Pancasila Nyawa Utama Indonesia

Suara Muhammadiyah

16 August 2024

1927
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr H Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr H Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr H Haedar Nashir, MSi menyebut, Indonesia merdeka yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 memiliki denyut nadi perjalanan sarat sejarah. Hal itu tampak dari eksistensi perjuangan segenap pejuang bangsa yang niscaya memberi jiwa dan nyawa dalam diri kepribadian bangsa.

"Nyawa utama Negara Republik Indonesia adalah Pancasila," sebutnya dalam Pidato Kebangsaan HUT ke-79 Republik Indonesia, Jumat (16/8).

Pancasila, lanjut Haedar, digali dari rahim sejarah kehidupan bangsa. Pancasila mengandung nilai-nilai fundamental yang sangat penting dan berharga bagi hajat hidup bernegara.

"Pancasila adalah dasar, ideologi, dan falsafah bangsa," ujarnya. Menukil pandangan Soekarno, Pancasila dikategorisasikan sebagai “philosophische grondslag”. Lebih lanjut, juga disebut Weltanschauung atau pandangan dunia. Yakni konsep dasar filsafat yang mengacu pada persepsi mengenai dunia luas serta menjadi kerangka kerja tentang ide dan kepercayaan bangsa Indonesia dalam menafsirkan dunia dan berinteraksi  dengannya.

"Pancasila menjadi rujukan utama yang menentukan misi, visi, arah, tujuan, dan cita-cita luhur Negara Republik Indonesia. Agar perjalanan Negara Indonesia mesti berada di jalur yang benar dan tidak salah arah," tuturnya.

Jika Indonesia maju di segala bidang kehidupan, sambung Haedar, maka kemajuannya niscaya bertumpu di atas jiwa dan kepribadian Pancasila. "Bukan kemajuan fisik dan kemajuan serba boleh berdasarkan hasrat orang perorang yang tidak sejalan dengan Pancasila," tegasnya.

Dengan spirit kemerdekaan, Haedar mengajak segenap warga bangsa untuk berefleksi. Merayakan kemerdekaan tentu mengandung rasa gembira sebagai ekspresi kesyukuran atas karunia Tuhan yang sangat berharga. Namun kegembiraan mesti disertai penghayatan akan makna merdeka dan nilai-nilai dasar yang menjadi nyawa Indonesia agar kegembiraan itu tidak bersifat lahiriah semata.

"Pancasila niscaya menjadi praktik hidup berbangsa dan bernegara yang luhur dan utama. Wujudkan dan praktikkan Pancasila dalam kehidupan politik, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan kebijakan-kebijakan publik secara nyata," tuturnya.

Sedemikian rupa substansialnya Pancasila, momentum kemerdekaan hendaknya menghayati dan mengejawantahkan nilai-nilai dasar itu yang menjadi nyawa Negara Republik Indonesia. Jangan berhenti di kulit luar dan kesemarakkan lahiriah semata.

"Bangunlah jiwa Indonesia agar lahir Indonesia Raya yang bernyawa. Yakni Indonesia yang benar-benar merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur sebagai tujuan dan cita-cita nasional yang digoreskan para pendiri negara. Bawalah negara dan bangsa tercinta ini pada cita-cita luhurnya yang mulia," tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Muhadj....

Suara Muhammadiyah

11 September 2024

Berita

TEGAL, Suara Muhammadiyah - Prestasi membanggakan kembali diraih civitas academica Universitas ....

Suara Muhammadiyah

21 November 2025

Berita

GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah – Pengajian Syawalan dan Pelepasan Jamaah Haji 1446 H Warga Mu....

Suara Muhammadiyah

21 April 2025

Berita

BENGKULU, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bengkulu, akan menggelar Musyawarah Pim....

Suara Muhammadiyah

10 February 2025

Berita

AMSTERDAM, Suara Muhammadiyah - Kedutaan Belanda memberikan apresiasi kerja Muhammadiyah dalam upaya....

Suara Muhammadiyah

1 June 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah