YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Keberadaan kader menjadi jantung dari sebuah organisasi. Demikian penegasan Aris Madani, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta.
Baginya, upaya mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya memerlukan subyek atau pelaku gerakan, yakni anggota Muhammadiyah. "Anggota Muhammadiyah yang memiliki kualitas dan tugas tertentu adalah kader," tegasnya.
Dengan demikian, dinamika suatu organisasi dan masa depannya tidak bisa lepas dari keberadaan anggota dan kader, disamping selalu terkait dengan fungsi kepemimpinan dan sistem yang dimilikinya.
"Karena itu perhatian terhadap anggota dan kader termasuk melalui pemberdayaan dan pendayagunaannya, menjadi bagian yang melekat dari program dan agenda Persyarikatan yang berkesinambungan," bebernya.
Kader dalam bahasa Prancis les cadre, maksudnya anggota inti yang menjadi bagian terpilih dalam lingkup dan lingkungan pimpinan. Kader juga berarti jantung suatu organisasi.
"Jika kader dalam suatu organisasi lemah, maka lemah pula seluruh kekuatan kepemimpinan," tekannya dalam Pengajian Ramadhan 1447 H PDM Kota Yogyakarta, Sabtu (7/3) di Graha Ibnu Sina SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta.
Karena itu, Aris mengingatkan, daya juang organisasi ini sangat bergantung pada kadernya yang berkualitas, berwawasan, militan dan penuh semangat.
"Seorang kader adalah individu yg dengan seluruh jiwa dan raganya diperuntukkan untuk organisasi yang diikutinya," ulasnya.
Dengan demikian kader sangat penting bagi organisasi Muhammadiyah yang menyatakan sebagai organisasi kader. Dan ini harus ditopang dengan adanya kader kader yang qualified.
"Selain akan menjadikan organisasi bergerak dinamis, kader kader juga dapat menjadikan kepemimpinan organisasi menjadi segar dan energik," jelas Aris.
Karena itulah, Muhammadiyah sebagai organisasi kader harus selalu memperhatikan dengan serius mengenai proses kaderisasi yang dijalankan.
"Kita harus terus memperkuat dakwah dan perkaderan Muhammadiyah demi keberlangsungan peradaban. Kita harus menjadi contoh yang baik bagi masyarakat, dengan akhlak yang mulia, ilmu yang bermanfaat, dan amal yang shaleh," tandasnya.
Di lain sisi, Ketua MPKSDI PDM Kota Yogyakarta Dedi Rustandi mengingatkan, Rakerwil Majelis MPKSDI se-DIY menegaskan komitmen penguatan kaderisasi Muhammadiyah melalui target melahirkan 100 kader baru dalam satu periode kepemimpinan.
Program strategis tersebut akan dibagi kepada lima PDM di DIY. Dengan pembagian itu, setiap PDM memiliki tanggung jawab untuk melahirkan sekitar 20 ribu kader baru selama satu periode.
"Kalau PDM kota ada empat belas cabang, sehingga memiliki kewajiban upaya untuk melahirkan kader tiap cabang 1.428 selama lima tahun. Dan kalau saya hitung per tahun diupayakan menghasilkan kader baru itu 286," urainya.
Program ini menjadi fokus utama MPKSDI PDM Kota Yogyakarta untuk memastikan keberlangsungan gerakan Muhammadiyah melalui kader-kader yang berkualitas dan berkomitmen.
"Tanggung jawab kader ini tidak hanya PDM, tapi Amal Usaha. Jadi yang dimaksud kader itu bukan siswa, tapi kader betul-betul kader yang bisa berkiprah di lapangan atau bisa berkiprah di setiap kegiatan di ranting, cabang, maupun daerah," tekan Dedi.
Wakil Ketua PWM DIY Ahmad Nur Ghojali menjadi sangat penting untuk menumbuhkan kader-kader baru di lingkungan Persyarikatan. "Pengkaderan menjadi penting bagi tumbuhnya Persyarikatan," ujarnya.
Lebih-lebih di Kota Yogyakarta, sebagai etalase Muhammadiyah tingkat nasional. Di sinilah tantangan PDM Kota Yogyakarta, untuk melahirkan tunas-tunas baru kader Persyarikatan.
Di lain sisi, Kepala SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta Retno Sumirat sangat senang sekolahnya menjadi tuan rumah Pengajian Ramadhan kali ini.
"Kami ucapkan terima kasih kepada PDM Kota Yogyakarta yang telah mempercayakan tempat Pengajian Pimpinan pada Ramadhan 1447 Hijriah ini di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta," tukasnya. (Cris)
