Paradoks Konsumsi di Bulan Ramadhan, Antara Ketaqwaan dan Ilusi kelimpahan
Oleh: Ratna Arunika
Salah satu kebahagiaan ketika berpuasa adalah menyambut datangnya waktu berbuka tiba. Suara perut sudah menabuh genderang, siap diisi dengan beragam makanan dan minuman.Meja berbuka penuh makanan, mulai dari gorengan, asinan, kolak, rendang hingga makanan kekinian. Semua seolah ingin dituntaskan dalam waktu singkat, seakan-akan lapar harus dibayar lunas sekaligus.
Namun dibalik sukacita saat berbuka, kita sering melupakan dampak makanan sisa yang tak mampu kita habiskan. Ratusan juta ton makanan terbuang setiap tahunnya. Dan itu semakin meningkat saat kita “balas dendam” setelah menahan lapar seharian. Jika boleh merenung sejenak, apakah lapar yang kita tahan sejak subuh benar-benar melatih jiwa, atau justru memindahkan hasrat ke sore hari?
Lapar mata
Saat kita menahan lapar, pikiran kita tertuju pada jenis makanan apa yang akan kita makan saat berbuka nanti. Kondisi emosianal ini membuat kita menjadi “Lapar mata.” Padahal, yang muncul sering kali bukan lapar fisik, melainkan dorongan emosional untuk mengunyah dan merasakan. Kita sebenarnya bisa berhenti, tetapi keinginan melihat dan memiliki
makanan membuat batas itu kabur. Dorongan ini memunculkan hasrat membeli makanan berlebihan hanya karena tergoda melihatnya.
Pada saat kita berpuasa, tubuh sebenarnya tidak “kehabisan tenaga”. Tubuh justru sangat pintar menyesuaikan diri. Proses penyesuaian ini disebut adaptasi metabolik. Terjadi pergeseran sumber energi. Saat kadar gula darah menurun, hati mengambil cadangan gula yang disimpan dan mengubahnya kembali menjadi energi. Setelah itu, tubuh mulai membakar lemak sebagai sumber tenaga. Proses ini membantu tubuh menggunakan energi dengan lebih efisien dan membuat kerja insulin menjadi lebih baik.
Selama berpuasa produksi ghrelin oleh lambung meningkat. Ghrelin (hormon lapar) meningkat saat perut kosong, mencapai puncaknya menjelang berbuka. Hormon ini memberi sinyal ke otak bahwa tubuh butuh energi. Efeknya memicu perilaku makan
berlebihan saat berbuka karena dorongan energi yang cepat. Peningkatan ghrelin saat puasa bukan sekadar tanda bahwa kita lapar. Ia juga bagian dari mekanisme alami tubuh untuk menjaga keseimbangan metabolisme dan memperbaiki sensitivitas insulin.
Pada saat berpuasa menahan diri dari makan dan minum. Secara biologis otak mengatur ulang reseptor dopamin, sehingga lebih sensitif dan responsif terhadap hadiah kecil dan aktivitas sederhan. Puasa meningkatkan sensitivitas otak terhadap isyarat makanan, membuat makanan terasa lebih nikmat saat berbuka.
Lapar mata yang dipengaruhi peningkatan hormon ghrelin dan dopamin ini mendorong perilaku impulsif membeli takjil ataupun makanan berat melebihi kebutuhan konsumsi pribadinya.
Saat perut kosong, tubuh dan otak masuk ke mode “bertahan hidup”. Dalam kondisi ini bagian otak yang mengatur emosi dan dorongan menjadi lebih aktif dibandingkan bagian yang mengatur logika dan pertimbangan rasional. Karena itu, muncul “anomali” perilaku ketika seseorang berbelanja dalam keadaan lapar. Fokusnya menyempit pada dorongan mengisi kekosongan, sehingga jumlah yang dibeli kerap melampaui kebutuhan sehingga ada kecenderungan berbelanja makanan lebih banyak dari biasanya.
Ilusi Keberlimpahan
Terlalu banyak pilihan makanan yang ditawarkan disekitar kita menjelang berbuka membuta kita sulit menentukan prioritas utama kebutuhan yang kita perlukan. Inilah yang disebut dengan paradoks pilihan. Membuat keputusan pembelian berdasarkan emosional sesaat.
Promo digital dan flash sale bergam produk makanan yang melintas dil lini masa kita semakin memperkuat rasa urgency untuk memicu proses emosional cepat sebelum otak sempat berpikir panjang. Ketika kita melihat iklan “diskon berakhir dalam 1 jam lagi” membuat otak merasa ada ancaman kehilangan kesempatan, sehingga membuat keputusan
impulsif.
Flash sale memberi sensasi seperti menang atau berburu hadiah. Saat berhasil checkout sebelum waktu habis, otak melepas dopamin. Ini membuat pengalaman belanja terasa menyenangkan dan ingin diulang. Dalam kondisi lelah dan lapar, efek urgency ini bisa menjadi dua kali lebih besar.
Dalam budaya Indonesia, makanan bukan sekedar konsumsi. Namun simbol keramahan, kecukupan ekonomi, dan penghormatan pada tamu. Menyajikan makanan sederhana kadang ditafsirkan sebagai “tidak pantas” atau kurang menghargai. Dalam teori normative influence orang cenderung menyesuaikan perilaku agar diteima secara sosial. Maka menyediakan lebiih banyak makanan terasa lebih aman secara sosial daripada dianggap kurang. Terlebiih lagi dalam acara sosial seperti berbuka puasa bersama.
Ketika pilihan melimpah dan harga terasa terjangkau, otak cenderung mengambil jalan pintas dalam mengambil keputusan. “kalau tersedia banyak, berarti wajar mengambil banyak.” Inilah yang disebut denga ilusi keberlimpahan. Padahal kebutuhan kita akan konsumsi tidak bertambah banyak hanya karena tampilan yang ditawarkan banyak. Tetapi karena mata mempengaruhi pikiran dan melihat tawaran yangn berlimpah, membuat batas antara cukup dan berlebih menjadi kabur.
Ironi Spiritual
Ramadhan seharusnya menjadi masa tenang untuk menata ulang segala hasrat dan keinginan. Siang hari kita belajar menahan. Menahan kata, amarah, dan keinginan .Kita menahan lapar bukan sekedar menunda makan, tetapi melatih jiwa agar mampu berkata cukup. Namun ketika adzan maghrib tiba, sunyi berubah menjadi riuh. Meja makan penuh, pilihan berlimpah, tangan tergesa mengisi piring dan gelas dari yang mampu dihabiskan.
Pada titik ini, mungkin kita perlu bertanya pelan-pelan. Lapar macam apa yang sebenarnya kita rasakan? Benarkah itu semata lapar fisik, atau ada lapar lain yang lebih sunyi—lapar akan rasa aman, pengakuan, dan terlihat cukup?. Jika puasa tidak mengubah cara kita memandang makanan, mungkin yang kita tahan hanya lapar fisik bukan lapar keinginan. Sebab ketaqwaan tidak hanya tampak pada lamanya ibadah, tetapi juga pada kesederhanaan piring yang bersih tanpa sisa.
Ketaqwaan Ekologi dan konsumsi berlebih
Kita sering memaknai ketaqwaan sebagai hubungan vertikal. Namun kita jarang menyadari bahwa ketaqwaan juga memiliki dimensi horizontal, bajkan ekologis. Ia tidak berhenti di sajadah, tetapi hingga ke piring, ke keranjang belanja, hingga tempat sampah. Kita sering mengira sisa makanan hanyalah urusan dapur. Padahal secara global, pemborosan pangan menyumbang sekitar 8-9% emisi gas rumah kaca dunia.
Data KLHK menunjukkan timbunan sampah nasional mencapai sekitar 68–70 juta ton pertahun. Hampir 45% di antaranya adalah sampah organik. Artinya, lebih dari 31 juta ton makanan terbuang setiap tahun—dan jumlah itu meningkat sekitar 15% selama Ramadan.
Setiap nasi yang terbuang menyimpan jejak karbon dari pupuk di sawah, solar di traktor, energi, kerja keras petani, hingga metana yang dilepaskan saat ia membusuk di tempat pembuangan akhir.
Membuang makanan bukan sekedar tindakan boros, melainkan juga keputusan ekologis yang berdampak pada bumi yang kita huni bersama. Padahal kita manusia mempunyai tanggung jawab untuk menjaga bumi yang kita huni ini dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah:30
وَاِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلٰٓٮِٕكَةِ اِنِّىۡ جَاعِلٌ فِى الۡاَرۡضِ خَلِيۡفَةً ؕ قَالُوۡٓا اَتَجۡعَلُ فِيۡهَا مَنۡ يُّفۡسِدُ فِيۡهَا وَيَسۡفِكُ الدِّمَآءَۚ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ
وَنُقَدِّسُ لَـكَؕ قَالَ اِنِّىۡٓ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ٣٠
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah 1 di bumi". Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui."
Dan manusia bukan pemilik mutlak bumi, melainkan penjaga yang bertanggung jawab sebagaimana dikuatkan dalam ayat lain:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.”
(QS. Al-A’raf: 56)
Sementara itu tujuan puasa dijelaskan dengan sangat jelas dalam Qs. Albaqarah:183 untuk membentuk pribadi yang bertaqwa. Yang berarti sadar bahwa setiap tindakan kita akan dimintai pertanggungjawaban. Puasa melatih kita menahan diri bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari sikap berlebihan.
Jika puasa melatih pengendalian diri, maka hasilnya harusnya terlihat dalam cara kita hidup, termasuk cara kita mengkonsumsi. Allah SWT juga berfirman,”Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebiihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
(QS. Al-A’raf:31)
Rasulullah ﷺ pun mengajarkan kesederhanaan dalam makan. Beliau bersabda bahwa sebaiknya manusia tidak memenuhi perutnya secara berlebihan (HR. Tirmidzi). Bahkan dalam hadis lain, beliau menganjurkan tetap menanam pohon meski kiamat hampir tiba (HR. Ahmad). Ini menggambarkan tanggung jawab menjaga kehidupan dan lingkungan.
Jadi, puasa bukan hanya ibadah pribadi. Ia adalah latihan untuk menjadi manusia yang lebih sadar, lebih bertanggung jawab, dan lebih bijak dalam menggunakan apa yang ada di bumi. Jika kita benar-benar memahami puasa, maka ketaqwaan itu tidak hanya terlihat dalam doa, tetapi juga dalam cara kita mengambil makanan secukupnya dan tidak menyia-nyiakan nikmat yang telah diberikan.
Ramadhan datang membawa pesan tentang batas. Tentang mengenali kapan tubuh membutuhkan dan kapan nafsu mengambil alih. Dalam jebakan kecemasan konsumsi yang halus, batas itu menjadi kabur. Yang berlebih terasa wajar. Yang sederhana terasa kurang.
Ironinya bukan pada makanannya, melainkan pada jarak antara makna dan kenyataan. Kita menahan diri di siang hari, tetapi belum mampu membebaskan diri dari dorongan memilih di malam hari, kita mungkin sudah belajar tentang empati terhadap lapar, tetapi belum begitu menghayati belajar merasa cukup. Tentang menyadari bahwa ketaqwaan tidak selalu tampak pada meja yang penuh, melainkan pada hati yang tidak lagi cemas oleh kekurangan semu.
Sebab pada akhirnya, yang diuji bukan seberapa lama kita tidak makan, tetapi seberapa dalam kita memahami arti kebutuhan.

