Nuzulul Quran: Bukan Sekadar Mengeja Kata, tetapi Membaca Dunia

Publish

7 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
140
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Nuzulul Quran: Bukan Sekadar Mengeja Kata, tetapi Membaca Dunia

Oleh: Roehan Usman, Pengasuh PP Ibnul Qoyyim/Anggota Muhammadiyah Patuk Gunungkidul

Waktu diturunkannya Al-Qur’an atau peristiwa Nuzulul Qur’an secara umum diperingati setiap tanggal 17 Ramadan. Peristiwa ini menandai pertama kalinya wahyu Allah SWT diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril di Gua Hira.

Wahyu pertama terjadi ketika Nabi Muhammad SAW berkhalwat di Gua Hira, di Jabal Nur. Pada saat itu Malaikat Jibril datang dan memerintahkan beliau untuk membaca. Lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq pun turun:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq: 1–5).

Peristiwa inilah yang secara populer diperingati sebagai Nuzulul Qur’an dan oleh banyak riwayat ditempatkan pada 17 Ramadan. Dalam Al-Qur’an sendiri terdapat isyarat tentang “hari diturunkannya Al-Furqan”:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ

“Dan ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlimanya untuk Allah, Rasul, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari Al-Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan.”
(QS. Al-Anfal: 41).

Perintah “Iqra” bukan sekadar perintah untuk mengeja huruf Arab secara pasif. Ia merupakan mandat untuk membaca, memahami, dan mengkritisi realitas sosial yang terjadi pada masa itu—sebuah realitas yang didominasi oleh berbagai bentuk penindasan.

“Iqra” juga bukan sekadar membaca buku. Bangsa Arab pada masa itu bukanlah bangsa yang bodoh. Mereka memiliki kemampuan luar biasa dalam membuat syair dan retorika.

Masyarakat Arab Quraisy dan masyarakat Arab pra-Islam secara umum memiliki apresiasi yang sangat tinggi terhadap syair. Bagi mereka, syair bukan sekadar hiburan, melainkan dokumen sejarah, pembela kehormatan kabilah, sekaligus ekspresi emosi yang paling tinggi. Mereka menghargai syair yang indah dengan berbagai cara.

Syair-syair terbaik digantungkan di Ka’bah dalam bentuk kumpulan yang dikenal sebagai Al-Mu‘allaqat. Syair tersebut ditulis dengan tinta emas di atas kain sutra atau linen mahal dan dipamerkan di dinding Ka’bah sebagai bentuk penghormatan tertinggi.

Selain itu, masyarakat Quraisy juga mengadakan berbagai ajang perlombaan syair di pasar-pasar besar seperti Pasar Ukaz, Mujannah, dan Dzul Majaz. Para penyair berkumpul dan membacakan karya mereka, sementara masyarakat memberikan penilaian dan penghargaan bagi penyair terbaik.

Penyair yang memiliki syair bagus dianggap sebagai pahlawan yang membela kehormatan kabilahnya. Mereka dihormati, bahkan sering diberikan kedudukan sosial yang tinggi. Penyair yang melantunkan pujian indah kepada raja atau pembesar kabilah juga kerap mendapatkan hadiah mewah seperti unta, emas, atau budak.

Syair bahkan dijadikan sebagai diwan, yaitu semacam arsip hidup yang mencatat peristiwa sejarah, silsilah keluarga, serta nilai-nilai moral masyarakat mereka. Para penyair juga dipandang sebagai juru bicara suku, penjaga kehormatan, dan pembela kabilah dari celaan suku lain.

Dengan demikian, masyarakat Arab Quraisy menghargai syair sebagai identitas budaya, simbol kehormatan, sekaligus sumber prestise sosial.

Karena itu, istilah jahiliyah tidak dapat dipahami sekadar sebagai kebodohan intelektual. Jahiliyah lebih tepat dipahami sebagai sistem yang keliru—sebuah kerusakan cara berpikir dan struktur sosial, bukan rendahnya kecerdasan.

Secara bahasa, jahiliyah memang berarti kebodohan. Namun kebodohan yang dimaksud bukan berarti para elit Arab Quraisy tidak cerdas, melainkan kebodohan sistemik dan struktural. Sistem ekonomi dikuasai oleh para oligarki, perbudakan menjadi lembaga sosial yang diterima, dan sistem patriarki berjalan sangat brutal—termasuk praktik pembunuhan bayi perempuan dan tradisi menjadikan perempuan sebagai bagian dari warisan.

Dalam kondisi seperti itulah perintah “Iqra” diturunkan. Perintah ini tidak hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi kepada seluruh manusia untuk membaca dan mengkritisi realitas sosial yang ada.

Ia merupakan seruan yang turun di tengah ketimpangan sosial dengan tujuan membedah kerancuan struktur masyarakat dan memperbaikinya. Mengapa ada perbudakan manusia? Mengapa ekonomi hanya dikuasai oleh segelintir elit? Mengapa perempuan direndahkan martabatnya?

Di sinilah “Iqra” menjadi literasi awal yang menggugah kesadaran sosial dan kesadaran kelas. “Iqra” bukan sekadar membaca teks, tetapi membaca kondisi.

Dalam ilmu psikologi dan sosiologi pendidikan sering dikatakan bahwa literasi sejati bukan hanya membaca kata, tetapi membaca dunia. Dengan demikian, “Iqra” adalah metode berpikir dan menganalisis realitas sosial.

Perintah ini mendorong manusia untuk membaca kondisi masyarakat Arab Quraisy yang berada di bawah penindasan para elitnya—arogansi tokoh-tokoh seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufyan, dan Umayyah bin Khalaf.

Namun dalam perintah tersebut juga terdapat dimensi ilahiah yang melampaui akal manusia, yaitu “Iqra bismi rabbik”—bacalah dengan nama Tuhanmu. Inilah fondasi pembenahan sosial dengan tujuan pembebasan dari kejahiliyahan dan kebodohan sistemik.

Membaca realitas dengan ruh ketuhanan akan melahirkan keberanian untuk membebaskan manusia dari penindasan. Ia juga menjadi pondasi psikologis yang kuat: ketika membaca realitas dengan nama Tuhan, maka tidak ada kezaliman yang perlu ditakuti.

Spektrum ilahiah yang dimunculkan adalah ketauhidan—sebuah keyakinan yang sebenarnya telah ada, tetapi tertutup oleh hegemoni gengsi, nafsu, dan ambisi. Tauhid membangkitkan kesadaran tentang makna kemanusiaan sekaligus membangun mentalitas pembebasan sejati.

Sosiolog dan pemikir Islam Ali Shariati pernah mengatakan:

“Struktur tauhid tidak dapat menerima pertentangan kelas, penindasan sosial, atau ketimpangan politik. Islam adalah gerakan untuk kemajuan sosial, kesadaran diri, dan perjuangan demi keadilan.”

Ia juga menyatakan:

“Di dalam Al-Qur’an, jalan Allah (Sabilillah) identik dengan jalan rakyat (Sabilin-nas). Apa yang diperuntukkan bagi masyarakat, itulah yang menjadi milik Allah.”

Ketika Bilal melantunkan kalimat tauhid “Ahad, Ahad, Ahad…”, secara psikologis itu merupakan deklarasi kemerdekaan. Kalimat tersebut menjadi guncangan besar yang menggoyahkan sistem sosial masyarakat Quraisy.

Literasi tauhid menghancurkan inferiority complex kaum tertindas sekaligus meruntuhkan superiority complex kaum penindas.

Namun “Iqra” tidak cukup berhenti pada perdebatan intelektual atau diskusi akademik yang jauh dari kesadaran sosial. Dari kesadaran itulah lahir aksi dan perjuangan.

“Iqra” akhirnya membangun kesadaran kolektif. Gerakan ini mula-mula diikuti oleh kelompok yang tertindas: para budak, kaum dhuafa, para pemuda yang muak dengan sistem yang ada, serta kaum perempuan. Kemudian, gerakan ini juga diikuti oleh sebagian kalangan bangsawan dan para cendekiawan.

Karena itu, merayakan Nuzulul Qur’an seharusnya menjadi momentum untuk mempertanyakan kembali daya nalar kritis kita.

Jika bacaan Al-Qur’an kita tidak menimbulkan kegelisahan ketika melihat ketimpangan sosial, kemiskinan struktural, ketidakadilan hukum, atau eksploitasi alam, mungkin kita baru mengeja huruf-hurufnya, tetapi belum membaca pesannya. Maka wajar jika kesadaran tidak terbangun dan aksi tidak pernah lahir.

Penutup

“Hiasi dirimu dengan ilmu, karena ia akan menjagamu; sedangkan harta, engkaulah yang harus menjaganya.”

“Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi, sedangkan ilmu tanpa iman bagaikan lentera di tangan pencuri.”

Kedua ungkapan ini menegaskan pentingnya Iqra’ Bismi Rabbik—membaca dengan kesadaran ketuhanan—agar ilmu tidak disalahgunakan untuk menindas manusia.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Gelar Haji Oleh: Isngadi Marwah Atmadja Sabtu, 1 Juni 2024 yang lalu penulis menghadiri Pembukaan ....

Suara Muhammadiyah

9 July 2025

Wawasan

Krisis Ideologis atau Krisis Regenerasi Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hi....

Suara Muhammadiyah

4 March 2026

Wawasan

Iman dan Amal Shaleh: Benteng Kuat dari Budaya Konsumtif  Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Bud....

Suara Muhammadiyah

12 December 2024

Wawasan

Anak Saleh (6) Oleh: Mohammad Fakhrudin  Di dalam “Anak Saleh”  (AS) 5 telah....

Suara Muhammadiyah

28 August 2024

Wawasan

Oleh: Nur Ngazizah, S.Si. M.Pd يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱ�....

Suara Muhammadiyah

29 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah