YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Penggalan Mars Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang berbunyi “Niat telah diikrarkan, kitalah cendekiawan berpribadi” menggema khidmat dalam rangkaian pelantikan Pimpinan Cabang IMM Abdul Rozak Fakhruddin (PC IMM AR Fakhruddin) Kota Yogyakarta Periode 2025/2026. Kegiatan berlangsung di Amphiteater Gedung Abdul Rozak Fakhruddin B lantai 5 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan menandai transisi kepemimpinan dari periode 2024/2025 menuju kepengurusan baru periode 2025/2026.
Sebanyak 26 kader resmi dilantik dan dikukuhkan sebagai struktural dan fungsionaris PC IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta untuk melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi. Dari jumlah tersebut, 21 kader merupakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dari berbagai fakultas dan program studi, sementara sisanya berasal dari perguruan tinggi Muhammadiyah dan perguruan tinggi negeri lainnya di Yogyakarta, 27 Februari 2026.
Dalam sambutan perpisahannya, Ketua Umum periode 2024/2025, IMMawan Bramastha Alfanda Subroto, S.Ked, menyampaikan refleksi simbolik atas momentum pelantikan. Ia mengibaratkan hari tersebut sebagai “dua kelahiran”, kelahiran seorang bayi yang ia saksikan saat menjalani koas di rumah sakit, dan “kelahiran ideologis” kader-kader baru yang dilantik. Ia menegaskan bahwa pimpinan cabang yang dilantik merupakan kader terpilih yang siap melanjutkan kepemimpinan organisasi. Ia juga menitipkan kader IMM AR Fakhruddin di UMY, UNJAYA, dan UNISA kepada kepemimpinan baru, seraya mengingatkan bahwa pimpinan cabang tidak pernah sendiri karena Allah SWT senantiasa membersamai perjuangan mereka.
Ketua Umum terpilih periode 2025/2026, IMMawan Shidiq Setyo Adhi Nugroho, menekankan pentingnya kesiapan beradaptasi dalam masa transisi kepemimpinan. Ia mengajak seluruh pimpinan untuk menyesuaikan diri sebagai pribadi yang berpikir dan bertindak layaknya pimpinan cabang. Ia juga menegaskan bahwa peningkatan kapasitas diri harus berjalan seiring dengan amanah jabatan. “Jangan sampai jabatan meningkat, tetapi kapasitas diri tidak ikut berkembang,” ujarnya. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya meneguhkan niat berorganisasi sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT.
Sementara itu, Ketua Umum DPD IMM DIY, IMMawati Mayda Dwi Hadiyanti, S.Sos, dalam sambutan pelantikannya menegaskan bahwa kepemimpinan baru harus dimaknai sebagai kelanjutan dari fondasi perjuangan periode sebelumnya. Ia mengajak kader menjadikan nama besar Abdul Rozak Fachruddin sebagai refleksi kepemimpinan dengan meneladani kesederhanaan, keteguhan moral, dan konsistensi prinsip. Ia menyampaikan tiga pesan utama bagi pimpinan cabang, memperkuat integritas kepemimpinan, mempertajam analisis serta menjaga kemerdekaan gerakan, dan membangun kolaborasi strategis yang berdampak bagi masyarakat.
Menutup rangkaian sambutan, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, H. Aris Madani, M.Pd.I, menegaskan bahwa bergabung dengan IMM merupakan pilihan sadar untuk menjadi kader persyarikatan sekaligus kader bangsa. Menurutnya, IMM bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan ruang pembentukan intelektual berintegritas yang siap menjadi penggerak perubahan.
Ia menekankan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang menuntut pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran serta harus diniatkan sebagai ibadah. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivisme organisasi dan tanggung jawab akademik. Dalam pandangannya, IMM AR Fakhruddin harus menghadirkan kepemimpinan transformatif yang visioner, membumi, dan berdampak nyata bagi masyarakat Kota Yogyakarta.
Penguatan Ideologi dan Intelektualisme
Sementara itu, Dr. Bakhtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., MPA, selaku Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP Muhammadiyah sekaligus Sekretaris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, menghadiri pelantikan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Abdul Rozak Fakhruddin (PC IMM AR Fakhruddin) Kota Yogyakarta Periode 2025/2026. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan keynote speech yang menegaskan arah strategis kaderisasi IMM di tengah perkembangan organisasi yang kian luas dan kompleks.
Dr. Bakhtiar mengapresiasi pertumbuhan IMM yang kini hadir hampir di setiap kampus di Yogyakarta. Menurutnya, pertumbuhan kuantitas tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kualitas kontribusi kader dalam memperkuat trilogi IMM sebagai gerakan keislaman, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan. Ia menegaskan bahwa kekuatan utama IMM terletak pada nalar intelektualisme yang harus terus dipertajam dan dijaga keberlanjutannya.
Ia mengingatkan bahwa tingginya intelektualitas kader harus berjalan seimbang dengan penguatan ideologisasi keislaman dan kemuhammadiyahan. Tantangan IMM hari ini bukan sekadar meningkatkan daya kritis, tetapi memastikan keseimbangan antara puritanisme nilai keislaman dan progresivisme pemikiran agar gerakan tetap selaras dan berkarakter.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya endurance atau daya tahan kader dalam berorganisasi. Menurutnya, kader IMM perlu memiliki ketahanan dalam proses, kesabaran dalam pengabdian, serta komitmen jangka panjang di Persyarikatan. Ia mengingatkan bahwa keberlanjutan kepemimpinan Muhammadiyah sangat bergantung pada kader yang istiqamah dan tahan berproses.
Dalam konteks peran strategis IMM, ia menegaskan bahwa organisasi ini harus menjadi lumbung intelektualisme Muhammadiyah. IMM diharapkan mampu menyuplai pemikiran kritis, gagasan keilmuan, serta wacana intelektual yang memperkaya gerakan Muhammadiyah di masa depan. Ia juga mendorong kader untuk memperkuat tradisi literasi, diskusi, dan produksi gagasan sebagai fondasi gerakan intelektual.
Selain itu, ia menekankan pentingnya pemahaman nilai-nilai Muhammadiyah sebagai landasan gerakan, di antaranya tauhid yang murni, semangat Islam rahmatan lil ‘alamin, sikap moderat, serta pencerahan melalui ilmu pengetahuan. Nilai-nilai tersebut harus terintegrasi dalam pemikiran, sikap, dan tindakan kader.
Menutup paparannya, Dr. Bakhtiar mendorong kader IMM untuk menjaga keseimbangan antara gerakan aksi dan pengayaan intelektual. Aktivisme tetap penting, namun harus disertai refleksi, diskursus, dan tradisi membaca agar melahirkan kader progresif yang kuat secara ideologi, intelektualitas, dan etos perjuangan. (MAF)

