KULON PROGO, Suara Muhammadiyah – Cakupan ajaran Islam begitu luas dan komprehensif. Semuanya diatur demikian rupa, termasuk menyangkut hidup rukun bersama tetangga.
Bahkan disebut Gita Danu Pranata, Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, instruksi dalam Al-Qur’an begitu benderang (Qs an-Nisa ayat 36).
“Memuliakan tetangga tidak harus menunggu kita menjadi orang kaya. ’Omahmu pagerono mangkok ojo tok pageri bongkok’,” ujar Gita.
Makna adagium jawa itu berarti anjuran untuk selalu berbagi dan berbuat baik kepada tetangga serta lingkungan sekitar. Demikian dikemukakan Gita, Ahad (18/10) saat Pengajian Ahad Pon di Aula Balai Kalurahan Bumerejo, Lendah, Kulon Progo.
“Jangan Menyakiti Tetangga (ojo gawe lara ati),” tegasnya, seraya menukil riwayat al-Bukhari, bahwa Rasulullah memberikan peringatan keras tentang orang yang menganggu tetangganya.
Dalam menjalani kehidupan bertetangga, Gita minta jangan ada jarak. Sebab, semuanya egaliter dan harus menghidupkan kolektivitas. Baginya, ini menjadi jangkar utama untuk memperkuat kerukunan dan kebersamaan di tengah masyarakat.
“Dalam bahasa Jawa, kita mengenal semangat sambatan / rewang, yaitu saling membantu ketika ada pekerjaan atau kebutuhan yang tidak mudah ditangani sendirian,” ujar Gita, yang juga Wakil Ketua PWM DIY.
Di situlah ajaran kehidupan gotong royong menemukan titik temunya. “Gotong royong adalah kekuatan masyarakat kita,” katanya. Implementasinya dapat dilakukan dengan pelbagai macam, misal Ketika selokan tersumbat, maka turut membersihkannya bersama. Ketika ada warga sakit, maka yang dilakukan adalah dengan menjenguk dan meringankan bebannya.
“Ada pekerjaan yang berat jika dikerjakan seorang diri, tetapi menjadi ringan ketika dilakukan bersama. Begitu pula dengan kehidupan. Keluarga yang menghadapi kesulitan mungkin merasa tidak sanggup. Namun, ketika tetangga datang membantu, bebannya terasa lebih ringan,” jelasnya.
Karenanya, Gita menyebut ada lima fundamental yang mesti diejawantahkan dalam kehidupan, lebih-lebih menjalani kehidupan bertetangga. Pertama, Ojo lali srawung. Jangan lupa bergaul dan menyapa tetangga.
“Jangan sampai hanya aktif di dunia maya, tetapi tidak mengenal orang di sebelah rumah,” katanya.
Kedua, Ojo gampang nesu. Jangan mudah marah. Jika ada masalah, tenangkan diri dan bicarakan baik-baik. Ketiga, Ojo seneng ngrasani. “Jangan gemar membicarakan keburukan orang. Jika belum jelas kebenarannya, jangan disebarkan,” terang Gita.
Keempat, Ayo padha tulung-tinulung. Mari saling menolong sesuai kemampuan, tanpa mempermalukan orang yang membutuhkan. Kelima, Ayo njaga lingkungan. Mari menjaga kebersihan, keamanan, ketertiban, dan kenyamanan bersama.
“Lima kebiasaan ini dapat menjadi langkah kecil menuju lingkungan yang lebih berkemajuan. Kita tidak perlu menunggu menjadi ketua RT, tokoh masyarakat, atau orang kaya untuk memulainya. Setiap keluarga memiliki kesempatan untuk menebarkan kebaikan,” tandas Gita. (Cris)

