۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam (kedamaian) secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sesungguhnya, ia musuh yang nyata bagimu.”
Menurut Tafsir at-Tanwir, ayat tersebut berisi perintah bagi orang yang telah menyatakan dirinya sebagai muslim, maka dia wajib berislam secara total yang mencakupi empat pilar, yaitu akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah duniawi. Semuanya harus merujuk kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah.
Berkaitan dengan keempat pilar tersebut, warga Muhammadiyah telah mempunyai Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Di dalam PHIWM dikemukakan pedoman Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah yang terdiri atas kehidupan pribadi dalam akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah duniawi dengan merujuk kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah.
Di dalam artikel ini uraian berfokus pada penyebab su’ul khatimah yang bersumber pada keburukan akhlak. Pengutamaan fokus kajian ini berdasarkan pertimbangan bahwa pada saat ini sedang terjadi bencana akhlak.
Kehidupan Pribadi dalam Akhlak
1. Setiap warga Muhammadiyah dituntut untuk meneladan perilaku Nabi dalam mempraktikkan akhlak mulia sehingga menjadi uswah hasanah, yang diteladan oleh sesama berupa sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.
2. Setiap warga Muhammadiyah dalam melakukan amal dan kegiatan hidup harus senantiasa didasarkan kepada niat yang ikhlas dalam wujud amal-amal saleh dan ihsan, serta menjauhkan diri dari perilaku riya, sombong, ishraf, fasad, fahsya, dan kemunkaran.
3. Setiap warga Muhammadiyah dituntut untuk menunjukkan akhlak yang mulia (akhlaqul karimah) sehingga disukai/diteladan dan menjauhkan diri dari akhlak yang tercela (akhlaq madzmumah) yang menyebabkan dibenci dan dijauhi sesama.
4. Setiap warga Muhammadiyah di mana pun bekerja dan menunaikan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari harus benar-benar menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan korupsi dan kolusi serta praktik-praktik buruk lainnya yang merugikan hak-hak publik dan membawa kehancuran dalam kehidupan di dunia ini.
Su’ul-Khatimah karena Keburukan Akhlak
Dengan merujuk kepada keempat butir pedoman tersebut, berikut ini disajikan contoh penyebab su’ul-khatimah yang bersumber pada keburukan akhlak.
khianat
Salah satu sifat orang munafik adalah berkhianat. Tempat tinggal mereka di akhirat adalah neraka sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat an-Nisa (4):145,
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ.
“Sesungguhnya, orang-orang munafik itu (ditempatkan) di tingkat paling bawah dari neraka. Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita berkhianat sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat an-Anfal (8):27
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْٓا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
sombong
Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita sombong sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an surat Luqman (31):18
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ
“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”
Larangan berperilaku sombong terdapat juga di dalam surat misalnya al-A’raf (7):146, al-Isra (17):37, dan Ghaffir (40):56.
Sementara itu, di dalam surat al-Anfal (8):125 kita diperintah agar menyeru dengan pengajaran yang baik dan membantah dengan cara yang lebih baik.
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya, Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.”
Di dalam HR Muslim Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ» قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: «إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»
"Dari Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga seorang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi”. Seorang laki-laki bertanya, ‘Ya Rasulullah, bagaimana dengan seseorang yang suka memakai baju dan sepatu yang bagus?’ Beliau menjawab, “Sesungguhnya, Allah itu indah dan suka akan keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain.”
Dengan merujuk kepada pengertian sombong di dalam hadis tersebut, kita dengan mudah dapat menemukan orang-orang yang sombong pada saat ini. Menyebut orang lain yang berbeda pendapat dengan kata “goblok”, “tolol”, atau “dungu” dengan intonasi dan ekspresi menghina, tambahan lagi, tanpa argumen yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis di dalam debat akademis, kiranya merupakan salah satu contoh bentuk kesombongan. Sikap yang demikian tentu sangat tercela. Lebih-lebih lagi, pihak yang disebut goblok, tolol, atau dungu justru berbicara dengan argumen yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dan berbicara dengan penuh kesantunan.
menjambret, mencuri, korupsi, dan merampok
Pada butir ke-3 Pedoman Kehidupan Pribadi dalam hal akhlak dijelaskan agar setiap warga Muhammadiyah menjauhkan diri dari akhlak yang tercela (akhlaq madzmumah) yang menyebabkan dibenci dan dijauhi sesama. Menjambret, mencuri, korupsi, dan merampok jelas merupakan akhlak tercela dan menyebabkan pelakuknya dibenci dan dijauhi sesama.
Sementara itu, pada butir ke-4, dijelaskan agar setiap warga Muhammadiyah menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan korupsi dan kolusi serta praktik-praktik buruk lainnya yang merugikan hak-hak publik dan membawa kehancuran dalam kehidupan di dunia ini. Mencuri aset negara seperti kayu, nikel, emas, atau minyak; korupsi, atau merampok aset negara jelas sangat merugikan hak-hak publik dan menyebabkan kehancuran dalam kehidupan di dunia ini.
Meninggal sebelum Bertobat
Orang yang meninggal dalam keadaan su’ul-khatimah sudah ada sejak zaman dulu. Mereka meninggal sebelum meminta maaf dan mengakui kekeliruan pendapatnya dan kesombongan sikapnya kepada orang yang disebut goblok, tolol, atau dungu. Dengan demikian, mereka meninggal dalam keadaan sombong.
Ada juga pengkhianat yang meninggal sebelum bertobat. Mereka dihukum mati berdasarkan hukum yang berlaku atau meninggal karena mengalami kecelakaan.
Pencuri, penjambret, dan perampok banyak yang meninggal sebelum bertobat. Bahkan, ada yang dengan sesama narapidana merancang kejahatan lagi dengan strategi yang lebih canggih ketika berada di dalam penjara. Setelah keluar dari penjara, mereka melaksanakan rencananya. Di antara mereka ada yang ditembak mati oleh petugas karena melawan atau melarikan diri ketika akan ditangkap.
Sementara itu, ada koruptor yang sampai meninggal pun tidak mengakui bahwa dirinya telah melakukan korupsi. Ada pula di antara mereka yang melarikan diri ke luar negeri dan meninggal dengan status DPO.
Berdoa agar Beroleh Hidayah Husnul Khatimah
Agar terhindar dari su’ulkhatimah dan memperoleh hidayah husnul khatimah, kita diberi tuntunan berdoa sebagaimana terdapat di dalam HR Ibnu Abi Syaibah berikut ini.
اللّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِيْ آخِيْرَهُ وَخَيْرَ عَمَلِيْ خَوَاتِمَهُ وَخَيْرَ أيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ
“Ya, Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada akhirnya. Dan jadikanlah sebaik-baik amalku pada akhir hayatku, dan jadikanlah sebaik-baik hariku pada saat aku bertemu dengan Engkau.”
Aamiin!

