Pemberdayaan Masyarakat sebagai Kunci dari Demokrasi yang Berdaya dan Bermakna

Publish

19 December 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
292
Refleksi Akhir Tahun dan Bedah Buku "Sengkarut Pilkada Potret Penyelesaian Sengketa Diskualifikasi Calon Kepala Daerah" di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakrta. Foto: Cris

Refleksi Akhir Tahun dan Bedah Buku "Sengkarut Pilkada Potret Penyelesaian Sengketa Diskualifikasi Calon Kepala Daerah" di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakrta. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Demokrasi sebagai bagian integral dari pemberdayaan masyarakat. Melalui partisipasi aktif warga dalam pengambilan keputusan, demokrasi membuka ruang bagi suara-suara yang selama ini terpinggirkan.

Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Nurul Yamin mengutarakan hal ini saat Refleksi Akhir Tahun dan Bedah Buku "Sengkarut Pilkada Potret Penyelesaian Sengketa Diskualifikasi Calon Kepala Daerah" yang ditulis oleh Irvan Mawardi.

Acara ini berlangsung di Lantai 3 Aula Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakarta, Jumat (19/12).

"Demokrasi pada realitanya sering disangkutpautkan dengan konteks partisipasi. Pun demikian, juga sering dikaitkan dengan kemandirian dan subjek atau integritas," ujarnya.

Maka, sambung Yamin, pemberdayaan masyarakat sesungguhnya sebagai upaya untuk mengangkat dan mengungkit potensi masyarakat agar memiliki spirit partisipasi.

"Tidak apatis, memiliki spirit untuk menjadikan subjek," terangnya, yang juga menekankan sebagai ruang untuk mengatasi masalah.

 "Bukan menjadi bagian dari masalah," sambungnya dengan tegas. Di sinilah kemudian letak substansial dari buku tersebut.

"Melalui sebuah kajian yang cukup lama penulis akan memberikan perspektif lain," jelasnya.

Dalam acara tersebut, hadir Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. Secara khusus, Haedar menyoroti kata refleksi sebagai metode reflektif yang sering dikaitkan dengan kajian-kajian yang menggunakan teori substantif dan kualitatif, meniscayakan upaya mencari makna dibalik peristiwa di dalamnya.

"Yang harus kita gali, yang kita tidak boleh terjebak pada fenomena permukaan. Dibalik permukaan itu ada sesuatu yang substantif," bebernya, yang menekankan hal itu tidak tunggal.

"Cara memandangnya tidak bisa oleh satu sudut pandang, kecuali untuk satu aspek dengan sudut pandang itu," jelasnya.

Dalam konteks itu, dibutuhkan pendekatan multidimensional. Yang menurut pandangan Sartono Kartodirdjo, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, sebagai perspektivisme. "Melihat persoalan dari berbagai perspektif," ulasnya.

Acara ini menghadirkan Ketua KPU RI Mochamad Afifudin, Ketua Komisi II DPR RI M Rifqinizamy Karsayuda, Bendahara MPM PP Muhammadiyah Nasrullah, Pakar Hukum Tata Negara Zainal Arifin Mochtar, Akademisi Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Pembina Perludem Titi Anggraini. (Cris)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Lazismu Jawa Tengah terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan ....

Suara Muhammadiyah

20 April 2024

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan tah....

Suara Muhammadiyah

25 January 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah - Kajian Rutin Gerakan Subuh Mengaji (GSM) menghadirkan seorang narasumb....

Suara Muhammadiyah

10 November 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) ....

Suara Muhammadiyah

25 February 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Kiprah Muhammadiyah dalam berbagai sektor seperti pendidikan, keseh....

Suara Muhammadiyah

15 March 2024